Sosial Budaya dan Pariwisata


Makassar, Tribun – Lomba gerak jalan cepat Napak Tilas Pejuang Masenrempulu diundur pelaksanaannya dari jadwal awal 15 Agustus menjadi 26 Agustus mendatang. Peserta akan mulai dilepas pada pukul 02.00 dini hari wita. “Berdasarkan hasil rapat dan musyawarah dengan Pemkab Enrekang, kegiatan Napak Tilas terpaksa diundur karena tumpang tindih dengan acara menyambut HUT ke-62 Kemerdekaan Indonesia,” kata penyelenggara, M Hasbi Thala, Minggu (12/8).

Selain tanggal diundur, rute juga berubah. Jadwal semula, peserta star dari perbatasan Enrekang-Sidrap dan finis di perbatasan Enrekang-Toraja. Jadwal rute baru, peserta star dari Lapangan Panah di perbatasan Enrekang-Toraja dan finis di Lapangan Lagsagaga, Maroanging, di perbatasan Enrekang-Sidrap. Menurut Hasbi, medan lomba pada rute sebelumnya dinilai berat. Perubahan rute itu berdasarkan masukan dari berbagai pihak. Sepanjang perjalanan, panitia akan membangun posko di setiap 10 lilometer. Di tempat itu, tiap tim peserta yang terdiri atas lima orang, akan dinilai dan bisa melakukan pergantian anggota tim oleh cadangan.
Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung, direncanakan melepas peserta didampingi legiun veteran Enrekang.
“Peserta terbuka untuk semua masyarakat di Sulsel maupun Sulbar, jadi tidak terbatas bagi warga Enrekang saja. Lomba ini juga terbuka untuk seluruh elemen masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta, militer, dan sebagainya,” kata Hasbi.

Hasbi adalah putra Muhammadd Thala, salah satu pendiri Kabupaten Enrekang dan pencipta lambang daerah Enrekang, Massenrempulu. Sebagai pemicu semangat, Hasbi menyiapkan hadiah puluhan juta rupiah, dengan rincian juara I Rp 10 juta, juara II Rp 7,5 juta, dan juara III Rp 5 juta. Juara haparan pertama hingga ketiga mendapat barang elektronik.

Calon peserta dapat mendaftar di Jl Sunu G12, Makassar, dan Jl Kartini No. 2 Enrekang, dengan kontak person Hasbi (0811408259). Pendaftaran dibuka sampai 24 Agustus. (nda)

Riuh-rendah tepuk tangan penonton mengiringi suara Master of Ceremony (MC) yang berkerudung tersebut. Maklum, petang setelah pameran Gelar Budaya Komunitas Adat pada 24 Juli lalu diresmikan, malam itu juga empat tarian dari berbagai provinsi langsung ditampilkan.Laporan : Dian Muhtadiah

Antusiasme sekitar 500 penonton langsung terlihat ketika tari-tarian itu digelar pada pukul 20.25 Wita. Satu per satu penari itu keluar dari balik panggung. Berusaha mencuri perhatian penonton, mereka menonjolkan keunikan dari daerah masing-masing.

Yang pertama tampil, tari Melayu dari Kesultanan Serdang. Tari Minang dan Sarampan 12, demikian dua pertunjukan tari yang dimainkan sepasang bujang dan dara. Musik melayu mengiringi ketika para penari itu berlenggak-lenggok. Simbolisasi gerak tangan, hentakan kaki, dan sapu tangan yang digenggam bersama, seolah memaknai arti dari tarian ini. Memang, tari ini berkisah dua anak muda, yang saling berkenalan, berteman, jatuh cinta, dan berikrar untuk menikah. Sebuah karya apik dari almarhum Guru Syauti, seniman dari tanah Melayu.

Disusul pentas kedua, tari Pajaga-jaga dari Enrekang. Kurang lebih dua puluh pelakon lelaki menari di atas panggung dengan kostum hitam. Keris di tangan diacung-acungkan, kemudian mereka membentuk barisan yang berjejer rapi. Saling berhadapan, sesekali saling membelakang lalu membentuk satu bujur haluan. (lebih…)

Sumber: Suriani (Sinar Harapan)

MENYEBUT Tana Toraja, tentu tidak asing lagi bagi siapa saja, bahkan bagi turis mancanegara. Pasalnya, Kabupaten Tana Toraja sudah menjadi ikon pariwisata di Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Pulau Sulawesi.

Namun, Kabupaten Enrekang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, potensinya masih belum banyak diketahui. Daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Maserenreng Pulu’ ini padahal kaya objek wisata. Oleh karena itu, berbicara tentang Enrekang memang enggak ada matinya bagi para pemanjat tebing dan pencinta alam. Rante Mario, misalnya, merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Selain itu, tebing-tebing tinggi nan eksotis seperti Uluway dan Tontonan menjadi tempat berlaga bagi yang haus akan tantangan.

Kabupaten Enrekang yang berlokasi sekitar 276 kilometer dari Kota Makassar ini, secara geografis memang berada di wilayah pegunungan dan hampir sebagian daerah ini terdiri dari pegunungan karst (batu kapur). Tak heran, jika di daerah ini bakal ditemukan berbagai jenis batuan dan anak-anak sungai yang memotong pegunungan yang satu dengan lainnya.
Sebagai daerah yang banyak memiliki kawasan karst, otomatis juga memiliki banyak gua. Salah satu gua yang kerap didatangi pencinta alam, karena terbilang eksotis, penuh tantangan dan memiliki kekhasan yang membedakan dengan gua lainnya adalah Loko Mubau (Gua Mubau). Pemberian nama Gua Mubau oleh masyarakat setempat, karena dari dalam gua ini mengeluarkan aroma/bau khas (seperti bau apek) yang tercium mulai jarak 2 meter dari mulut gua. Entah itu karena batuan yang mulai lapuk atau karena kotoran kelelawar. Yang jelas, bau ini sudah tercium sejak ditemukannya gua ini, hingga sekarang.

(lebih…)

“Perdus” Anti-Rokok Disepakati Melalui Pertemuan Terbatas

IDE besar tak selamanya lahir dari pertemuan besar dan mewah. Tengoklah ide awal pemberlakukan “peraturan dusun (perdus)” larangan merokok di Dusun Bonebone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Hanya digagas tak lebih sepuluh orang, tapi “perdus” yang tak tertulis ini, mampu menyelamatkan ratusan jiwa penduduk agar tak tergoda dengan nikmatnya nikotin rokok.Laporan: Kasman ENREKANG

SEJAK lima tahun lalu, warga di Dusun Bonebone telah mengklaim diri sebagai kampung yang bebas nikotin. Klaim ini tentu tidaklah muluk-muluk. Buktinya, sejak kesepakatan lisan ini diterapkan, tak satupun warga di kampung yang terletak di sekitar lereng Gunung Latimojong itu yang berani mengisap rokok.

Padahal, sekadar diketahui, kesepakatan warga Bonebone ini hanya digagas dalam sebuah forum yang terbatas sesama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat. Juga tak ada biaya lazimnya sebuah penyusunan peraturan daerah maupun undang-undang. Apalagi, studi banding. Maklum, warga di kampung ini mayoritas hanya berprofesi sebagai petani.

Meski hanya digagas dalam konsep yang sederhana, toh aturan bersama ini bisa ditaati seluruh warga kampung. Saking taatnya atas aturan larangan merokok ini, Dusun Bonebone seolah menjadi ikon baru bagi Kabupaten Enrekang dalam hal kampanye anti-rokok.

Ironisnya, meski sudah diberlakukan lebih lima tahun dan telah menyelamatkan ratusan generasi, namun perhatian pemerintah daerah, terasa belum maksimal, khususnya dalam hal pembenahan infrastruktur. Malah, Bonebone tetap menjadi dusun terbelakang di Enrekang.

Satu-satunya harapan cerah, sebab nama kampung ini sudah dikenal luas kalangan wisatawan mancanegara (wisman). Kebetulan, Enrekang memang menjadi daerah lintas para wisman yang hendak ke Tana Toraja. Jika para pelancong itu menyempatkan diri untuk mampir di Enrekang, mereka selalu bertanya tentang dusun anti-rokok ini.

Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Enrekang, Djuir Palisuri malah menceritakan, pernah suatu ketika ada rombongan turis datang ke dusun Bonebone dan melihat langsung aktivitas warga di sana. Hasilnya, bule-bule itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sebagai isyarat rasa kagum tradisi masyarakat Bonebone yang mengerti benar bahaya nikotin.

Kegaguman para wisman ini, lebih disebabkan oleh tradisi warga yang dinilainya sangat unik, dan mungkin tak ada bandingannya di dunia ini. Sebab, aturan larangan merokok, semisal di DKI Jakarta saja yang sudah dituangkan dalam bentuk peraturan daerah, hanya diberlakukan di tempat-tempat umum. Itupun masih tetap dilanggar.

“Saya melihat, ini hal yang luar biasa. Satu kampung taat dengan aturan yang disepakati bersama secara lisan dan tidak ada yang tertulis. Itupun ditaati warga secara terus menerus,” kata Djuir Palisuri.

Padahal, jika melihat tempatnya, Bonebone merupakan salah satu dusun yang memiliki cuaca dingin di Enrekang. Itu karena kampung ini ditutupi kabut. “Harusnya mereka tidak tahan kalau tidak merokok. Tapi nyatanya, justru menjadikan rokok itu sebagai lawan,” kata Djuir.

Lantas, bagaimana mulanya aturan larangan merokok ini digagas? Menurut warga di sana, pertemuan antartokoh masyarakat dilakukan di masjid Bonebone dan hanya dihadiri tujuh orang. Mereka merumuskan konsep ini selama tiga jam, tanpa perdebatan yang alot lazimnya sidang-sidang di lembaga legislatif.

“Kebetulan, saat itu tak berselang lama dengan datangnya bulan Ramadan. Sehingga sosialisasinya agak gampang,” kata Kepala Dusun Bonebone, Idris. Mulai saat itu, Idris bersama tokoh masyarakat yang lain gencar menyosialisasikan bahaya merokok. Dalam bahasa ala Enrekang mereka menyadarkan warga dengan jargon: seha’ki yake e’da ta mappelo’ mane yang artinya kurang lebih begini: Tidak merokok itu sehat saudara. (***)

Dipicu Banyaknya Anak Putus Sekolah Gara-gara Rokok

Laporan Kasman, Enrekang

bone2

ANDA seorang perokok? Jika iya, jangan coba-coba mampir di Dusun Bonebone, Desa Pepandingan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Warga di kampung itu, pasti akan cuek dengan Anda yang dinilai tidak menghormati “peraturan dusun (perdus)” yang bebas asap rokok.
Siang itu, tepat pukul 12.00 Wita. Fajar tiba di sebuah desa terpencil di Kabupaten Enrekang. Namanya, Dusun Bone-bone, Desa Pepandingan Kecamatan Baraka. Matahari yang terik, mestinya memang membuat kita gerah. Tapi anehnya, meski siang hari, cauca di kampung itu terasa dingin.

Begitupun dengan rasa lelah setelah menempuh perjalanan sekitar 80 kilometer dari ibu kota Kabupaten Enrekang, rasanya lenyap ditelan udara dingin dan kabut. Untuk sampai ke kampung ini, dari arah Makassar, cukup melewati ibu kota Enrekang, kemudian menuju ke Kecamatan Baraka. Dari Baraka inilah, lalu berbelok ke Dusun Bonebone. Tapi, jarak dari ibukota Kecamatan Baraka dengan dusun ini mencapai 50 kilometer.

Itupun, jangan harap Anda bisa dengan mulus tiba di Bonebone. Selain karena jalur tranportasi yang belum beres, hanya ada dua jenis kendaraan yang bisa sampai di dusun yang terletak di bawah puncak Gunung Latimojong ini: yakni motor dan kuda. Anda tinggal pilih, sebab biayanya pun relatif sama.

Tapi, dalam kesempatan kemarin, Fajar memilih mengendarai motor. Ada beberapa alasan mengapa harus naik motor. Tapi yang utama, ingin merasakan bagaimana “nikmatnya” melawan medan berat.

Setelah sepuluh kilo perjalanan menunju Bonebone ini, hamparan sawah layaknya permadani hijau dan gugusan pegunungan, menjadi pemandangan yang menarik. Setidaknya, menjadi obat pengusir kelelahan dan kesepian saat dalam kesendirian menyusuri jalan dusun itu.

Dusun yang berada di ketinggian sekitar 2.500 meter dari permukaan laut itu, makin sejuk seiring dengan kabut yang kerap turun menghalangi jarak pandang.

Sekitar pukul 15.00 Wita, Fajar akhirnya sampai juga di Dusun Bonebone. Setelah beristrahat sejenak, Fajar mencoba berkeliling kampung. Dari situlah bisa disimpulkan, penduduk di dusun ini sebagian besar berprofesi sebagai petani. Sepintas, tak ada yang membedakan dengan penduduk lain di desa-desa terpencil yang ada di Sulsel.

Yang agak berbeda, tentu soal tradisinya. Ada yang unik dari tradisi di kampung yang berpenduduk 528 jiwa ini. Semua warga yang bermukim di tempat ini dilarang merokok. Jika ada yang merokok, sudah pasti dengan gampang ditebak, mereka adalah pendatang.

Apakah ada semacam “peraturan dusun (perdus)” larangan merokok? Secara tertulis, memang tidak ada. Tapi, perdus di kampung ini cukup ampuh. Meski hanya kesepakatan lisan saja, tapi sangat dihargai oleh tokoh adat, pemuka masyarakat maupun masyarakat umum.

“Aturan asap bebas rokok ini sudah kita jalankan sejak lima setengah tahun lalu. Tepatnya tahun 2002. Tapi, sampai saat ini, aturan tersebut tetap kita jalankan,” ujar Kepala Dusun Bonebone Drs Idris saat menerima Fajar di kediamannya.

Menurut Idris, semua penduduk dusun Bonebone menghormati aturan bebas asap rokok tersebut, sehingga jika ada tamu yang ingin merokok
di tempat ini, maka harus melakukannya di luar dusun dan baru bisa kembali usai menghabiskan rokoknya.

“Tidak satupun warga di dusun ini yang merokok, apalagi berani menjual. Pokoknya, tidak ada tempat bagi para perokok,” kata Haris, salah seorang guru di SDN 159 Bonebone.

Apakah ada sanksi jika warga kedapatan mengisap rokok? Ternyata tidak ada. Tapi, meski tanpa sanksi masyarakat sudah menganggap merokok adalah perbuatan yang tabu. Sehingga, sanksinya hanyalah berupa sanksi moral.

Idris yang merupakan orang pertama yang menggagas aturan ini bercerita, aturan bebas rokok ini dibuat karena dia merasa prihatin melihat kondisi masyarakat Dusun Bonebone sebelum “perdus” ini ditetapkan. “Bayanghkan saja. Waktu itu, anak-anak umur enam tahun sudah belajar merokok. Inilah yang membuat saya berpikir untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Karena orang tua juga lebih mementingkan membeli rokok ketimbang membiayai anaknya sekolah,” katanya.

Dia semakin prihatin ketika mendengar ada anak perempuan dari Bonebone bernama Hanaki yang menjadi TKW ke negeri jiran harus dioperasi karena menderita kanker paru-paru. Dari hasil visum dokter, katanya, meski Hanaki tidak merokok, namun penyakitnya disebabkan karena asap rokok dari orang tuanya alias perokok pasif.

Terbukti, kata alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar ini, setelah aturan ini efektif berjalan, berbagai manfaat bisa dilihat secara langsung. Warga dusun Bonebone sudah banyak yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Prestasi siswa juga mulai meningkat. “Sebelum ada kesepakatan bebas rokok ini, sangat jarang siswa Bonebone yang lanjut kuliah, tapi sekarang sudah banyak yang kuliah,” kata Idris. ***

Ketika bertandang ke Enrekang, boleh jadi kita akan menemukan sesuatu yang berbeda dari liburan biasanya. Sebab, sejak tahun lalu, kabupaten yang acap kali menjadi tempat persinggahan para wisatawan yang hendak ke Tana Toraja itu menawarkan agrowisata nan unik.

Ada tiga kecamatan–Alla, Baraka, dan Maiwa–yang dijadikan obyek agrowisata di kabupaten sebelah utara Makassar itu. Dan setiap kecamatan menawarkan jenis agrowisata yang berbeda, sesuai dengan potensinya masing-masing.

Tapi ketiga kecamatan itu memiliki kesamaan dalam sistem pengelolaan wisatanya. Para pengelola wisata di sana tak menyediakan penginapan, seperti hotel, vila, dan sejenisnya. Yang ada, para turis akan diajak berbaur dan menyatu dengan masyarakat. Mereka disiapkan penginapan di rumah-rumah warga. Makanan yang disajikan juga makanan khas setempat.

Kita juga diajak mengikuti segala tetek-bengek kegiatan pertanian dan perkebunan yang menjadi keseharian masyarakat di sana, di antaranya terjun langsung menanam padi, memotong padi, mengikat padi, dan kemudian menyimpannya di landa.

Yang pasti, saya menemukan sebuah kenikmatan tersendiri ketika berada di wilayah pertanian berhawa sejuk itu. Keramahan yang tulus dari pemandu wisata dan penduduk setempat membuat saya betah berlama-lama di sana.

Boleh dibilang, saya tak merasa dilayani hanya karena mengeluarkan duit. Di Enrekang, saya tak seperti sedang berlibur pada umumnya, ketika para pemandu dan pramusaji bersikap ramah lantaran bayaran kita.

Di sana, saya merasa begitu dekat dengan masyarakat, dapat berbaur secara wajar, dan diperlakukan sebagai keluarga sendiri. Keramahan yang saya terima tak palsu. Sungguh, itu memberikan kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai dengan uang. IRMAWATI

Menikmati nasi selembut kapas sembari menghirup udara segar dan mendengar gemercik air sungai.

Akhirnya saya tiba di Enrekang. Perjalanan bermobil sejauh 267 kilometer dari Makassar untuk sementara berakhir sudah. Dan kepenatan yang mendera semalaman pun perlahan-lahan menguap begitu menyaksikan panorama alam yang disajikan kabupaten di Sulawesi Selatan itu.

Pemandangan alam yang tergelar sungguh menggetarkan. Di bawah sinar matahari pagi, nun di sisi kiri-kanan jalan raya Enrekang-Tana Toraja, menjulang dua gunung yang begitu anggun: Gunung Nona dan Bambapuang. Lereng dan lembahnya nan rimbun tak kalah anggunnya menerima siraman cahaya keemasan matahari yang tengah merambat naik.

Saat mata terus lekat memandang Gunung Bambapuang, tiba-tiba cerita seorang kawan kembali terngiang. Menurut cerita yang berkembang, gunung batu berketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut itu dipercaya masyarakat setempat sebagai tangga penghubung dari bumi menuju ke langit.

Salah satu kawasan di lereng Bambapuang, Lura Bambapuang, juga dipercaya sebagai tempat peradaban manusia Sulawesi Selatan bermula. Masyarakat Bugis sangat menghormati tempat itu. Mereka menyebutnya tana ri galla tana riabbusungi atau negeri suci yang dihormati.

Beberapa waktu lalu, saya bersama empat orang teman bertandang ke Enrekang, bukan lantaran tergoda kawasan negeri sucinya itu, melainkan karena wisata pedesaannya. Khususnya agrowisata yang ditawarkan Desa Kendenan di Kecamatan Baraka, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari ibu kota Kapubaten Enrekang.

Untuk menggapai desa yang bertengger di perbukitan itu memang butuh sedikit perjuangan, terutama sekitar 30 kilometer menjelang Kendenan. Jalanannya berkelok-kelok, menanjak, dan agak rusak. Malah separuh perjalanan harus ditempuh dengan melewati jalan tanah tanpa aspal.

Hanya keindahan alam nan memukau yang membuat saya dan teman-teman terus melaju. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan rimbunnya aneka pepohonan. Yang juga memukau adalah dinding batu yang tegak menjulang, mirip papan tulis raksasa. Di antara dinding itu ada yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mayat. Sejumlah peti mayat alias duni berbahan kayu tampak masih tersimpan di celah-celah batu.

Dan perjalanan terasa kian menyenangkan karena keramahan penduduknya. Misalnya, saat kami singgah sejenak melihat dinding batu yang digunakan sebagai tempat penyimpangan mayat, warga di sekitar lokasi itu tak sekedar menyapa. Mereka malah meminta kami singgah ke rumahnya.

Keramahan juga ditemui ketika kami mampir di sebuah rumah di kota Kecamatan Baraka, kira-kira 30 kilometer sebelum Kendenan. Kami dijamu aneka penganan kecil dan buah salak yang segar-segar. Enrekang memang dikenal sebagai penghasil salak terbaik se-Sulawesi Selatan.

Mobil Kijang yang mengantarkan kami sejak dari Makassar terpaksa harus diparkir. Sebab, rute berikutnya berupa jalan setapak yang sempit, berkelok-kelok, tak beraspal, dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Jadilah saya ajrut-ajrutan di atas sepeda motor ojek selama sekitar dua jam.

Matahari tergelincir ke barat ketika kami tiba di Kendenan. Hawa sejuk pegunungan langsung menyergap. Dan, lagi-lagi, pemandangan alam nan memukau memaku langkah saya. Petak-petak sawah terasering terhampar bagai undak-undakan yang ditutupi permadani hijau. Sebuah sungai yang mengalir di antara bukit dan lembah membuat pemandangan di desa itu kian mempesona.

Terdiri atas tiga dusun, Kendenan menyimpan potensi pertanian sejak ratusan tahun. Masyarakat desa nan damai itu sangat kental dengan tradisi pertaniaannya, terutama bercocok tanam padi. Dan tradisi pertanian itu dipegang kuat secara turun-temurun hingga sekarang.

Menurut Agus Riadi, Ketua Yayasan Torabulan sekaligus pemandu kami, masyarakat setempat percaya bahwa padi dan manusia memiliki derajat sama. Makanya mereka menempatkan rumah dan lumbung padi sejajar. “Orang setempat menamakan lumbung padi itu landa,” kata pegiat lembaga swadaya masyarakat budaya dan pariwisata Enrekang itu.

Landa sudah menjadi pemandangan di desa-desa di Enrekang sejak ratusan tahun lalu. Kepala Desa Kendenan Bakri Punttung menyatakan pada zaman dahulu, landa dibikin untuk menyimpan cadangan makanan. Ketika masa penjajahan, lumbung padi didirikan untuk mengantisipasi gagal panen.

Kini, kata Bakri, fungsi landa masih relatif sama. Ia menjadi tempat cadangan makanan, menjaga kemungkinan terjadi kekeringan dan bencana. Plus, landa digunakan pula sebagai tabungan untuk menggelar suatu prosesi adat, seperti pernikahan dan kematian.

Landa yang menghiasi desa-desa di Enrekang berupa rumah panggung. Tiang dan dinding bangunan yang biasanya beratap rumbia atau seng itu terbuat dari batang pohon banga, yang memang banyak tumbuh di sana. Ukuran landa bervariasi, mulai 2 x 3 meter, 3 x 4 meter, hingga 4 x 5 meter. Menurut Jampi, 60 tahun, pande landa (tukang pembuat landa), semakin besar ukurannya, semakin berada pemiliknya.

Lalu derajat pemiliknya, kata Jampi, juga bisa dilihat dari hiasannya. Jika landa memakai ukiran kerbau, berarti pemiliknya adalah orang biasa-biasa saja. Sedangkan bila hiasannya berupa tanduk kerbau, itu menandakan pemiliknya orang berada atau berkedudukan.

Saat ini di Kendenan memang hanya Jampi yang dipercaya sebagai pande landa. Sebab, pembuat landa tak sembarangan orang. Dia harus mengikuti serangkaian ritual sebelum mulai membuatnya. Kalau salah satu prosesi tak diikuti, menurut kepercayaan setempat, bisa-bisa padi yang ditaruh tak awet dan landa bakal kemasukan tikus.

(lebih…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.