Enrekang Banjir, Ribuan Rumah Terendam, Ketinggian Air 1,5 Meter

ENREKANG, BKM–Jalan poros yang menghubungkan Kabupaten Enrekang dengan Kabupaten Tana Toraja terputus selama empat jam lebih menyusul meluapnya Sungai Saddang dan Sungai Mata Allo di Kabupaten Enrekang, Rabu (11/4) dinihari. Tidak ada korban jiwa, namun sedikitnya 1.500 rumah yang dihuni 5.000 jiwa terendam banjir.
Beberapa kantor pemerintahan, sekolah, masjid dan fasilitas umum lain di Kecamatan Cendana dan Kecamatan Enrekang ikut terendam. Hal ini membuat aktivitas pemerintahan di Enrekang terhenti satu hari penuh. Hingga malam tadi, pemerintah dan masyarakat setempat bahu membahu membersihkan sisa-sisa lumpur.
Banjir yang terjadi sekitar pukul 02.00 Wita ini akibat air Sungai Saddang dan Sungai Mata Allo meluap gara-gara aliran air Sungai Saddang yang begitu kencang menahan aliran Sungai Matta Alo di titik pertemuan dua sungai ini.
Peristiwa banjir kali ini adalah yang ketiga kalinya setelah tahun 1987 dan 1995 lalu. Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung selaku Ketua Satuan Penanganan Bencana langsung turun ke lokasi. Dengan mobil dinasnya La Tinro memasuki wilayah yang terkena banjir hingga mobil yang ditumpanginya ikut terendam.
Terpaksa, untuk menembus daerah yang terendam, La Tinro bersama Sekretaris Satuan Bencana, Umar T, Kepala Dinas PU, H Sugiharjo dan beberapa anggota Satpol Pamongpraja menggunakan perahu karet.
Tim ini memeriksa rumah yang terendam banjir. Satu per satu penduduk diperiksa keselamatannya. Setelah mengelilingi lokasi banjir dengan perahu karet, La Tinro langsung memerintahkan membuat dapur umum dan posko kesehatan. “Semua unit kerja harus terlibat dan membantu korban banjir,” ujar La Tinro menginstruksikan kepada bawahannya.
Kepada wartawan La Tinro mengatakan, banjir yang terjadi di Enrekang akibat arus deras Sungai Saddang sehingga Sungai Mata Allo tidak bisa mengalir. Hal ini membuat air Sungai Mata Allo meluap dan merendam dua kecamatan di Enrekang.
“Banjir seperti ini sudah beberapa kali melanda Enrekang. Saat ini kami tengah berupaya menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

Rombongan PWI Terjebak

Rombongan PWI yang baru memperingati puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Sulsel di Enrekang, Selasa pagi terjebak banjir. Padahal, pagi kemarin, rombongan berencana pulang ke Makassar untuk mengikuti peresmian mess PWI.
Mobil rombongan mogok di tengah banjir. Akibatnya, Ketua PWI Pusat, Tarman Azam terlambat tiba di Makassar.
“Rombongan Pak Tarman terjebak banjir. Mobilnya mogok, makanya dia tidak bisa hadir dalam acara peresmian mess ini,” ujar Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh di gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani, kemarin.
Sehari sebelumnya, PWI sempat melakukan gerak jalan santai di Enrekang. Gerak jalan ini dihadiri ribuan warga Enrekang. Selain itu, juga dilakukan sejumlah pertandingan olahraga. Namun, satu hari setelah puncak acara HPN, Enrekang kebanjiran.

Proyek Revitalisasi Sungai Rusak

Proyek pemindahan arus pertemuan antara Sungai Saddang dan Sungai Mata Allo sementara dikerjakan. Namun, sebelum pelaksanaan proyek yang menelan dana sekitar Rp 11 miliar dari APBN ini rampung, hancur dihantam banjir. Padahal, rencananya revitalisasi pertemuan arus dua sungai ini akan rampung pada Juni 2007 ini.
“Namun sementara pekerjaan proyek berlangsung, tiba-tiba musibah bencana alam terjadi. Berarti ini menghambat penyelesaian proyek ini. Padahal pemerintah sudah bersusah payah melakukan ganti rugi atas lahan warga yang terkena proyek,” katanya.
Sementara itu, Kupang Andaan selaku anggota pelaksana proyek dari PT. Karya Rezeki Panca Mulia kepada BKM yang ditemui di lokasi proyek mengatakan, banjir yang terjadi kemarin telah menghambat proyek tersebut.
Ribuan kubik timbunan tanggul yang telah diletakkan di sepanjang kurang lebih 1,5 km, kata Kupang, habis disapu banjir. Padahal, lanjutnya, pekerjaan itu sudah selesai sekitar 50 persen. “Tapi kami akan tetap selesaikan berdasarkan kontrak kerja yang ada,” katanya sembari menambahkan jika semuanya telah dikerjakan sesuai bestek. (Rahmawati)