JANJI panitia Gelar Budaya Sulsel untuk menampilkan mumi dalam pameran budaya, diwujudkan. Dua sosok mumi berjenis kelamin laki-laki yang dibawa oleh Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala dan dipamerkan di Gedung Natiro Mata, mulai 27 Mei hingga 29 Mei.
DUA sosok mayat laki-laki dengan tulisan Mumi di dekat kepala dan kakinya, terbujur kaku dalam sebuah kotak kaca berukuran 100×80 cm. Dari pintu Gedung Natiro Mata, kedua mumi itu sulit terlihat. Pasalnya, di sisi kiri maupun kanan tempatnya dibaringkan, puluhan warga berdiri dan saling berdesakan untuk mengabadikannya.

Selain masyarakat puluhan polisi berpakain dinas dan preman juga berjaga-jaga. Mereka diinstruksikan khusus oleh Kapolres untuk menjaga keamanan dua mumi yang bernilai tinggi.

Kedua mumi yang pernah dibawa ke Kendari itu memang menjadi tontonan paling menarik di lokasi pameran. Kesan takut pada mayat, sepertinya tak terlihat dari wajah-wajah warga yang datang menyaksikan mumi yang ditemukan di Mamasa dan Toraja itu.

Kedua mumi yang tinggal tulang terbungkus kulit, menurut salah seorang pegawai Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar, Irwani Rasyid, adalah barang sitaan yang berhasil diselamatkan Polres Polman 1994 silam. Salah seorang warga yang berniat membawa mumi itu ke Makassar, tertangkap oleh petugas. Akhirnya mumi itu diserahkan ke BP3 Makassar untuk dirawat dan dilestarikan.

Menurut Irwani, selama dalam penanganan BP3, kedua mumi itu sudah beberapa kali diteliti oleh ilmuwan, termasuk salah seorang professor asal UGM Yogyakarta. Hanya saja, usia mumi tersebut sampai saat ini belum bisa diketahui pasti.

“Profesor Palea, Antropolog UGM saat meneliti mumi itu hanya bisa memastikan bahwa mumi saat meninggal berusia 25 tahun dan tingginya sekitar 155 cm. Sementara mumi yang ditemukan di Toraja saat meninggal usianya baru 15 tahun,” beber Irwani.

Kedua mumi itu, menurut Irwani, bisa awet karena daun-daunan dan akar-akaran. Saat meninggal, mumi yang asal Mamasa itu kemungkinan dalam keadaan yang bahagia.

“Itu bisa dilihat dari posisi dan model tangannya. Sepintas, mumi asal Mamasa itu seperti janin dalam perut. Posisi tangannya, menurut kepercayaan Buddha, katanya merupakan simbol kebahagiaan,” beber Irwani.

Di tempat terpisah, Ketua Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri, mengatakan bahwa kedua mumi itu merupakan aset kebudayaan Sulsel dan Indonesia. Menurut Iwan, sudah pernah ada yang menawar Rp4 miliar.

“Kalau mau kaya, para arkeolog atau pegawai BP3 sudah menjualnya. Tapi itu tidak boleh dilakukan meskipun sudah ada yang menawar. Sebab mumi adalah aset besar. Bahkan tempat penemuannya pun harus dirahasiakan. Sebab jika diketahui khalayak, bisa jadi akan ada oknum yang melakukan pencarian untuk kepentingan sendiri,” katanya.

“Di Sulsel ini boleh jadi masih ada yang lain. Sebab, sejak dulu nenek moyang kita sudah punya pengetahuan yang baik soal pengawetan mayat. Termasuk di antaranya bisa dilihat di Tator. Hanya saja yang di Tator bukan mumi sebab tinggal tulang belulang saja dan tidak ada lagi dagingnya. Juga yang banyak di Tator disebut Erong atau kalau di Enrekang dinamai Mandu-mandu,” jelasnya. (*)

Iklan