Maret 2005


MAKASSAR — Dalam dua hari berturut-turut, Society Corruption Wath (SCW) mendatangi Kejati Sulsel. Sekitar pukul 13.00 Wita, Selasa, 22/3/2005, SCW mendesak Kejati agar menahan mantan Bupati Enrekang, Iqbal Mustafa.
Oleh SCW, Iqbal Mustafa dinilai terkait dengan kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Sudu, Enrekang. Nilai proyek dari kasus ini dilaporkan mencapai Rp1.043 miliar. Direktur Eksekutif SCW, A Arifuddin Mane di hadapan Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Sulsel, Lari Gau Samad, mengatakan bahwa penanganan kasus tersebut terkesan diskriminatif. Alasannya, direktur CV Insan Jaya, Azis Bottong (tersangka), ditahan, sementara tersangka lainnya, Iqbal Mustafa, tidak.

Hal itu membuktikan, lanjut Arifuddin, Kejati hanya menahan orang-orang kecil, sekelas kontraktor. Sedangkan terhadap orang-orang besar, Kejati Sulsel dicap tidak berani. “Kami khawatir jika orang-orang besar tidak ditahan, maka pelaku lainnya tidak akan jera. Mereka akan berpikir tidak akan ditahan kalau korupsi,” ujar Arifuddin.

Menanggapi hal tersebut, Lari Gau Samad mengaku sulit untuk mengomentarinya. “Secara pribadi, bagi saya tujuan penanganan kasus korupsi adalah untuk menyelamatkan uang negara. Penghukuman itu soal kedua,” jelasnya.

Mengenai ditahan-tidaknya seorang tersangka, lanjut Lari Gau Samad, selain mengacu pada KUHAP, juga ada pertimbangan-pertimbangan khusus. “Ada saatnya saya akan membeberkan pertimbangan-pertimbangan khsusus itu,” ujarnya.

Namun demikian, Lari Gau Samad menginformasikan bahwa bulan ini direncanakan berkasnya segera ke penuntutan. Kalau memungkinkan, sekaligus dilimpahkan ke pengadilan. Beberapa waktu lalu Lari Gau Samad mengatakan bahwa proyek pembangunan Pasar Sudu, Enrekang tahun anggaran 2003 tidak dikerjakan. Padahal dananya sudah cair dan dipakai oleh tersangka. Seharusnya uang senilai Rp1.034.900.000 itu digunakan untuk proyek sub terminal dan perataan/pemadatan tanah pada 2003. Tapi faktanya, proyek tersebut tidak dikerjakan. Namun, belakangan dana proyek sebesar Rp1.034.900.000, telah dikembalikan oleh tersangka.
Sumber : (ian)

Iklan

Siapkan Dana USD400 Juta untuk PLTA di Buttu Batu

MAKASSAR — Ini sebuah kabar gembira bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sulselra dan lebih khusus lagi bagi masyarakat Sulsel,
sebab di tengah krisis daya listrik, sebuah perusahaan luar negeri JT Capital yang selama ini banyak bergerak di bidang usaha kelistrikan telah menawarkan diri untuk menanamkan investinya di Sulsel.

JT Capital ini akan bekerjasama dengan perusahaan dalam negeri PT Parisma Dani membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Buttu Batu, Kecamatan Anggeraja/Baraka, Kabupaten Enrekang, dengan daya 330 MW. Saat ini, JT Capital sudah menyiapkan dana sebesar USD400 juta.

Hal ini diketahui setelah Pimpinan JT Capital, Dr Joharis Sabirin diterima Gubernur Sulsel HM Amin Syam, di Gubernuran, Senin 14 Maret, kemarin. Gubernur didampingi, GM PT PLN (Persero) Wilayah Sulselra, Ir Arifuddin Nurdin dan Wakil Ketua Bappeda, Andi Massalangka Cullang.

Joharis Sabirin berharap, agar rancana pembangunan PLTA di Buttu Batu, Enrekang ini segera direalisasikan. Karena menyangkut dana, menurutnya sudah tidak ada lagi masalah, karenanya secepatnya ingin direalisasikannya. Dia menargetkan pembangunan ini rampung 6 tahun kedepan.

Sementara itu Gubernur Amin Syam menyambut baik tawaran JT Capital untuk menanamkan modalnya di bidang kelistrikan di Sulsel. Apalagi katanya, Sulsel saat ini lagi mengalami krisis daya. Sehingga diperlukan ada tambahan pembangkit listrik yangbaru.

Hanya saja gubernur berharap kepada pihak JT Capital, dapat mengurus segala izin-izin yang dipersyaratkan sebagaimana ketentuan yang ada di pusat. Gubernur menganggap lokasi pembangunan PLTA yang direncanakan di Buttu Batu itu sudah tidak ada masalah, termasuk studi kalayakannya.

Gubernur juga berharap ada investor yang mau membangun pembangkit ukuran kecil, seperti pembangkit listrik batubara. Sehingga dalam waktu dekat ini sudah bisa dimanfaatkan. Dikatakan Sulsel saat ini kekurangan daya sekitar 40 MW-50 MW pada saat beban puncak, sehingga masih diperlukan tambahan daya.
Sumber : (ull)