Jalan-jalan ke Enrekang, tak lengkap jika Anda belum mencicipi dua makanan khas daerah ini: dangke dan pulu mandoti. Ke manapun Anda berpetualang di Sulawesi, tak akan menemukan dua makanan ini kecuali di Enrekang.

Dangke kerap pula disebut keju Enrekang. Dangke sebetulnya adalah susu kerbau yang dibekukan. Pembekuannya dilakukan dengan cara dimasak terlebih dahulu kemudian diberi enzim papain dari getah pepaya. Enzim inilah yang secara alamiah akan mengubah susu kerba itu menjadi padat akibat terjadinya pemisahan protein dan air.

Enzim papain ini diperoleh dengan cara menggores pepaya muda sehingga getahnya keluar. Setelah susu telah menggumpal, pemberian getah pepaya dihentikan agar rasa dangke tidak berubah menjadi pahit. Usai dimasak, adonan susu siap dicetak dalam tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua bagian.

Jika telah membeku, dangke bisa langsung dimakan dengan cara diiris seperti keju lembaran. Rasanya gurih dengan warna putih kekuningan. Jika tak ingin memakannya langsung, dangke bisa dipanggang maupun digoreng. Aroma dangke memiliki kekhasan yang mengingatkan kita pada aroma keju parmesan.

Nah, dangke ini paling pas dinikmati dengan pulu mandoti. Pulu mandoti adalah nama salah satu jenis beras ketan. Keistimewaannya adalah, saat dimasak, beras ini akan mengeluarkan aroma yang sangat wangi mirip aroma daun pandan.

Istilah pulu mandoti yang diberikan kepada beras ketan ini konon karena aromanya yang bisa tercium hingga jarak 50 meter. Uniknya lagi, aroma pulu mandoti ini hanya bisa muncul jika ditanam di daerah Baraka, salah satu desa di Enrekang. Pernah suatu ketika seseorang mencoba menanam bibit beras tersebut di daerah lain. Apa hasilnya? Aroma khas dari beras ketan ini tidak muncul.

(ina )

Iklan