Pengikutnya dari Berbagai Kota, Termasuk Enrekang dan Makassar

MARSUKI Badra, seorang oknum guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Rappang, Kabupaten Sidrap, diamankan polisi, belum lama ini. Warga Sidrap melaporkannya ke polisi karena dicurigai mengembangkan ajaran sesat. Dia mengaku kepada pengikutnya sebagai penjelmaan Tuhan. Spontan, pengakuan itu menggegerkan kota kecil sekitar 200 kilometer dari Makassar tersebut. Rappang merupakan kota kelahiran para ahli agama Islam yang terkenal secara nasional bahkan internasional, Shihab bersaudara.

Mereka adalah Prof Dr Quraish Shihab (ahli tafsir), Prof Dr Umar Shihab (Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, MUI), dan mantan Menko Kesra Prof Dr Alwi Shihab, yang dikenal sebagai ahli perbandingan agama dan pernah mengajar di universitas terkenal di Amerika Serikat (AS). Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sidrap Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Bambang Triyanto, mengungkapkan kasus penyimpangan ajaran agama ini di Sidrap, Kamis (8/12). Menurut Bambang, dalam mengembangkan ajarannya, Marsuki mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan pertemuan reguler tiap minggu.

Lelaki asal Enrekang itu memulai aktivitasnya untuk mengembangkan ajaran sesat itu kepada lingkungan keluarganya di Enrekang dan sahabat-sahabatnya di Rappang.
Ajaran yang dikembangkan malah telah menyebar ke Makassar dan daerah sekitar Sidrap termasuk Pinrang. Jumlah pengikut ajaran ini di Sidrap telah mencapai 70 orang lebih.
Berdasarkan keterangan pada polisi, Marsuki mengatakan bahwa dirinya adalah perwujudan Tuhan yang berbentuk manusia. Marsuki mengaku mendapat “wahyu” yang berupa titisan zat Tuhan sejak berumur dua tahun.

Kepada pengikutnya, Marsuki mengaku Tuhan yang berwujud manusia. Menurut Kapolres Sidrap, ajaran ini diperkirakan mulai ada tahun 2003 lalu. Namun, kegiatan rutin berupa pengajian baru tanpak pada November lalu. “Kira-kira pengajiannya baru berjalan sekitar satu bulan, kita langsung mengamankannya,” jelasnya. Dalam mengembangkan ajaran ini, di hadapan pengikutnya, Marsuki menerjemahkan Al Quran sesuai dengan pengetahuannya. Hasil terjemahan itulah yang disampaikan kepada pengikutnya.

Lelaki yang lahir di Enrekang, 41 tahun silam itu, setelah menyelesaikan pendidikannya di IKIP Ujungpandang diangkat menjadi guru di Rappang. Di sinilah dia mulai mengembangkan ajaran itu kepada keluarga dan teman-temannya.

Koordinasi
Kapolres menjelaskan, Marsuki ditangkap setelah polisi berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), DPRD, bupati, dan pengadilan setempat. Kasus yang menjerat Marsuki ini segera dilimpahkan ke kejaksaan setempat. Dia dijerat dengan pasal perbuatan yang meresahkan warga dan membahayakan sehingga diancam pasal 156 Kitab Undang undang Hukum Pidana (KHUP) dengan ancaman kurungan lima tahun.

Ajaran Mahdi
Dalam beberapa tahun terakhir ini, ajaran-ajaran dalam pemahaman keagamaan mengalami perkembangan. Aktivis Islam di Makassar, Iskandar Pasadjo, menilai, hal ini disebabkan karena ketidakpuasan orang Islam terhadap figih (ajaran) yang baku. Selain itu, muncul perasaan frustrasi umat Islam melihat kehidupan dan tingkah laku orang Islam sendiri.
Di beberapa bagian di Sulsel telah muncul beberapa kelompok-kelompok kecil aliran Islam. Di Padang Sappa, Luwu, misalnya, muncul sekelompok orang Islam yang secara intens melakukan kajian terhadap ajaran Islam. Kelompok ini dipimpin seorang kiai.
Arqam Djalil, warga Luwu, mengaku sudah banyak keluarganya yang menjadi pengikut ajaran tersebut. “Saya juga tidak tahu persis nama ajarannya. Tapi, keluarga saya sudah banyak yang mengaku ikut,” katanya.

Tak ada perbedaan yang tegas dengan Islam lainnya dalam kelompok ini. Mereka hanya meyakini meyakini Imam Mahdi telah tiba. Imam Mahdi dimaksud tak lain adalah guru mereka sendiri, sang kiai. Kelompok tersebut juga pernah hampir berurusan dengan aparat keamanan dalam Ramadhan lalu. Pasalnya, mereka bermaksud melakukan salat Idul Fitri dua hari sebelum pelaksaan Salat Id yang telah disepakati.
“Setiap tahun mereka memang selalu berbeda dengan kita dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan,” ujar Iskandar.

Kiai itu pernah bikin heboh ketika mengaku sebagai Abdul Qahhar Mudzakkar, 1998 silam. Dia sudah keliling di Sulsel dan mendapat baiat (pengakuan) dari sejumlah orang yang mengaku Qahhar memang masih hidup. Kiai tersebut pernah memimpin tabliq akbar di Al Markaz Al Islami, Makassar. Ke mana-mana, kiai tersebut selalu mengenakan sorban dan pakaian jalabiah (pakai ala-bangsawan Arab Saudi). “Memang dia sekarang sudah berada di Padang Sappa dan mengembangkan ajarannya di sana,” kata aktivis Islam lainnya, Mansyur Semma. Menurutnya, tak sedikit ustad dari Makassar telah menjadi pengikutnya. (eki/bie)