November 2007


Terkait Keterlambatan Pembahasan APBD 2008

ENREKANG — DPRD Kabupaten Enrekang menilai pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2008, sudah sangat terlambat.Untuk itu, para wakil rakyat itu akan menyurati tim anggaran eksekutif. Sekretaris DPRD Enrekang HM Nur Said yang ditemui Fajar kemarin mengatakan bahwa surat tersebut akan dilayangkan dewan ke tim anggaran agar segera menyerahkan draft Kebijakan Umum Anggran (KUA) dan Prioritas Plapon Anggaran Sementara (PPAS) 2008 untuk dibahas.

“Sudah ada suratnya, kita mungkin besok (hari ini, red) sudah sampaikan ke tim anggaran eksekutif. Intinya dalam surat itu adalah meminta eksekutif segera menyerahkan draft KUA dan PPAS,” kata Nur Said.

Memang kata dia, jika melihat tahapannya, pembahasan APBD 2008 sudah mulur, karena harusnya KUA dan PPAS sudah ditetapkan, namun sampai saat ini belum dibahas. “Jadi memang sudah terlambat ini, makanya DPRD menyurati tim anggaran,” katanya.

Sekretaris tim anggaran eksekutif, Imram Mazmur yang dikonfirmasi mengatakan bahwa draft KUA tersebut sudah dalam tahap finalisasi. Bahkan kata dia, rencananya hari ini Jumat 30 November, draft KUA dan PPAS tersebut sudah akan diajukan ke dewan.

“Hari ini (kemarin) kita akan finalkan, dan insya allah besok (hari ini red) kita sudah serahkan ke DPRD, sesuai dengan tahapan yang kita susun sebelumnya,” ungkapnya. (k4)

ENREKANG — Dugaan penyelewengan bantuan sapi yang disalurkan Pemprov Sulsel ke Kabupaten Enrekang tahun 2006 lalu, kini telah menjadi polemik di kalangan masyarakat Enrekang, khususnya Kecamatan Maiwa.Untuk itu, Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Sulsel, Arifin Daud, turun ke lokasi
penyaluran sapi tersebut, yakni di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang, Kamis 29 November kemarin.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengundang Kadisnak Sulsel untuk datang ke Enrekang meluruskan masalah penyaluran sapi itu, karena hal ini lanjut dia, telah menjadi polemik di kalangan masyarakat sejak beberapa hari terakhir.

“Kita ingin agar masalah ini tuntas, makanya hari ini, Kepala Dinas Peternakan kami minta untuk datang ke lokasi memberikan penjelasan. Sekarang beliau (Arifin Daud, red) sudah dalam perjalanan ke Enrekang,” ujar Junwar kepada wartawan.

Junwar juga mengatakan bahwa, bantuan sapi yang diterima Kabupaten Enrekang tahun 2006 lalu, sebenarnya jumlahnya 530 ekor, namun dalam proses penyalurannya, sapi tersebut tiga kali tiba di Enrekang.”Saya lupa berapa rinciannya setiap tahapan, yang jelas dari 530 ekor itu, tiga kali tiba,” paparnya.

“Jadi data yang ditemukan polisi yang menyebutkan 150 ekor, itu mungkin hanya res ke dua, dan dari jumlah itu, semua kita salurkan sesuai peruntukannya, yakni kepada tiap kelompok tani. Jadi tidak benar kalau dikatakan salah sasaran,” kuncinya. (k4)

ENREKANG(Fajar) — Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Enrekang Zainuddin Musa, mendesak pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus dugaan penyelewengan bantuan sapi di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang.Legilsator Partai Demokrasi Indonesi Perjuangan (PDIP) Enrekang ini mengatakan bahwa, bantuan 150 ekor sapi yang diterima Pemkab Enrekang dari Provinsi tahun 2006 lalu itu, harus diselesaikan karena menyangkut kepentingan masyarakat. Untuk itu, pihak kepolisian harus menuntaskan kasus ini, agar ada kejelasan kepada masyarakat.

“Polisi harus mengusut kasus ini sampai tuntas, kalau memang ada penyelewengan, maka umumkan kepada masyarakat, dan kalau tidak ada, maka masyarakat juga harus tahu itu,” ujar Zainuddin kepada Fajar, di ruang kerjanya, Rabu 28 November.

Kasat Reskrim Polres Enrekang, AKP Muh Natsir yang dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya masih sementara melakukan penyelidikan di lapangan. Dalam waktu dekat kata dia, laporan perkembangan hasil penyeledikian itu, akan disampaikan ke Polda Sulsel dan Polwil Parepare. Natsir juga menambahkan bahwa pekan depan pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap sejumlah pihak yang dinilai terlibat dalam pembagian sapi ini.

Sekadar mengingatkan, bantuan sapi ini dinilai menyimpang karena permintaan pemerintah daerah ke Provinsi mengatasnamakan masyarakat atau kelompok tani, namun sapi tersebut malah disalurkan ke para guru salah satu pesantren di Maiwa.

“Minggu depan kita akan minta keterangan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, yang berisial dr Jn dan mantan camat Maiwa A Nt, serta beberapa Ketua Kelompok tani di Maiwa,” ujarnya. (k4)

ENREKANG — Ali, 9 tahun, salah satu murid SDN 45 Talaga Enrekang, tewas gara-gara menabrak sebuah mobil pick up yang melintang di tengah jalan di jalan lingkar Talag Kecamatan Enrekang, kemarin, sekitar pukul 08.00 Wita.Menurut saksi mata di TKP, Ali yang saat itu mengendarai sepeda, melaju dengan kecepatan tinggi, karena kondisi jalan yang menurun. Ali tidak mengetahui kalau ada sebuah mobil pick up yang melintang di tengah jalan.

Karena tidak dapat menguasai sepedanya, Ali menabrak mobil yang sedang membongkar mesin untuk mencapur semen proyek. Ali diduga tertimpa mesin pencampur semen. Bagian mulut dan kepalanya mengeluarkan darah. Menurut kesaksian warga di sekitar TKP, mobil Kijang berwarna hijau tersebut, posisinya memang menutup hampir seluruh badan jalan yang merupakan tanjakan.

“Saya lihat Ali melaju dan masuk di bawah mesin pencampur semen yang sementara diturunkan. Mobil memang meghalangi hampir seluruh jalan. Jadi sulit untuk dihindari,” ujar Kahar, salah satu saksi di TKP yang juga kerabat dekat korban.

Sebelum kejadian, ayah korban, Sallau, 35, sebenarnya membuntuti Ali dari belakang dengan menggunakan sepeda motor, namun dia baru mengetahui anaknya kecelakaan setelah tiba di TKP. Sallau saat itu langsung melarikan anaknya ke rumah sakit, namun nyawa Ali tidak terselamatkan. Pemilik mobil pick up sendiri, H. Bahuseng menyatakan bersedia untuk menanggung seluruh biaya perawatan Ali selama dirumah sakit hingga pemakamannya.

Kasus ini sementara dalam penanganan pihak kepolisian. “Kami sudah tangani untuk ditindak lanjuti,” ujar Kasat lantas Polres Enrekang, AKP Jamal kepada wartawan, kemarin. (k4)

ENREKANG(Fajar) — Gerakan penanaman sejuta pohon di Kabupaten Enrekang akan dimulai hari ini, Rabu 28 November, yang dipusatkan di Kecamatan Maiwa Desa Salo Dua, Enrekang.Dalam kegiatan perdana yang melibatkan seluruh unsur Muspida Enrekang termasuk organisasi wanita ini, jumlah bibit pohon yang akan ditanam khusus di desa tersebut,
mencapai 10 ribu batang.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Enrekang, Ir Sattu mengatakan bahwa jenis pohon yang akan ditanam dalam penanaman perdana ini, terdiri dari pohon pinus, Uru, Mahoni serta pohon durian dan rambutan.”Kita sengaja melibatkan berbagai pihak dalam kegiatan ini, agar supaya ada kepedulian dari semua kalangan untuk memelihara lingkungaan dan mengurangi pemanasan global,” ujar Sattu, kepada wartawan kemarin.

Setelah di Desa Salo Dua lanjutnya, penanaman pohon akan dilanjutkan di halaman Kantor Bupati dan semua kantor SKPD lingkup Enrekang, termasuk pada 11 Kecamatan yang ada di Enrekang.”Aksi tanam pohon ini juga dilakukan untuk menyongsong konferensi ke-13 UNFCCC di Bali pada Desember nanti,” kuncinya. (k4)

ENREKANG(Fajar) — Sebelum memasuki pembahasan anggaran 2008, anggota DPRD Kabupaten Enrekang mendapatkan pelatihan khusus dari Local Governance Support Program (LGSP) Enrekang, di Kantor DPRD Enrekang, kemarin. Pelatihan ini dihadiri oleh puluhan anggota DPRD dan beberapa staf dari Sekretariat DPRD.Dalam kesempatan itu, para legislator diajari tentang tahapan pembahasan APBD hingga proses pelaksanaannya. Para legislator juga diminta untuk lebih teliti dalamĀ  menjalankana fungsi pengawasannya, terutama dalam hal penggunaan anggaran di tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

“DPRD bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap APBD, yang diarahkan pada pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam APBD tersebut, tapi DPRD bukan melakukan pemeriksaan,” ujar Nasir, pemateri dari LGSP. (k4)

ENREKANG(Fajar) — Polres Enrekang menemukan indikasi penyelewengan bantuan sapi ternak dari Provinsi Sulsel untuk Kabupaten Enrekang tahun 2006 lalu. Hal ini diungkapkan Kasat Reskrim Polres Enrekang, AKP Muh Natsir kepada Fajar, di ruang kerjanya, Senin 26 November kemarin.Menurut dia, hasil penyelidikan di lapangan diketahui bahwa bantuan sapi yang diterima Pemkab Enrekang dari Provinsi tahun lalu, sebanyak 150 ekor. Namun 60 di antaranya dilaporkan sudah mati, sehingga yang tersisa saat ini hanya 90 ekor.

Indikasi penyimpangan itu lanjut Muh Natsir, terletak pada orang yang menerima bantuan sapi itu. Seharusnya kata Kasat, sapi tersebut diserahkan ke masyarakat Kecamatan Maiwa, selaku pihak yang membutuhkan. Namun kenyataan di lapangan, sapi tersebut justru diberikan kepada para guru di Kecamatan Maiwa. “Ini jelas menyalahi aturan, karena seharusnya diserahkan ke masyarakat, tapi kenapa diserahkan ke guru pesantren,” ungkapnya.

Pihak kepolisian dalam hal ini Polres menurut Natsir, sudah memanggil Dinas Pertanian untuk dimintai keterangan, namun dinas pertanian juga tidak tahu menahu soal ini, karena yang menangani langsung bantuan ini adalah pemerintah Proponsi. “Makanya kita akan koordinasi dengan pemerintah Provinsi, untuk mengust hal ini, yang jelas kami terus menyelidiki kasus ini,” janjinya.
Bahkan 60 ekor yang dilaporkan mati kata Natsir, juga patut dipertanyakan, apakah benar-benar mati atau tidak.(k4)

Kisah Kakek 50 Tahun yang Mengalami Gangguan Jiwa

SANGKAR biasanya hanya dijadikan sebagai tempat memelihara burung atau hewan peliharaan lainnya. Namun di Desa Panyura Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, justru manusia yang dimasukkan dalam sangkar.Laporan: Kasman

Sangkar besi bukanlah tempat yang layak bagi manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari, tapi Rahim yang saat ini sudah berusia sekitar 50 tahun, menjalani kehidupannya dalam kerangkeng atau sangkar besi selama 30 tahun terakhir ini.

Menurut informasi dari kerabat dekat pria malang ini, Rahim menderita gangguan jiwa sejak duduk di bangku kelas tiga SLTA. Berbagai pengobatan alternalif dilakukan untuk menyembuhkan Rahim. Sayangnya, penyakit tak kunjung pergi.

Tidak ada yang tahu pasti kapan tepatnya Rahim menjalani kehidupannya dalam sangkar besi berukuran sekitar 1 X 2 meter dan digembok rapat tersebut. yang jelas menurut informasi, bapak satu anak ini sudah berada dalam tempat itu sekitar tahun 1972.

Bahkan menurut cerita warga sekitar, saat anaknya yang diketahui bernama Mira dan istrinya Rosmi meninggal dunia, dia sudah berada dalam sangkar.

Sangkar yang dijadikan sebagai rumah oleh Rahim ini, di letakkan di atas teras rumah orang tuanya di Desa Panyura Kecamatan Baraka, Enrekang. Rumah tersebut sudah tidak dihuni oleh siapa-siapa selain Rahim, karena kedua orang tuanya telah wafat. Sementara saudaranya, telah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri.

Adik kandung Rahim, Sukur, yang ditemui wartawan beberapa waktu lalu menceriterakan, sebelum dimasukkan ke dalam kerangkeng besi, pihak keluarga telah berupaya mengobati Rahim dengan membawanya ke rumah sakit. Menurut Syukur, Rahim pernah dirawat di Rumah Sakit Dadi Makassar, tapi usaha tersebut sia-sia.

“Bapak (almarhum) dulu, ingin agar Rahim dirawat di Rumah Sakit Dadi sampai sembuh, berapapun biayanya, tapi pihak rumah sakit menolak. Makanya terpaksa kita masukkan ke dalam kerangkeng,” kata Sukur yang saat ini sudah berusia sekitar 40 tahun.

Sukur jugalah yang selama ini merawat Rahim, termasuk memberikan makan dan minum. Rumah Sukur memang tidak jauh dari tempat Rahim dikerangkeng.”Sebelum gila, Rahim itu orang baik, suka menolong warga kampung,” kata beberapa tetangga Rahim di Desa Panyura.

Meski berada dalam sangkar besi, kondisi fisik Rahim tetap tanpak segar bugar. Bahkan saat diajak berbincang, Rahim dengan antusias menjawab, meski kadang tidak nyambung. “Saya belum mau keluar dari ini sebelum waktunya,” ujar
Rahim kepada Fajar. (*)

ENREKANG — Sebuah mobil dinas milik Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang masuk ke dalam kanal di depan kantor Dinas Kesehatan setempat, jalan Sultan Hasanuddin Enrekang, Kamis malam sekitar pukul 21:00 wita.Mobil dinas (mobdin) berpelat merah dengan DD 430 tersebut, dikemudikan oleh Bahman, Ketua Panitia lelang Dinas Kesehatan Enrekang. Menurut sejumlah saksi di TKP, mobil tersebut tiba-tiba “terbang” ke dalam kanal saat keluar dari Kantor Dinas Kesehatan menuju jalan poros.

“Sebenarnya laju mobil tidak kencang pak, pada saat keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba meluncur ke dalam kanal,” ujar Amir, salah satu saksi di TKP. alah satu rekan kerja bahman di Dinas Kesehatan, Sutrisno yang ditemui di TKP mengatakan bahwa pengemudi mobil tersebut (Bahman) memang belum mahir mengendarai mobil.

“Mobil ini juga baru satu hari diserahkan ke Pak Bahman, yang saya sesalkan kenapa ibu Kadis Kesehatan dr Iriani memberikan mobil kepada orang yang belum lancar bawa mobil,” tandasnya. Sementara itu, Bahman langsung meninggalkan TKP saat kejadian, namun menurut sejumlah warga setempat, Bahman tidak mengalami luka serius. (k4)

ENREKANG — Wakil Bupati Enrekang HM Lody Sindangan mengatakan bahwa kita tidak heran jika banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) lingkup Pemkab yang malas berkantor, terutama pada saat kepala daerah sedang tidak di tempat.Lody yang dihubungi via telepon saat akan bertolak ke Jakarta kemarin mengakui jika dalam satu pekan terakhir, aktivitas di Sekretariat Daerah sedikit sepi, lantaran
sejumlah PNS termasuk pejabat daerah banyak yang absen.

Ini lanjutnya, lantaran Bupati La Tinro La Tunrung sedang mengikuti pelatihan Lemhanas di Jakarta. Kalaupun ada PNS yang berkantor, mereka ramai-ramai pulang sebelum jam kantor berakhir.

Lody mengaku tidak berkutik mengatasi hal ini, karena kemalasan PNS memang sudah membudaya. Meski dirinya ditugasi untuk mengawasi kedisiplinan pegawai. “Memang pengawasan pegawai adalah tugas saya selaku wakil bupati, tapi PNS terkesan hanya takut sama bupati, buktinya kalau saya yang pimpin apel pagi, sangat sedikit PNS yang hadir, tapi kalau pak bupati yang pimpin apel, semua PNS hadir,” ujarnya.

Kecenderungan para PNS tersebut yang hanya takut kepada bupati menurut Lody, memang ada benarnya, karena yang mengambil keputusan jika ada pelanggaran PNS selama ini adalah Bupati, bukan wakil bupati. Lody juga menjelaskan, keberangkatannya ke Jakarta kali ini untuk mengikuti kegiatan di Depdagri terkait dengan masalah otonomi daerah. (k4)

Halaman Berikutnya »