Ketua PWI Tarman Azzam Terjebak

ENREKANG– Bencana banjir kembali melanda Bumi Masenrenpulu, Rabu dini hari, kemarin. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah perkantoran serta sekolah-sekolah diliburkan karena gedung kantor dan sekolah terendam banjir.Tidak hanya itu, pasar sentral Kota Enrekang serta sejumlah kawasan pertokoan lainnya ikut terendam banjir. Arus lalulintas di jalan provinsi Kota Enrekang,
lumpuh total selama kurang lebih 8 jam, sehingga Ketua PWI pusat H Tarman Azzam dan beberapa rombongan, yang menghadiri perayaan hari pers nasional di Enrekang, ikut terjebak.

“Saya tidak tahu bagaimana lagi. Mestinya siang ini (kemarin), saya harus di Makassar untuk peresmian gedung PWI Sulsel,” ujar Tarman Azzam.

Dari pantauan Fajar di lokasi bencana, kemarin, tampak sejumlah kantor unit kerja dan instansi pemerintahan yang terendam banjir, seperti dinas pendidikan, dinas perindustrian dan perekonomian daerah, kantor pariwisata, dinas pertamanan dan kebersihan, kantor kejaksaan, kantor pos, badan kependudukan dan keluarga berencana, SMAN 1,
SMK PGRI, SDN 41, SDN 172 dan sejumlah sekolah dasar lainnya.

Kawasan yang paling parah terendam banjir adalah pasar sentral Enrekang dan kantor dinas pendidikan. Genangan air di kawasan ini mencapai ketinggian 3 meter lebih. Data sementara yang
ada di Satkorlak menyebutkan jumlah Kepala Keluarga yang menjadi korban banjir kurang lebih 1.500 KK.

Bupati Enrekang H La Tinro La Tunrung, usai memantau situasi di lapangan dengan menggunakan perahu karet, mengatakan, banjir seperti ini setiap tahun melanda Kabupaten Enrekang. Namun terparah terjadi pada 1987 yang menelan satu korban jiwa lalu tahun 2005 dan 2007 ini.

Dia menjelaskan, bencana ini disebabkan meluapnya dua sungai besar secara bersamaan, yaitu Sungai Saddang dan Sungai Mata Allo. Pertemuan kedua sungai ini kata Bupati, persis di Kota Enrekang, sehingga ketika hujan turun, aliran sungai ini akan meluap dan mengalir ke permukiman warga.

“Ini juga merupakan banjir kiriman dari kabupaten tetangga, Tana Toraja dan Mamasa. Sebenarnya kita sudah mengalokasikan angaran sebesar Rp13 miliar, untuk revitalisasi kedua sungai ini, namun baru diperkirakan rampung tahun ini,” jelasnya, kemarin.
Bupati juga langsung membentuk dapur umum dan posko penanggulangan bencana yang terletak di samping pasar Sentral Enrekang. Bahkan makanan yang dipersiapkan untuk acara peringatan maulid Nabi Besar SAW, kemarin, dialihkan ke dapur umum, untuk dibagikan kepada masyarakat korban banjir.

Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial Enrekang, Drs Umar T, menaksirkan jumlah kerugian yang diakibatkan bencana banjir kali ini mencapai Rp1 miliar lebih.

“Memang kita belum melakukan pendataan, tapi pengalaman ketika bencana serupa pada tahun 2005 lalu, jumlah kerugian di atas Rp1 miliar, bahkan tahun ini diperkirakan lebih besar lagi,” urainya, di posko penanggulangan bencana kemarin.

Data sementara juga menyebutkan bahwa, sejumlah titik yang tenggelam akibat banjir bandang ini, meliputi Kecamatan Enrekang yang terdiri dari Kelurahan Juppandang, Galonta, Leoran, Desa Karueng, Desa Buttu Batu serta beberapa desa di Kecamatan Cendana. “Tapi ini baru data sementara, kita msih tetap melakukan pendataan di lapangan,” luncinya. (pl04)

Iklan