ENREKANG — Bangkai pesawat tempur yang ditengarai milik Amerika Serikat (AS) dan diduga masih memiliki amunisi aktif, ditemukan petani setempat di kaki Pegunungan Latimojong, Kabupaten Enrekang, Minggu 7 Agustus. Saat ini, aparat Kodim 1419 Enrekang dipimpin salah seorang perwira staf, Lattu Inf Thomas, masih terus melakukan penyelidikan dan pengamanan di lokasi ditemukannya bangkai pesawat tersebut. Sebab, atas laporan masyarakat kalau di bagian bangkai pesawat terlihat amunisi sejenis bom atau granat.

Kepala Penerangan Kodam (Kependam) VII Wirabuana Mayor Inf Rustam Effendy, yang dikonfirmasi Senin 8 Agustus kemarin, membenarkan tentang adanya penemuan bangkai pesawat tempur AS tersebut dan masih dalam penyelidikan aparat Kodim 1419 Enrekang.Rustam mengatakan, Dandim 1419 Enrekang Letkol Kav GO Sudaryo telah memerintahkan aparatnya dipimpin Lettu Thomas, untuk meninjau lokasi dan melakukan penyisiran guna mencari serpihan-serpihan bangkai pesawat lainnya, termasuk kemungkinan adanya amunisi peninggalan militer saat terjadi Perang Dunia II.

“Hanya saja, belum bisa diperoleh informasi lebih lanjut karena Lettu Thomas masih berada di lokasi penemuan pesawat tempur AS tersebut. Sebab, untuk menempuh lokasi itu, diperlukan waktu selama dua hari dua malam jalan kaki dari Desa Nating. Sedang waktu yang digunakan dari Ibukota Kecamatan Bungin ke Desa Nating, juga diperlukan waktu setengah jam jalan kaki. Jadi, untuk menempuh lokasi tidak bisa dilalui dengan kendaraan, tapi hanya jalan kaki,” terang Kependam Rustam Effendy.

Menurutnya, dari informasi sementara diperoleh dari Dandim GO Sudaryo, pesawat tersebut dilaporkan jatuh pada 1943 saat gencarnya pertempuran Perang Dunia II. Tapi, serpihan pesawat ini pertama kali ditemukan pada 1972. Selanjutnya, pada 1977 bagian kepala pesawat ini kembali ditemukan dalam keadaan tertancap di tanah. “Saat itu juga ditemukan empat tengkorak bersama sisa-sisa kerangka manusia. Diperkirakan, keempat tengkorak bersama kerangka manusia itu, merupakan pilot dan awak pesawat lainnya dari pesawat tempur AS tersebut,” papar Rustam Effendy.

Makanya, adanya informasi dengan ditemukannya bagian pesawat di kaki Pegunungan Latimojong tersebut, diduga masih bagian dari pesawat tempur AS ini. “Hanya saja, belum bisa dipastikan apakah memang betul sesuai informasi warga kalau penemuan bagian pesawat baru-baru ini, ada amunisinya. Inilah yang sementara diselidiki aparat Kodim 1419 Enrekang, yang sekarang masih berada di lokasi,” sebut Rustam Effendy, sembari menyatakan belum bisa menyebut apa jenis pesawat tersebut.

Sementara itu, Kepala Penerangan (Kapen) Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Koopsau) II Mayor Sus Bintang Yudianta, yang dikonfirmasi malam tadi, menyebutkan kalau pihaknya baru mengetahui tentang adanya penemuan bangkai pesawat tempur AS di Enrekang itu, setelah dirinya dikonfirmasi wartawan. Bintang Yudianta sendiri belum bisa menyebut apa jenis pesawat itu tanpa melihatnya. “Tetapi, jika dilihat dari waktu jatuhnya pesawat tersebut pada saat Perang Dunia II, maka saat itu ada tiga jenis pesawat yang sedang beroperasi di Indonesia,” ungkapnya.

Ketiga pesawat dimaksud, yakni pesawat angkut Dakota VT-CLA, atau jenis pesawat yang diterbangkan Marsda TNI Adi Sucipto dan Marsda TNI Abdulrachman Saleh, ketika gugur ditembak pesawat Belanda. Pesawat lainnya yakni pesawat tempur Cureng buatan Jepang yang digunakan pendahulu TNI Angkatan Udara untuk melakukan pemboman di pangkalan musuh.

“Tetapi, mengingat kalau pesawat tempur tersebut merupakan milik Amerika Serikat, maka masih sangat susah untuk mengetahuinya. Boleh jadi pesawat tempur tersebut merupakan milik Belanda jenis P-40 Kittyhawk. Tapi ini, mesti dilihat dulu baru bisa disebutkan jenisnya,” ujar Kapen Koopsau II Bintang Yudianta.
Sumber : (lis)

Iklan