Gua, gunung, sungai, dan air terjun. Semua ada di bumi Enrekang. Kabupaten yang terletak antara kilometer 196 dan kilometer 281 di utara kota Makassar ini, menjadi salah satu alternatif daerah yang harus dikunjungi jika ke Sulawesi Selatan.

Salah satu gunung yang terkenal di daerah ini adalah Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya yang unik, menyerupai kelamin manusia. Gunung yang kerap pula disebut Gunung Nona ini bisa disaksikan dari pinggir jalan raya, saat menuju kota Enrekang.

Di daerah ini juga terdapat Gunung Bambapuang yang memiliki ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan panorama sunrise dan sunset yang memukau dari lereng gunung ini. Saat itu, bola matahari yang berwarna kemerahan tampak begitu jelas. Di lereng gunung ini pula, terdapat sejumlah bunker milik tentara Jepang.

Menurut mitos dan legenda yang diyakini masyarakat setempat, Gunung Bambapuang adalah tempat di mana pemerintahan dan peradaban manusia di Sulawesi Selatan, bermula. Tempat itu persisnya berada di Lura Bambapuang, salah satu kawasan yang dialiri Sungai Saddang — sungai terpanjang di Pulau Sulawesi.

Orang-orang Bugis menghormati tempat tersebut dan menyebutnya tana ri galla tana riabbusungi (negeri suci yang dihormati). Bahkan hingga kini, masyarakat Toraja yang merupakan tetangga dari daerah ini, selalu menyerahkan sekerat daging bagi leluhurnya di Bambapuang setiap kali mereka menggelar pesta.

Dulu, daerah penghasil buah salak ini dinamakan ‘negeri seribu gua’. Sedikitnya ada 20 buah gua di daerah ini yang memang menawarkan pemandangan eksotis. Salah satu gua yang terkenal dengan stalaktit dan stalakmitnya adalah Gua Bubau, yang terletak di Asaan Baraka. Selain itu, ada pula Gua Pusallo yang berlokasi di Limbuang Maiwa, serta Gua Tappa di Maiwa. Gua-gua tersebut sangat menarik untuk ditelusuri oleh para petualang.

Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja di sebelah utara, Kabupaten Luwu di bagian timur, Kabupaten Sidrap di sebelah selatan, dan Kabupaten Pinrang di sebelah barat. Enrekang memiliki wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian antara 70 sampai 3.000 meter di atas permukaan laut. Salah satu gunung yang terkenal adalah Gunung Latimojong yang memiliki ketinggian 3.239 meter di atas permukaan laut, dan merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Selatan.

Enrekang juga memiliki beberapa sungai besar seperti Sungai Tabang, Sungai Mata Allo, Sungai Mamasa, dan Sungai Saddang. Sungai Saddang yang melewati pusat kota Enrekang dan mengalir menuju Selat Makassar merupakan salah satu ajang rafting yang mulai diminati. Derasnya arus sungai serta medan yang berat menjadi tantangan tersendiri bagai para pencinta olahraga air untuk menaklukkan Sungai Saddang.

Hal lain yang layak dinikmati dari bumi Enrekang adalah air terjun dan kolam renang alami. Air terjun Lewaja yang berada sekitar empat kilometer ke arah selatan kota Enrekang merupakan tempat relaksasi yang sangat alami. Air terjun ini selalu ramai dikunjungi oleh warga Enrekang maupun mereka yang datang dari luar Enrekang. Lewaja juga dikenal sebagai tempat suci yang dipakai untuk ritual mandi bersama masyarakat Enrekang sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Enrekang juga menjanjikan kepuasan bagi para penyuka flora, utamanya anggrek. Beragam jenis anggrek tumbuh dan terpelihara dengan baik di sini. Sebut saja misalnya, anggrek bulan, anggrek kalajengking, bahkan jenis anggrek langka seperti anggrek hitam pun masih bisa ditemui. Sementara binatang yang dilindungi seperti monyet dan kerbau kerdil hidup bebas di kaki-kaki perbukitan.

Kekayaan budaya
Budaya Enrekang bervariasi dan kaya akan percakapan serta kata-kata santun. Ia terletak di antara kelompok etnik Sulawesi Selatan yakni Toraja, Luwu, Bugis, dan Mandar.

Masyarakat di daerah berhawa sejuk ini juga mengenal tradisi Maccera Manurung. Upacara adat ini hanya dilakukan delapan tahun sekali selama empat hari berturut-turut. Tak heran, jika perhelatan ini akan digelar, banyak warga Enrekang di perantauan menyempatkan diri pulang kampung untuk menyaksikan upacara ini.

Menurut Agus Riadi, pegawai Dinas Pariwisata Enrekang, upacara ini dipandu oleh pemangku adat. Para pemangku adat tersebut diwajibkan menjalani masa-masa pantangan sebelum perhelatan dimulai. ”Mereka pantang memakan sayur seperti kangkung, daun ubi, juga daging kambing serta garam,” kata Agus.

Upacara berlangsung dalam empat tahap. Tahap pertama yakni menabuh gendang yang bertujuan untuk membangkitkan tanah. Masyarakat setempat meyakini, tanah adalah inti dari seluruh jagat sehingga dialah yang pertama kali dibangunkan. Gendang yang ditabuh adalah sebuah gendang tradisional yang hanya dikeluarkan saat upacara adat ini. Orang-oang yang hadir menyaksikan upacara ini biasanya berusaha merebut kayu-kayu yang berjatuhan di sekitar gendang, yang dipercaya memiliki keampuhan mengobati berbagai penyakit. Ritual menabuh gendang tua itu dilakukan pada hari Jumat.

Ritual selanjutnya adalah Majjaga. Dalam acara ini dipersembahkan tari-tarian sebagai simbol kesetiaan kepada raja dan kerajaan. Para penari yang kebanyakan laki-laki, menari dengan bertelanjang dada di tengah hawa yang dingin.

Rangkaian upacara selanjutnya adalah Liang Wae, yakni mengeluarkan air dari pusat bumi. Mereka melakukan ritual dengan berdoa di sebuah lubang sumber mata air yang terletak di tengah hutan dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Saat mereka berdoa, air tersebut akan memancar keluar dari lubangnya. Jika mata air tersebut tidak memancar keluar, maka seluruh warga kampung harus bersiaga dengan kemungkinan buruk seperti gagal panen, atau akan ada orang yang menjadi gila di kampung itu.

Sebaliknya jika mata air itu memancar, air tersebut akan jadi rebutan. Para perantau yang sudah lama meninggalkan Enrekang biasanya paling bersemangat memperebutkan air itu. ”Air tersebut dipercaya bisa membawa berkah atau menambah rezeki bagi yang menyimpannya,” terang Agus.

Prosesi terakhir dari rangkaian upacara Maccera Manurung ini adalah Mappeong, yakni pemberian persembahan kepada leluhur. Persembahan tersebut, kata Agus, diberikan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diperoleh masyarakat selama delapan tahun. Salah satu ‘menu’ persembahan yang selalu ada adalah beras pulut yang dimasak dalam bambu dan dibakar. Anda kenal makanan ini? Yap, itulah lemmang.(ina )

Iklan