ENREKANG– Kasus pencurian batu nisan purbakala di Desa Bolong, Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang, mulai meresahkan warga. Pasalnya, batu nisan yang diincar oknum yang tidak bertanggung jawab itu adalah batu nisan kuburan peninggalan Kerajaan Duri. Datan, 75, warga Desa Bolang, kepada sejumlah wartawan, kemarin, menjelaskan pencurian itu mulai marak sejak tiga bulan terakhir. Namun sampai saat ini belum satu pun pelaku yang diamankan aparat.Barang-barang yang menjadi incaran pencuri, selain batu nisan kuburan, ada pula peti mayat serta guci peninggalan Kerajaan Duri atau Kerajaan Bolong yang dimakamkan bersama pemiliknya.

“Kejadian ini sudah tiga bulan terakhir berlangsung, tetapi belum ada yang ditangkap. Mereka biasanya beraksi pada malam hari, sementara letak kuburan jauh dari perkampungan,” jelas Datan.

Menurut Datan, dalam kurun waktu tiga bulan, sudah ada 20 batu nisan beserta peti mayat yang raib dari makam zaman purbakala itu. Ia mengaku sulit melakukan pengawasan karena kuburannya terletak di atas tebing.

Kuburan tersebut merupakan kuburan milik keluarga kerajaan yang memimpin wilayah Tellu Batu Papan (Wilayah Alla, Malua dan Buntu Batu).

Ketua Forum Enrekang, Udin Garing Syamsul Alam menduga pelaku pencurian merupakan sindikat yang selalu menjual barang antik keluar negeri.

Udin bahkan menunjuk kuburan milik Raja Nene Adea Pune berukuran 3×4 m, tinggi sekitar 50 cm, dengan batu nisan berukuran 2 meter berhias ukiran kerajaan, termasuk benda purbakala yang diminati pemburu benda purbakala.

“Ini tidak bisa didiamkan, agar bukti-bukti sejarah Enrekang bisa terjaga dan disaksikan generasi mendatang,” ujarnya. (pl04)