Juni 2007


Data Pemilih Sementara Sulsel Masih Bermasalah

Makassar, Tribun — Data pemilih hasil revisi Biro Bina Dekonsentrasi (dekon) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ternyata masih bermasalah. Sebuah desa di Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, tercatat hanya memiliki calon pemilih sebanyak 65 orang. Angka itu dinilai sangat tidak masuk akal karena sebelumnya, jumlah pemilih di Desa Sudu, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang sebanyak 2.700 orang. Karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel untuk sementara menunda pelaksanaan pencocokan dan penelitian (coklit) calon pemilih.

Anggota KPU Sulsel Ridwan Jhonny Silamma kepada Tribun di ruang kerjanya, Rabu (27/6), mengungkapkan, setelah melakukan pemantauan di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang, ia menemukan sejumlah masalah pelik khususnya mengenai data pemilih.

“Masa di Enrekang Ketua KPU-nya Tamsil Koto tidak tercatat sebagai calon pemilih. Ini kan aneh namanya, padahal semua orang yang memenuhi syarat wajib pilih berhak untuk didata,” kata mantan wartawan ini. KPU baru akan melakukan coklit calon pemilih setelah seluruh data dari daerah diterima dari Biro Dekon Sulsel dan seluruh anggota panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan panitia pemungutan suara (PPS) terbentuk di daerah. Rencananya, anggota PPK dan PPS akan dilantik oleh KPU pada minggu pertama bulan Juli mendatang. Pelantikan anggota PPK dan PPS akan dirangkaikan dengan pelaksanaan bimbingan teknis bagi para anggota PPK dan PPS ini.

Tiap TPS Maksimal 600 Pemilih
JUMLAH tempat pemungutan suara (TPS) yang akan digunakan pada Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) Sulawesi Selatan (Sulsel) dipastikan lebih sedikit ketimbang pemilihan presiden 2004 lalu. Setiap TPS akan ditempati sekitar 600 pemilih.
Pada pilpres lalu, jumlah TPS yang digunakan sebanyak 22 ribu yang tersebar di seluruh wilayah Sulsel dan Sulbar. Sedangkan pada pilkada yang akan digelar 5 November nanti, jumlah TPS yang diusulkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel sebanyak 12.990-an TPS. Khusus Kabupaten Pangkep, KPU setempat meminta tambahan tujuh TPS lagi yang akan ditempatkan di beberapa pulau terjauh di wilayah pangkep. Penduduk di wilayah yang umumnya berbatasan dengan provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur ini diberi kebijakan satu pulau satu TPS. (rex)

Parepare, Tribun — Laga semifinal antara tuan rumah Persipare Parepare melawan Gasma Enrekang di Stadion Gelora Mandiri, Selasa (26/6), terpaksa dihentikan di menit 55 akibat kerusuhan yang melibatkan pemain kedua tim dan penonton.
Panitia memutuskan melanjutkan sisa pertandingan selama 35 menit di tempat yang sama, Rabu (27/6) pukul 08.00 wita, tanpa penonton.

Bentrokan terjadi dua kali pada pertandingan yang untuk sementara dimenangkan tuan rumah 1-0 berkat gol yang dicetak Mugianto di menit 19.
Bentrokan pertama terjadi usai wasit Saada meniup peluit turun minum. Belum sempat meninggalkan lapangan, Saada diserang pemain Gasma yang kecewa dengan kepemimpinan wasit.
Saat aparat keamanan dan panitia mengamankan aparat pertandingan menuju ruang ganti, bentrokan lain terjadi antarpendukung dua kesebelasan.
Pendukung Gasma yang umumnya menempati tribun tertutup kanan terlibat aksi saling lempar dengan pendukung Persipare yang menempati tribun utara.
Aksi saling lempar botol air minum yang melayang di atas tribun VIP itu berlangsung sekitar 15menit sebelum aparat keamanan berhasil mengendalikan situasi.
Saat jedah, kubu Gasma bersama para pendukungnya terus menerus berteriak meminta wasit Saada digantikan di babak kedua.

Wasit Diganti
Demi pertimbangan keamanan, Ketua Panitia Habibie Cup 2007 Andi Faizal A Sapada, mengabulkan permintaan kubu Gasma. Namun masalah belum juga selesai.
Saat pemain dua kesebelasan memasuki lapangan, wasit tidak muncul. Wasit dan hakim garis trauma mendapat perlakuan kasar dari pemain, ofisial tim, serta para penonton.
Setelah panitia bersama aparat keamanan meyakinkan keselamatan wasit di babak kedua, mereka baru keluar. Sesuai permintaan kubu Gasma dan Persipare, Saada kemudian digantikan oleh Dadang Talani.
Kerasnya permainan kedua tim membuat Dadang harus mengeluarkan kartu kuning untuk pemain Persipare Junaid Ge’ly.
Lagi-lagi, pemain Persipare dan Gasma melakukan protes besar-besaran hingga ofisial dan pemain cadangan pun ikut masuk mengeroyok wasit pengganti itu.
Saat suasana tidak terkendali meskipun aparat keamanan sudah masuk melerai, pemain Gasma, Muzakkir, berhasil melayangkan tendangan ke dada kanan Dadang yang memaksanya mengeluarkan kartu merah.

Wasit Mogok
Tidak terima rekannya diganjar kartu merah, pemain, ofisial, hingga pelatih Gasma Ayyub Khan pun ikut masuk ke lapangan.
Seluruh perangkat pertandingan akhirnya meninggalkan lapangan menuju ruang ganti dengan pengawalan ketat oleh aparat keamanan meski terus menerus dikejar kubu Gasma.
Tim asuhan Ayyub itu pun sempat meninggalkan lapangan dan mengancam tidak akan melanjutkan pertandingan. Tapi tidak lama berselang, mereka kembali masuk dan siap bertanding.
Kali ini, wasit menolak untuk memimpin pertandingan karena menilai para pemain sudah tidak bisa lagi menahan diri.
“Kejadian pengeroyokan terhadap kami sudah terjadi dua kali. Tidak ada jaminan kami bisa selamat karena pemain sepertinya tidak ingin main bola tapi hanya ingin berkelahi dan memukuli kami,” kata Dadang.
Setelah berembuk dengan manajer kedua tim, aparat keamanan, dan panitia, akhirnya diputuskan untuk melanjutkan pertandingan keesokan harinya, Rabu (27/6), pukul 08.00 wita.

saling lempar di habibie cup

  • Saat turun minum, Saada didatangi dan dipukuli pemain Gasma
  • Pendukung Persipare dan Gasma terlibat saling lempar
  • Babak kedua tertunda sekitar 35 menit akibat aksi mogok Gasma dan wasit
  • Memasuki babak kedua, keributan kembali terjadi setelah Muzakkir (Gasma) diganjar kartu merah karena menendang wasit
  • Panitia dan inspektur pertandingan memutuskan melanjutkan pertandingan tanpa penonton, pagi ini. (mih/rip)

PAREPARE — Ambisi PSM Makassar dan Perspin Pinrang untuk meraih Piala Bergilir Habibie Cup yang sudah lama lepas gagal. Dalam pertarungan di babak perempat final (delapan besar) di Stadion Gelora Mandiri Parepare, Senin 25 Juni, kedua tim tersebut tersingkir setelah kalah dari lawan-lawannya lewat drama adu penalti.PSM yang bermain imbang 0-0 di babak normal takluk dari Gasma Enrekang dengan skor 0-2 dalam adu penalti. Empat eksekutor PSM dari lima yang disiapkan, yaitu Aditya Putra Dewa, Iqbal Amir, M Aidil, dan Suhardi, tak berhasil melesatkan gol dari titik putih. Nakir yang menjadi eksekutor kelima PSM tak menendang karena PSM sudah kalah 0-2.

Sementara dari lima penendang Gasma Enrekang, Akbar Mallarangan, Muzakkir, Anto, Risman, serta Ichsan, dua di antaranya sukses mengeksekusi bola penalti. Keduanya adalah Akbar dan Ichsan. “Kekalahan ini lebih karena faktor mental pemain saja. Pemain-pemain kami yang masih muda belum bisa mengatasi tekanan,” dalih pelatih PSM, Bahar Muharram.

Hal senada diungkapkan manajer PSM, Yusuf Gunco. “Pemain sudah bermain luar biasa sepanjang pertandingan. Namun, dewi fortuna lebih berpihak pada lawan,” katanya.

Meski menang, pelatih Gasma Ayub Khan memberikan pujian ke PSM. “PSM main bagus. Namun pemain kami lebih matang dan punya pengalaman,” ujar Ayub.

Pada pertandingan jam kedua, Perspin juga dipaksa out dari turnamen ini setelah kalah dari PS Sandeq Polman. Mereka takluk 3-4 setelah melalui drama adu penalti. Di babak normal, kedua tim bermain imbang 1-1. Sandeq unggul lebih dulu lewat gol Irianto pada menit ke-26 dan dibalas Supardi di menit ke-56. Saat adu penalti, Perspin hanya memasukkan dua gol, sementara Sandeq memasukkan tiga gol.

“Dari awal, saya memang sudah menyiapkan algojo penalti. Antisipasi kami ternyata berbuah hasil positif. Kami bisa menang dan melaju ke semifinal. Untuk permainan di babak normal, anak-anak sedikit tegang. Buruknya lapangan juga membuat stamina mereka cepat drop,” kata pelatih Sandeq, Ahmad Syukri.

Kubu Perspin sangat kecewa dengan kekalahan ini. Apalagi, tim Bakka Lolona Sawitto baru ikut kali ini setelah tujuh tahun absen dari turnamen paling akbar di Sulsel ini. “Tim kami sudah berjuang maksimal. Tapi keberuntungan tak berpihak ke Perspin,” ujar pelatih Perspin M Saleh Subhana. (amr)

KUBU Persim Maros sepertinya menyadari betul posisinya yang di ujung tanduk. Tak heran, jika mereka khawatir Perspin Pinrang dan Gasma Enrekang yang bertanding pada partai penentuan, 22 Juni akan memainkan sepak bola gajah –sebuah istilah di Indonesia yang dipakai untuk sebuah pertandingan yang skornya sudah diatur.

“Kami berharap mereka (Gasma dan Perspin, red) tidak memainkan sepak bola gajah. Karena itu, mereka tetap harus main normal dan mengedepankan fair play,” kata pelatih Persim, Syamsuddin Battola.

Menangggapi hal itu, pelatih Gasma, Ayub Khan menepis adanya niat untuk memainkan sepak bola gajah untuk menggugurkan Perspin. “Dalam kamus saya, tidak ada istilah main mata. Kami tetap akan menjunjung tinggi sportivitas,” tegas Ayub.

Pelatih Perspin M Saleh Subhana juga mengaku tidak pernah memikirkan pengaturan skor dengan Gasma. Karena itu, timnya tetap akan bermain normal dan berusaha untuk menang.

“Kami akan tampil habis-habisan. Karena partai ini memang sangat menentukan. Kami juga sudah menyiapkan sedikit pembenahan di tim untuk meredam Gasma,” janji Saleh. (amr)

Tauziyah dan Silaturahmi Aziz di Enrekang

MAKASSAR–Silaturahmi dan tablig akbar yang digelar kandidat gubernur Koalisi Keumatan dan Kebangsaan, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar di Malua, Enrekang, Sabtu malam berlangsung meriah. Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung dan sejumlah pejabat pemkab Enrekang bahkan turut hadir dalam kegiatan itu.Juru bicara Koalisi Keumatan dan Kebangsaan, Andi Mariattang mengatakan selain bupati, beberapa camat dan kepala desa juga berbaur dengan ribuan jemaah yang memadati tablig akbar itu.

“Ini menjadi kunjungan silaturahmi Pak Aziz yang paling meriah. Di Enrekang memang pak Aziz rutin menggelar pengajian dan tablig akbar,” kata Mariattang.

Di samping tablig akbar, Ketua Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Sulsel itu juga menggelar tauziyah dari masjid ke masjid.

Mariattang menambahkan dalam kunjungannya ke bumi massenrempulu itu, Aziz menginap di rumah Camat Sudu, Kamaruddin. Di kampung itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sulsel ini juga menyampaikan ceramah subuh di masjid.

Dalam orasinya, Aziz mengatakan Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan sosial politik masyarakat.

Sunatan Massal

Minggu kemarin, Aziz menghadiri sunatan massal gratis 100 anak-anak kaum dhuafa di kampus pondok pesantren Hidayatullah kompleks Bumi Tamalanrea Permai. Pondok pesantren ini memang didirikan Aziz.

Menurut Mariattang, kendati digelar di pondok pesantren milik Aziz, kegiatan sosial Minggu kemarin itu bersih dari nuansa politis. Tidak ada sama sekali spanduk dan atribut Aziz Qahhar-Mubyl Handaling yang dipajang. (har)

MAKASSAR–Sejumlah pejabat kabupaten di Sulsel mengaku sudah siap mencairkan gaji ke-13 kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pejabat negara dalam lingkup kerja mereka. Kesiapan pemkab se-Sulsel itu, ditegaskan kepada Fajar, kemarin.Seperti diinformasikan sebelumnya (baca Fajar edisi Sabtu 16 Juni) pembayaran gaji ke-13 sudah dipastikan setelah keluarnya Perdirjen Perbendaharaan Depkeu No Per-33/PB/2007. Meski demikian, peraturan yang telah diteken Dirjen Perbendaharaan Depkeu Herry Purnomo itu, diakui pemerintah kabupaten belum dikantongi.

Asisten III Pemkab Pinrang, Islamuddin SH MH, mengatakan, pihaknya telah mengalokasikan anggaran senilai Rp12 miliar yang diperuntukkan bagi PNS dan penjabat negara.

Meski demikian, pembayaran tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat ini. Pasalnya, kata dia berargumen, pihaknya belum mendapatkan petunjuk dari pusat terkait dengan pembayaran tersebut.

“Kami tinggal menunggu petunjuk dari pusat terkait dengan pembayaran tersebut. Kami pastikan, gaji-13 bakal dicairkan setelah petunjuk itu sudah ada di tangan kami,” ujarnya saat dikonfirmasi Fajar, kemarin.

Untuk merealisasikan janjinya, Islamuddin yang mengaku berada di Makassar saat dikonfirmasi memastikan jika pembayaran gaji-13 bakal dirampungkan pemerintah Kabupaten Pinrang bulan Juni ini.

Pernyataan senada disampaikan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Takalar, Dakhyar Daraba. Kata Dakhyar, pihaknya akan segera melakukan pembayaran jika sudah menerima surat petunjuk dari pusat. “Jika Senin (18 Juni) mendatang kita terima petunjuk (pusat), maka kita langsung bayar,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk tahun ini pihaknya menyediakan anggaran sebesar Rp11 miliar. Alokasi anggaran tersebut bakal dicairkan untuk membayar lima ribu pengawas plus guru-guru. Kendati demikian, jumlah ini belum mengalami pemotongan pajak.

“Bersihnya anggaran setelah jumlah itu dipotong pajak, hanya berkisar Rp9 miliar,” tambahnya.

Sementara Pemkab Enrekang baru akan membahas pembayaran gaji ke-13 tersebut pada Senin, besok. Bupati Enrekang, H Latinro Latunrung mengatakan, pihaknya belum mengambil langkah apa-apa terkait dengan pembayaran gaji-13 tersebut. Kendati demikian, dia tetap optimis jika pembayaran itu bakal dirampungkan pada bulan ini juga.

“Senin nanti (besok), mengenai jumlah anggaran dan batas waktu pembayaran baru akan ditentukan,” tukasnya.

Tahun ini, pemerintah kabupaten Enrekang bakal membayarkan gaji-13 terhadap 4.079 PNS dan penjabat negara. Rincian pembayaran ini terdiri atas tenaga guru berjumlah 1.759 orang, non guru 2.092 orang, dan petugas kesehatan berjumlah 228 orang.

Bagaimana dengan Pemkab Bulukumba dan Pemkab Bantaeng? Informasi yang diperoleh dari Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Bulukumba menyebutkan, Pemkab Bulukumba telah menyiapkan Rp14 miliar untuk pembayaran gaji ke-13 dalam lingkup Pemkab Bulukumba.

Pemkab Bantaeng pun sama, pemerintahnya telah menyiapkan dana Rp4 miliar. Informasi ini diperoleh dari Bagian Keuangan Pemkab Bantaeng.

Dari Sulawesi Barat (Sulbar) dilaporkan, pembayaran gaji-13 PNS di lingkup Pemprov Sulbar direncanakan baru dibayarkan pada awal Juli mendatang. Hal itu diungkapkan Kepala Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Sulbar, Samiran, kemarin.

“Bendahara Setda sementara menyusun rekapitulasi anggarannya berdasarkan jumlah PNS per SKPD. Rekapitulasi anggarannya kemungkinan telah dapat diketahui pekan depan,” jelas Samiran.

Kendati dibayakan bulan Juli mendatang, pemerintah setempat telah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk percepatan proses pembayaran.
“Demi efisiensi pembayaran, administrasinya dipusatkan di sekretariat daerah,” ujarnya.

Pembayaran gaji ke-13 tersebut, kata dia, juga sangat bergantung pada kecepatan bendahara masing-masing Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) memasukkan Surat Permintaan Pencairan Dana (SP2D).

“Gaji ke-13 ini telah diprogramkan dalam APBD 2007 Sulbar. Mekanisme pembayarannya akan dilihat kembali, apakah diserahkan ke masing-masing SKPD seperti pembayaran gaji bulanan atau dipusatkan di Setda untuk lebih mempercepat,” tandasnya. (cr7-k4-k3-nas-adn-sul)

Pare-Pare-Persaingan berebut posisi top skorer di hari ketiga Turnamen Habibie Cup XVII mulai terlihat. Saat ini, tiga nama menempati posisi teratas dengan koleksi dua gol. Ketiga pemain itu yakni, striker Gasma Enrekang, Akbar Mallarangan, striker Persipangkep, Iccang, serta gelandang Gasta Takalar, Rahimullah. Hanya saja, dari tiga nama itu, peluang Rahimullah hampir pasti tertutup.

Pasalnya, setelah takluk dari Persipangkep, Gasta harus tersingkir dari turnamen ini. Rahimullah sendiri, kemarin kembali mencetak satu gol cantik ke gawang Pangkep lewat tendangan kerasnya dari luar kotak penalti. Satu gol lainnya diciptakan Rahimullah lewat eksekusi bola mati ke gawang Persipare di laga pembuka even ini.

Iccang sendiri, di pertandingan perdana Persipangkep berhasil menyarangkan dua dari tiga gol ke gawang Gasta. Dua gol itu menempatkan dia sejajar dengan Akbar yang satu hari sebelumnya juga menciptakan dua gol bagi Gasma.”Saya bersyukur bisa menciptakan gol. Ini berkat strategi jitu pelatih dan bantuan teman-teman. Mudah-mudahan di partai berikutnya, saya bisa menambah pundi-pundi gol saya,” kata Iccang usai pertandingan kemarin.

Iccang sendiri bukan baru kali pertama mencicipi Habibie Cup. 2005 lalu, ia sempat membela PSM Makassar. Saat itu, pemain mungil ini berhasil mencetak lima gol. “Saya berharap bisa mencetak lebih banyak gol lagi. Ini penting untu mewujudkan ambisi saya menjadi top skor tahun ini,” ujarnya. (amr)

Jakarta, kompas – Pembangkit listrik mikrohidro mulai diminati oleh pemerintah daerah di wilayah Indonesia bagian timur. Sumber energi yang mengandalkan debit air dan ketinggian jatuhnya air pada sungai ini diharapkan bisa menjawab ketersediaan energi di daerah bagian timur Indonesia, terutama yang hingga kini belum teraliri oleh perusahaan listrik negara.

Kepala Bidang Kerja Sama Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arie Sudaryanto di Jakarta, Jumat (8/6), mengatakan, sejak tahun 2005 LIPI telah merintis pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) di Tanete, Desa Lebani, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Energi listrik yang dihasilkan sebesar 30 kilowatt dan mampu memfasilitasi listrik 24 jam kepada 100 keluarga. “Setelah LIPI berhasil membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro bersama-sama dengan pemerintah kabupaten, mereka belajar merencanakan dan mengonstruksinya sendiri. Mereka kemudian membangun empat unit PLTM, yaitu di Bungin, Potokulin, Baraka, dan Palakka Maiwa. Kini, Kabupaten Enrekang akan dicanangkan sebagai pusat pengembangan dan pelatihan PLTM di kawasan Indonesia bagian timur,” ujar Arie.

Selain Enrekang, daerah lain yang tertarik untuk mengembangkan PLTM adalah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). “LIPI sudah diminta mengembangkan PLTM di sana. Dan, sudah ada lima titik yang potensial untuk dibangun, yaitu di Weboot di Kecamatan Raihat, Lahurus di Kecamatan Lasiolat, dan di Kecamatan Lamaknen terdapat tiga titik potensial. Tahun ini, satu PLTM di Weboot dengan daya 20 kilowatt mulai dibangun,” kata Arie.

Di samping bersifat terbarukan, yaitu dengan memanfaatkan aliran air serta debit dan ketinggian jatuhnya air pada sungai kecil, PLTM juga bisa dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat. “Di Enrekang, listrik dikelola oleh kelompok masyarakat setempat: dari mulai organisasi, pembayaran bulanan penyambungan baru, pemeliharaan jaringan, pemeliharaan turbin, hingga konstruksi sipil,” ujarnya.

Jika dikerjakan secara swakelola, dana yang dibutuhkan untuk membangun PLTM sekitar Rp 30 juta per kilowatt.

Selain LIPI, menurut Arie, sejumlah LSM juga mulai gencar membangun PLTM. “Salah satunya adalah Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) di Sukabumi yang dipimpin oleh Tri Mumpuni. Mereka sudah mengembangkan PLTM di 50 tempat dan kami kira ini perkembangan positif di tengah defisit listrik yang melanda wilayah Indonesia,” ujarnya. (AIK)

Persim Maros vs Gasma Enrekang

Parepare, Tribun — Tim Gasma Enrekang asuhan Ayub Khan akan mengandalkan duet maut, M Saing alias Salas dan Akbar Mallarangan, menghadapi Persim Maros di partai pertama Pool B, Kamis (14/6) sore ini.
“Saya percaya kemampuan duet Salas-Akbar bisa diandalkan untuk menembus pertahanan lawan. Namun kami tak ingin sesumbar. Kami masih buta kekuatan Persim. Saya hanya tahu pelatihnya, Syamsuddin Batola,” kata Ayub.

Ayub yang datang membawa Gasma dengan target juara, menyebutkan, timnya akan tampil maksimal di laga perdananya melawan Persim yang diperkuat mantan pemain PSM, Zain Batola.
Sementara kubu Persim yang dimnajeri putra Bupati Maros, A Ilham Najamuddin, tak gentar menghadapi Gasma yang selama ini menjadi langganan peserta Habibie Cup.
“Kami juga datang dengan target juara di ajang ini. Jadi besok (hari ini) adalah laga penentu bagi kami. Kami siap tampil allout dan berjuang memetik kemenangan,” tegas ofisial Persim, Awaluddin Jamal.(rip)

prakiraan pemain:
Persim (3-5-2): Pavon; Rahmat, Aan, Zain Batola; Samuel, Imran, Syahrul, Darma, Irwanto Moses; Syamsuddin, Heri
Pelatih: Syamsudin Batola
Gasma (4-4-2): Yahya; Suaib Sudur, Risman, Jaelani, Muzakkir; Iccang, Irman, Yusri, Hendra; Salas, Akbar Mallarangan.
Pelatih: Ayub Khan

Persema Mamasa Janji Tampil Fight

Parepare, Tribun — Tim debutan Persema Mamasa yang mewakili Sulawesi Barat berjanji menampilkan laga seru menghadapi Persigowa Gowa untuk merebut poin di Pool C.
Sebagai peserta baru di Habibie Cup tahun ini, Persema datang dengan target dan motivasi khusus. Mereka ingin menjadi tim debutan yang mampu membuat kejutan.
Pelatih Persema Mamasa Pilemon bersama 20 pemainnya diamanahkan target yang sederhana di awal keikutsertaannya di Habibie Cup.
“Target awal kami bisa tembus delapan besar mengingat kami baru di ajang ini,” kata Pilemon.
“Jika lolos di babak tersebut barulah kita berhitung ke target selanjutnya. Jika kami sukses menembus delapan besar tentu tim kami akan diperhitungkan panitia untuk diundang lagi tahun depan,” jelasnya.
Melawan Persigowa yang cukup berpengalaman di Habibie Cup, Pilemon menargetkan merebut poin penuh. Sebab menurutnya laga perdananya tersebut sangat penting untuk melangkah ke babak selanjutnya.
“Saya sudah instruksikan kepada pemain agar tampil fight namun tidak menjurus kasar. Kami yakin pertandingan ini akan seru karena lawan kami juga baru mengikuti ajang ini,” paparnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Persigowa sempat absen di turnamen terbesar di Sulsel ini. Keikutsertaannya tahun ini pun terkesan dadakan dan tanpa target.

skuad inti persema mamasa
Kiper: Farhan; Belakang: Aco Riki, Domingus, Kasim; Tengah: Abd Hafid, Hamdi Wijaya, M Ilham, Mustafa, Hamdan; Depan: Muchlis, Marhaens
Pelatih: Pilemon
Manajer: Amos Pagundu (rip)

“Perdus” Anti-Rokok Disepakati Melalui Pertemuan Terbatas

IDE besar tak selamanya lahir dari pertemuan besar dan mewah. Tengoklah ide awal pemberlakukan “peraturan dusun (perdus)” larangan merokok di Dusun Bonebone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Hanya digagas tak lebih sepuluh orang, tapi “perdus” yang tak tertulis ini, mampu menyelamatkan ratusan jiwa penduduk agar tak tergoda dengan nikmatnya nikotin rokok.Laporan: Kasman ENREKANG

SEJAK lima tahun lalu, warga di Dusun Bonebone telah mengklaim diri sebagai kampung yang bebas nikotin. Klaim ini tentu tidaklah muluk-muluk. Buktinya, sejak kesepakatan lisan ini diterapkan, tak satupun warga di kampung yang terletak di sekitar lereng Gunung Latimojong itu yang berani mengisap rokok.

Padahal, sekadar diketahui, kesepakatan warga Bonebone ini hanya digagas dalam sebuah forum yang terbatas sesama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat. Juga tak ada biaya lazimnya sebuah penyusunan peraturan daerah maupun undang-undang. Apalagi, studi banding. Maklum, warga di kampung ini mayoritas hanya berprofesi sebagai petani.

Meski hanya digagas dalam konsep yang sederhana, toh aturan bersama ini bisa ditaati seluruh warga kampung. Saking taatnya atas aturan larangan merokok ini, Dusun Bonebone seolah menjadi ikon baru bagi Kabupaten Enrekang dalam hal kampanye anti-rokok.

Ironisnya, meski sudah diberlakukan lebih lima tahun dan telah menyelamatkan ratusan generasi, namun perhatian pemerintah daerah, terasa belum maksimal, khususnya dalam hal pembenahan infrastruktur. Malah, Bonebone tetap menjadi dusun terbelakang di Enrekang.

Satu-satunya harapan cerah, sebab nama kampung ini sudah dikenal luas kalangan wisatawan mancanegara (wisman). Kebetulan, Enrekang memang menjadi daerah lintas para wisman yang hendak ke Tana Toraja. Jika para pelancong itu menyempatkan diri untuk mampir di Enrekang, mereka selalu bertanya tentang dusun anti-rokok ini.

Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Enrekang, Djuir Palisuri malah menceritakan, pernah suatu ketika ada rombongan turis datang ke dusun Bonebone dan melihat langsung aktivitas warga di sana. Hasilnya, bule-bule itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sebagai isyarat rasa kagum tradisi masyarakat Bonebone yang mengerti benar bahaya nikotin.

Kegaguman para wisman ini, lebih disebabkan oleh tradisi warga yang dinilainya sangat unik, dan mungkin tak ada bandingannya di dunia ini. Sebab, aturan larangan merokok, semisal di DKI Jakarta saja yang sudah dituangkan dalam bentuk peraturan daerah, hanya diberlakukan di tempat-tempat umum. Itupun masih tetap dilanggar.

“Saya melihat, ini hal yang luar biasa. Satu kampung taat dengan aturan yang disepakati bersama secara lisan dan tidak ada yang tertulis. Itupun ditaati warga secara terus menerus,” kata Djuir Palisuri.

Padahal, jika melihat tempatnya, Bonebone merupakan salah satu dusun yang memiliki cuaca dingin di Enrekang. Itu karena kampung ini ditutupi kabut. “Harusnya mereka tidak tahan kalau tidak merokok. Tapi nyatanya, justru menjadikan rokok itu sebagai lawan,” kata Djuir.

Lantas, bagaimana mulanya aturan larangan merokok ini digagas? Menurut warga di sana, pertemuan antartokoh masyarakat dilakukan di masjid Bonebone dan hanya dihadiri tujuh orang. Mereka merumuskan konsep ini selama tiga jam, tanpa perdebatan yang alot lazimnya sidang-sidang di lembaga legislatif.

“Kebetulan, saat itu tak berselang lama dengan datangnya bulan Ramadan. Sehingga sosialisasinya agak gampang,” kata Kepala Dusun Bonebone, Idris. Mulai saat itu, Idris bersama tokoh masyarakat yang lain gencar menyosialisasikan bahaya merokok. Dalam bahasa ala Enrekang mereka menyadarkan warga dengan jargon: seha’ki yake e’da ta mappelo’ mane yang artinya kurang lebih begini: Tidak merokok itu sehat saudara. (***)

Halaman Berikutnya »