ENREKANG–Kasus insiden “penamparan” yang dilakukan Sekretaris Bupati Enrekang, Drs Tenriangka Mori SH, MM memasuki sidang keempat.
Pengadilan Negeri (PN) Enrekang menjadwalkan, Jumat 17 Juni mendatang sidang dilanjutkan untuk mendengarkan keterangan saksi dari penyidik.

Sebelumnya, sidang, Jumat 10 Juni lalu sudah empat saksi diperiksa masing-masing; Drs Haleng Laju, Drs Umar T (kepala kantor Kesos), dr Hegariah Rachmawatih dan dr Darnisa. Jaksa penuntut umum, Tuwo SH menilai, dari keterangan keempat saksi ini ada cenderung meringankan terdakwa. Salah satunya keterangan dari saksi pertama Haleng Laju.

Di depan Majelis Hakim (MH) yang dimpimpin Arman Surya Saputra, Haleng Laju mengaku tidak tahu insiden penamparan yang dilakukan Tenriangka Mori terhadap korban Hasriani Latmang. Dirinya baru mengetahui ketika masalah itu diceritakan oleh korban kepadanya.

Keterangan ini sangat dibutuhkan untuk menguatkan dugaan pemukulan, karena Haleng saat insiden terjadi, bertindak selaku pembawa acara. “Saya tidak melihat Hasriani ditampar terdakwa Tenriangka Mori,” kata Haleng di depan MH.

Keterangan saksi Heleng ini cukup disayangkan JPU lantaran dari keterangannya itu tak ada lagi pertanyaan bisa dilanjutkan. Setelah saksi pertama,
giliran saksi kedua Drs Umar T yang diperiksa. Menurut saksi kedua, terdakwa Tenriangka Mori tidak menampar Hasriani tapi hanya ditepuk pundaknya.
Terdakwa Tenriangka Mori hanya menepuk Hasriani Latmang dan itupun tidak keras.

Umar juga memperagakan kejadian pada malam pesta rakyat tersebut. Korban Hasriani Latmang tidak sengaja menyenggol sekkab lalu sekkab langsung menepuk bahu kiri Hasriani sembari menegur.

Adapun saksi ketiga dr Hegariah Rachmawati memberikan keterangannya sebagai saksi hasil visum yang dikeluarkannya pada tanggal 23 Pebruari 2005, lalu pukul 16.00 wita sore hari. Dalam kesimpulan ada dua point yang dijelaskan oleh saksi ketiga ini: pertama point pertama (a) tentang tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan hasil ini dari tim medis secara objektif, sedangkan point kedua (b) pasien merasa rasa sakit yang mengakibatkan aktivitasnya terganggu, di mana hasilnya hanya subjektif dengan pengakuan dari pasien saja.

Hasil pemeriksaan tekanan darah tetap normal sekitar 105, lalu saksi memberikan surat keterangan istirahat selama tiga hari. Lalu saksi yang keempat dr Darnisa melakukan pemeriksaan mengenai pasien yang merasakan sakit kepala dan leher, setelah diperiksa tensinya, tekanan darah tetap normal.

“Kami berikan obat dan pasien minta istirahat tiga hari, sesuai hasil pengamatan saya, lalu saya berikan keterangan istirahat,” kata dr Darnisa.

Di luar sidang, massa pendukung Hasriani memadati parkiran PN Enrekang. Mereka umumnya berasal dari para pengojek berjumlah kurang lebih 50-an orang. Namun, tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sidang berlangsung dengan tertib.

Tenriangka Mori duduk di pesakitan didampingi kuasa hukumnya, Otto Munardinoto SH. Sidang dilanjutkan, Jumat, 17 Juni mendatang dengan agenda mendengar keterangan saksi dari pihak penyidik, Anwar Nazar.
Sumber : (aci)

Iklan