KEDATANGAN para pakar sejarah, arkeolog, budayawan dan tokoh masyarakat di gedung PKK Enrekang bukanlah hal yang biasa, namun kali ini keberadaan para pemerhati ini akan memaparkan suatu kajian kebudayaan Massenrempulu dalam bentuk seminar kebudayaan. Tampil beberapa pembicara dalam seminar ini adalah Prof Dr Abu Hamid, Dr Hedi H Putera, Dr Iwan Sumantri, H Udhin Palisuri dan Dr Bambang Rujito untuk turut memberi arti kepada nilai sebuah perjuangan menyangkut nurani etnis Massenrempulu.

Kegiatan seminar yang digagas panitia pusat Direktorat Jenderal Nilai seni budaya, Film dan sejarah pusat ditujukan untuk mencari indentitas dalam keragaman budaya daerah yang perlu dipelihara dan ditumbuh kembangkan menjadi kekayaan yang tidak ternilai. Keberagaman bukan berarti menonjolkan perbedaan tetapi dijadikan sebagai perekat persatuan bangsa, karena setiap keragaman didalamnya mengandung unsur perbedaan sebagai simbol dan nilai kebersamaan di tengah kebudayaan daerah Sulsel. Untuk membuktikan kebenaran kekayaan budaya Massenrempulu Dr Iwan Sumantri mengatakan, “Enrekang cukup bisa diprediksikan sebagai masyarakat Society (kesukuan) karena adanya tutur yang menyebutkan bahwa peradaban Enrekang lebih dulu muncul dari peradaban Toraja dan diakui seorang pakar luar negeri bahwa memang Enrekang adalah sebagai kiblat segmen suku tertentu di Sulsel.”
Kabupaten Enrekang mempunyai bahasa, adat istiadat, seni budaya, kerajaan dan sejarah sendiri yang dikenal Massenrempulu bukan Bugis dan Toraja seperti ditemukannya situs-situs dan artefak sejarah. Keberadaan sejarah budaya Massenrempulu diakui beberapa pakar sejauh ini belum terkaji secara ilmiah dan digarap untuk dikembangkan demi kepentingan generasi sebagai nilai budaya lokal, padahal dimaklumi nilai-nilai tradisi Massenrempulu cukup kaya.
Akan hal ini budaya Prof Dr Abu Hamid yang sempat dimintai pendapatnya kepada Upeks mengatakan, “Masyarakat Massenrempulu mempunyai kemauan keras untuk menunjukkan sebagai etnis yang sejajar dengan etnis yang sudah ada, mungkin dimasa lampau belum sempat memperoleh peluang karena kondisi sosial, ekonomi dan politik bisa jadi kesimpulan ini benar,” katanya. Karena itu begitu banyaknya bukti peradaban situs dan artefak sepatutnya dibentuk semacam lembaga kebudayaan Maspul untuk melakukan penelitian, pengkajian untuk mendukung kajian secara ilmiah. (syamsul)