Mei 2006


JANJI panitia Gelar Budaya Sulsel untuk menampilkan mumi dalam pameran budaya, diwujudkan. Dua sosok mumi berjenis kelamin laki-laki yang dibawa oleh Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala dan dipamerkan di Gedung Natiro Mata, mulai 27 Mei hingga 29 Mei.
DUA sosok mayat laki-laki dengan tulisan Mumi di dekat kepala dan kakinya, terbujur kaku dalam sebuah kotak kaca berukuran 100×80 cm. Dari pintu Gedung Natiro Mata, kedua mumi itu sulit terlihat. Pasalnya, di sisi kiri maupun kanan tempatnya dibaringkan, puluhan warga berdiri dan saling berdesakan untuk mengabadikannya.
(lebih…)

KEDATANGAN para pakar sejarah, arkeolog, budayawan dan tokoh masyarakat di gedung PKK Enrekang bukanlah hal yang biasa, namun kali ini keberadaan para pemerhati ini akan memaparkan suatu kajian kebudayaan Massenrempulu dalam bentuk seminar kebudayaan. Tampil beberapa pembicara dalam seminar ini adalah Prof Dr Abu Hamid, Dr Hedi H Putera, Dr Iwan Sumantri, H Udhin Palisuri dan Dr Bambang Rujito untuk turut memberi arti kepada nilai sebuah perjuangan menyangkut nurani etnis Massenrempulu.
(lebih…)

ENREKANG,Upeks—Setelah dijemput tarian tradisional Pajjaga dari Enrekang yang menggambarkan kemenangan serta ucapan selamat datang, tim tamu dari pejabat pusat TK 1 juga disuguhi penampilan tarian Pasalonreng Kab Maros. Bertempat di Lapangan Abubakar Lambogo Batili perwakilan 6 kabupaten dari etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar dan Massenrempulu mengikuti berlangsungnya pembukaan secara resmi gelar budaya sul sel 2006 oleh Gubernur HM Amin Syam. Berbagai atraksi seni budaya ditampilkan termasuk hadirnya simponi 761 orang peniup suling bambu tradisional “musik bambu” Masenrempulu yang melantunkan instrumentalia “surgana Bambapuang”, (Enrekang).

Tello Bena (Mandar), Anging Mamiri (Makassar) Indo Logo (Bugis) dan Tamapare (Toraja) dipimpin oleh Dirjen Utama Hamin SPd.
Informasi dari panitia pusat diketahui pengelaran seni budaya diliputi media elektronik dan cetak nasional maupun daerah pariwisata dengan Pemkab Enrekang yang pelaksanaannya didukung UPT kebudayaan Sul Sel, Balai arkeologi Makassar, Balai peninggalan purbakala makassar, Balai kajian sejarah dan nilai tradisional Makassar, Akpar Makassar serta jurusan arkeologi Unhas. Tampak hadiri Dirjen terkait (Dr Sri Hastanto), staf ahli Menteri Pariwisata dan kebudayaan (Ir Firmansyah), Dirut tradisi pusat (IGN Wija SH), Gubernur Sul Sel (HM Amin Syam), Bupati Enrekang (H La Tinro La Tunrung), para Bupati, perguruan tinggi, budayawan (Udhin Palisuri dkk) dan kalangan mahasiswa.
Bupati Enrekang dalam kata sambutannya mengatakan,”Tanah massenrempulu memiliki sejarah, bahasa, tradisi, adat istiadat, serta kesenian tersendiri dengan potensinya sangat besar selama ini kurang terkaji bahkan sebagian sudah punah. Sejak 3 tahun terakhir Pemda telah mengidentifikasi 40 jenis tradisi yang berkembang di Enrekang, dengan dialek dan bahasa Endekan, Maiwa, Duri dan Pattinjo secara sosial budaya telah membuktikan keberadaan nilai sejarah budaya khas Massenrempulu. Hal tersebut sangat diharapkan menjadi momentum berharga untuk menggali dan lestarinya sejarah-budaya sul sel khususnya budaya Massenrempulu”. Menyimak harapan Bupati Enrekang tersebut Gubernur HM Amin Syam dengan bijak mengatakan,”lahirnya suatu etnis tidak perlu menunggu lahirnya menyadari pemerintah dan wilayahnya tokoh-tokoh masyarakat, karena munculnya etnis itu adanya yang mengakui dari suku-suku yang lain. Gelar budaya ini sul sel khususnya membuktikan tidak adanya perbendaan justru mempunyai tujuan mulia untuk silaturrahim saling kenal antar etnis, sebagai jati diri, membangun semangat dan perekat persatuan”. (syamsul)

Enrekang, Tribun — Gubernur Sulsel M Amin Syam akan membuka pameran gelar budaya se-Sulsel di Lapangan Abubakar Lambogo, Battili, Kabupaten Enrekang, Sabtu (27/5).
Semula, panitia mengagendakan pameran budaya ini dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Namun, Jero Wacik dikabarkan berhalangan.
Pameran budaya yang berlangsung 27-30 Mei ini akan menampilkan tari-tarian budaya yang mewakili etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan Masserempulu.

Pemkab Enrekang akan memanfaatkan acara ini untuk memperkenalkan etnis Masserempulu yang hidup dan berkembang di daerah ini.
Pemkab Enrekang turut mengundang beberapa budayawan nasional serta arkeolog internasional untuk menghadiri kegiatan ini. Acara ini akan diliput media asing, CNN dan NHK (Jepang).
Staf Kepala Sub Bidang Inkom Enrekang Eka Febriansyah menyebutkan, Rabu (24/5), pameran ini akan menampilkan juga sejumlah benda dan barang bernilai sejarah termasuk mummi atau manusia yang diawetkan berukuran 40 cm.
Enrekang menjadi tuan rumah pameran budaya ini karena dianggap memiliki situs purbakala yang bernilai tinggi. Daerah ini juga pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1995. (rip)


Makassar, Tribun — Untuk kali pertama, Gelar Budaya Sulawesi Selatan akan digelar 27-30 Mei 2006 mendatang. Kabupaten Enrekang menjadi tuan rumah hajatan tersebut. Inilah hajatan yang boleh dibilang terakbar dari seluruh acara budaya yang pernah dilaksanakan di daerah ini.
Pasalnya, pada acara tersebut rencananya akan melibatkan sedikitnya 1.500 pelaku seni dan budaya. Mereka akan tampil mempertunjukkan atraksi budaya dari masing-masing etnis di Sulsel yakni Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, dan Massenrempulu (Maiwa, Duri, dan Enrekang). Acara ini akan dibuka Gubernur Sulsel Amin Syam.

Hal itu terungkap dalam konferensi pers yang digelar Panitia Gelar Budaya Sulsel 2006 di Aula Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Selasa (23/5). Hadir pada jumpa pers ini di antaranya Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Sulselra AM Said M Hum dan Irfan Mahmud MA dari Balai Arekologi Makassar (BKM).
Gelar Budaya Sulsel 2006 itu merupakan kegiatan terpadu antara Direktorat Tradisi Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI serta Pemerintah Kabupaten Enrekang. Didukung UPT kebudayaan di Sulsel, yakni BKM, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, Akademi Pariwisata, serta Jurusan Arkeologi Univeritas Hasanuddin. (jum)

Enrekang — Tahun ini Pemkab Enrekang menganggarkan Rp100 miliar untuk peningkatan status jalan. Angka ini cukup besar, mengingat APBD Enrekang totalnya Rp300 miliar lebih.
Hal ini dikemukakan
Ketua Bappeda Enrekang, Djajadi Silamma, saat berkunjung ke redaksi Fajar, Kamis, 18 Mei kemarin. Menurutnya, peningkatan status jalan mutlak dilakukan, mengingat Enrekang merupakan sentra agropolitani.

“Potensi ekonomi yang paling menonjol di Enrekang adalah pertanian dan perkebunan. Percuma saja petani menghasilkan langsat yang baik, tapi mereka sulit memasarkannya hanya karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan,” jelas Djajadi.

Djajadi menambahkan, pada 2005, telah direalisasikan 1,7 km jalan yang tersebar di berbagai daerah, terutama di daerah terpencil. Sedangkan untuk 2006, ditingkatkan lagi menjadi 2,4 km.

“Pengawasan yang ketat juga diberlakukan selama proses peningkatan status jalan tersebut. Banyak rekanan yang dikenakan sanksi, karena tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak,” ujarnya.

Dia mencontohkan, bila dalam proyek jalan rekanan hanya menyelesaikan 4 km dari 5 km yang direncanakan, akan dikenakan denda. Bahkan bila ada yang melakukan pelanggaran berat, rekanan bisa di-blacklist.

Parepare, Tribun — Seorang guru SD dari Enrekang, Gaffar Kawaru, terpilih menjadi guru terbaik versi PKS dalam pemilihan guru teladan dalam rangkaian milad kedelapan partai ini di Gdung Islamic Centre, Parepare, Minggu (14/5).
Gaffar menerima tropi dan piagam penghargaan serta uang tunai sebesar Rp 2,5 juta dari penyelenggaran PKS Award I Milad VII PKS Sulsel.
Anggota dewan juri Yanuardi Syukur mengatakan, Gaffar terpilih menjadi guru terbaik karena kegigihan dan keuletannya dalam menjalankan profesi sebagai guru.

Penilaian ini juga didasarkan pada pengalaman kerja Gaffar selama menjadi guru, di mana tetap menjalankan tugas mengajar meski banyak mengalami kesulitan dan tantangan.
“Dia mengajar di tempat terpencil. Sepulang sekolah dia juga mengajar mengaji di masjid. Dia juga pernah menjadi relawan dengan gaji Rp 7.000 per tahun,” jelas Yanuardi.
Gaffar harus berjalan kaki dari pagi hingga sore untuk mengambil gajinya di kantor dinas pendidikan. Tempat dia mengabdi ditempuh dengan waktu sembilan jam jalan kaki dari kantor dinas pendidikan kecamatan.
Pemberian penghargaan kepada guru teladan se-Sulsel ini merupakan acara puncak milad kedelapan PKS Sulsel yang di Parepare.
“Kita ingin memperlihatkan apreasiasi partai terhadap pendidikan terutama guru. Begitu pentingnya pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap moral bangsa ini. Kita ingin kembalikan jati diri bangsa ini,” jelas Sukirman. (rip)

Diresmikan Akhir Mei untuk Pusat Pembinaan Olahraga

Makassar, Tribun — Masyarakat Enrekang akan memiliki sebuah stadion berkapasitas 5.000 penonton. Stadion yang akan dijadikan sebagai pusat kegiatan dan pembinaan keolahragaan skala daerah itu akan diresmikan penggunaannya akhir Mei mendatang.
Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung sebagaimana dilansir Antara menjelaskan di Makassar, Senin (15/5), stadion ini dibangun dengan dana APBD Sulsel, APBD Enrekang, dan APBN 2004/2005 bernilai total Rp 2,6 miliar.

Menurut La Tinro, stadion ini sebenarnya diresmikan dan menjadi pusat kegiatan lomba musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat provinsi April lalu. Namun karena stadion ini masih perlu pembenahan di bagian tribun, maka peresmiannya ditunda hingga akhir Mei.
Stadion yang belum diberi nama ini dibangun di Kelurahan Lewaja, sekitar lima kilometer dari Kota Enrekang. Fasilitas olahraga ini dilengkapi dengan mes atlet.
Kehadiaran stadion ini, diharapkan prestasi olahraga Enrekang di Porda mendatang bisa naik ke papan tengah. Prestasi atlet daerah ini pada Porda ke-16 di Kabupaten Luwu tahun 2004 belum menggembirakan.
“Kita tidak punya target yang muluk-muluk di Porda Bone. Kami bertekad untuk memperbaiki peringkat ke papan tengan dari 23 kabupaten dan kota yang ambil bagian di even tersebut,” jelas bupati.
Menurut La Tinro, kehadiran stadion tersebut juga akan menggairahkan kembali klub-klub persepakbolaan di daerah ini yang jumlahnya hampir mencapai 30 klub.
Pemerintah kabupaten Enrekang tahun ini juga merencanakan membangun Gedung Olahraga (GOR) multi fungsi sebagai pelengkap stadion mini tersebut yang diharapkan diresmikan Gubernur Sulsel M Amin Syam sebelum akhir tahun 2006. (rip)

Enrekang, Tribun — Pemerintah Kabupaten Enrekang akan menggelar pameran budaya di Lapangan Batili Kota Enrekang, 27-30 Mei mendatang.
Kegiatan ini menampilkan beragam budaya yang berkembang di Susel dan memperkenalkan etnis Masserempulu.
Kabupaten Enrekang yang ditunjuk menjadi tuan rumah pameran budaya di Sulsel memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan etnis Masserempulu yang berkembang di Enrekang.

Keberadaan etnis Masserempulu bagi masyarakat Kabupaten Enrekang disebutkan La Tinro selama ini telah mendapat kajian dan penelitian secara ilmiah oleh lembaga yang peduli budaya di Makassar.
Selama ini, di Sulsel dikenal etnis Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja. Karena itu, ajang ini dijadikan untuk memperkenalkan etnis Masserempulu. (rip)

Dinodai Pencurian Umur Peserta

Sudah menjadi rahasia umum bagi para pembina, setiap berlangsung MTQ Provinsi. Berbagai cara dilakukan oleh ofisial dan pimpinan kafilah untuk meloloskan peserta menjadi juara.
Saya ingat peristiwa MTQ di Takalar delapan tahun yang lalu soal pencurian umur. Peristiwa yang hampir sama terjadi di Selayar tahun 2003 dan di Bantaeng sebelum MTQ Selayar.

Kepala Kanwil Departemen Agama Sulsel, Iskandar Idy, menegaskan bahwa yang terlibat tentang pemalsuan umur atau identitas, maka pejabat Depag akan ditindak. Saat mulai frekuensi pelanggaran menurun drastis.
(lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.