Diharapkan Jadi Program Nasional
DARI sembilan rumah yang masuk program ‘bedah rumah’ oleh Pemkab Enrekang, baru enam yang terealisasi. Tiga rumah lainnya di tiga kecamatan akan menyusul.

Ke depan, Program yang merupakan ide cemerlang dari Bupati Latinro Latunrung ini patut menjadi program nasional dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Enrekang yang bervisi menjadi daerah agropolitan yang mandiri, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, terus melakukan berbagai upaya mewujudkan visi itu. Program-progarm pengentasan kemiskinan pun digelar. Salah satunya, dengan mem-‘bedah’ rumah yang selama ini tidak layak huni menjadi layak huni.

Untuk program tersebut, peran serta masyarakat dilibatkan, termasuk kalangan pengusaha yang kemudian bertindak sebagai sponsor. Berkat kerja sama yang dibangun tersebut, semua pekerjaan menjadi cepat dan lancar, tanpa hambatan, termasuk dalam soal biaya ‘bedah’ rumah yang besarnya sekitar Rp100 juta. Sejumlah warga yang rumahnya telah ‘dibedah’ mengaku sangat bersyukur. Pasalnya, mereka ibaratnya mimpi di siang bolong. Rumah mereka yang tadinya tidak layak huni, ‘disulap’ menjadi rumah bagus.

Warga yang terharu menyaksikan program itu berharap pemerintah dapat menjadikan program Pemkab Enrekang itu menjadi percontohan di tingkat nasional, dengan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara maupun APBD, seperti halnya program lainnya yang telah dilaksanakan pemkab daerah yang terkenal dengan potensi alam dan wisatanya ini.

Selain program ‘bedah’ rumah, Pemkab Enrekang telah melakukan berbagai langkah untuk mewujudkan daerahnya sebagai daerah mandiri, di antaranya pelayanan dasar kesehatan di Puskesmas gratis untuk semua warga. Selain itu, pembebasan biaya SPP/biaya pendidikan bagi SD dan SMP negeri, karena ada Biaya Operasional Sekolah (BOS), pembebasan pengurusan akte kelahiran dan kartu keluarga, serta pembebasan pembayaran retribusi sampah.