ENREKANG,Upeks—Setelah dijemput tarian tradisional Pajjaga dari Enrekang yang menggambarkan kemenangan serta ucapan selamat datang, tim tamu dari pejabat pusat TK 1 juga disuguhi penampilan tarian Pasalonreng Kab Maros. Bertempat di Lapangan Abubakar Lambogo Batili perwakilan 6 kabupaten dari etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar dan Massenrempulu mengikuti berlangsungnya pembukaan secara resmi gelar budaya sul sel 2006 oleh Gubernur HM Amin Syam. Berbagai atraksi seni budaya ditampilkan termasuk hadirnya simponi 761 orang peniup suling bambu tradisional “musik bambu” Masenrempulu yang melantunkan instrumentalia “surgana Bambapuang”, (Enrekang).

Tello Bena (Mandar), Anging Mamiri (Makassar) Indo Logo (Bugis) dan Tamapare (Toraja) dipimpin oleh Dirjen Utama Hamin SPd.
Informasi dari panitia pusat diketahui pengelaran seni budaya diliputi media elektronik dan cetak nasional maupun daerah pariwisata dengan Pemkab Enrekang yang pelaksanaannya didukung UPT kebudayaan Sul Sel, Balai arkeologi Makassar, Balai peninggalan purbakala makassar, Balai kajian sejarah dan nilai tradisional Makassar, Akpar Makassar serta jurusan arkeologi Unhas. Tampak hadiri Dirjen terkait (Dr Sri Hastanto), staf ahli Menteri Pariwisata dan kebudayaan (Ir Firmansyah), Dirut tradisi pusat (IGN Wija SH), Gubernur Sul Sel (HM Amin Syam), Bupati Enrekang (H La Tinro La Tunrung), para Bupati, perguruan tinggi, budayawan (Udhin Palisuri dkk) dan kalangan mahasiswa.
Bupati Enrekang dalam kata sambutannya mengatakan,”Tanah massenrempulu memiliki sejarah, bahasa, tradisi, adat istiadat, serta kesenian tersendiri dengan potensinya sangat besar selama ini kurang terkaji bahkan sebagian sudah punah. Sejak 3 tahun terakhir Pemda telah mengidentifikasi 40 jenis tradisi yang berkembang di Enrekang, dengan dialek dan bahasa Endekan, Maiwa, Duri dan Pattinjo secara sosial budaya telah membuktikan keberadaan nilai sejarah budaya khas Massenrempulu. Hal tersebut sangat diharapkan menjadi momentum berharga untuk menggali dan lestarinya sejarah-budaya sul sel khususnya budaya Massenrempulu”. Menyimak harapan Bupati Enrekang tersebut Gubernur HM Amin Syam dengan bijak mengatakan,”lahirnya suatu etnis tidak perlu menunggu lahirnya menyadari pemerintah dan wilayahnya tokoh-tokoh masyarakat, karena munculnya etnis itu adanya yang mengakui dari suku-suku yang lain. Gelar budaya ini sul sel khususnya membuktikan tidak adanya perbendaan justru mempunyai tujuan mulia untuk silaturrahim saling kenal antar etnis, sebagai jati diri, membangun semangat dan perekat persatuan”. (syamsul)