Pernah membayangkan, ada satu kampung tanpa seorang pun yang mengisap rokok? Jika Anda ingin melihatnya, datanglah ke Kabupaten Enrekang, tepatnya di Kampung Bone-Bone. Kampung yang sejuk dan asri ini terhampar di kaki Gunung Latimojong.

Untuk mencapai kampung Bone-Bone, Anda terlebih dahulu harus melewati Kampung Baraka. Jangan khawatir, kampung ini bisa dicapai dengan kendaraan roda empat. Namun tahun lalu, menuju Bone-Bone hanya bisa dilakukan dengan mengendarai sepeda motor, kuda, atau berjalan kaki.

Memasuki kampung Bone-Bone, Anda akan melihat rumah-rumah penduduk berupa rumah panggung yang dibangun di dasar bukit hingga pada ketinggian 200 meter. Rumah-rumah itu didirikan bersusun-susun di atas lereng bukit sehingga tampak sangat indah. Kepala Kampung Bone-Bone, Ikhsan, mengatakan, warganya berjumlah sekitar 80 kepala keluarga, atau lebih dari 500 orang.

Di tengah kampung ini terdapat lapangan sepak bola, sebuah masjid berukuran 17 X 17 meter, dan sebuah sekolah dasar. Menurut Ikhsan, sudah lebih dari 10 tahun tak satu pun penduduk kampung ini yang merokok. ”Tak ada aturan tertulis, tapi masyarakat mematuhinya,” ujar Ikhsan.

Bagi warga pendatang, biasanya diberi kesempatan tiga hari saja untuk merokok di kampung itu. Lewat dari tiga hari, pendatang tak boleh lagi mengepulkan asap rokok di kampung ini. Bagaimana jika ingin sekali merokok? Tak ada jalan lain, mereka harus keluar dulu dari kampung Bone-Bone.

Tapi belakangan ini, diakui Ikhsan, ada warga kampung ini yang diam-diam mulai merokok. Walau dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetap saja ketahuan. ”Sebab, warga di sini sangat sensitif dengan aroma tembakau. Jadi kalau ada yang merokok, pasti ketahuan,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai kampung tanpa asap rokok, Bone-Bone juga bisa menjadi daerah percontohan bagi penegakan syariat islam. Para ibu di kampung ini hampir seluruhnya mengenakan busana Muslim dan menutup aurat. Begitu pun anak-anak perempuan.

Dalam pergaulan sehari-hari, juga terlihat jelas ada pemisahan antara kaum lelaki dan perempuan. Anak-anak yang sedang bermain pun terlihat berkelompok dengan sesama jenisnya. Dan saat tiba waktu shalat, ketika azan mulai berkumandang, warga Bone-Bone pun langsung bersiap menunaikan kewajiban mereka selaku Muslim. Mereka hentikan sejenak aktivitas yang tengah dijalani, dan selanjutnya melakukan shalat berjamaah.

(ina )

Iklan