Menikmati nasi selembut kapas sembari menghirup udara segar dan mendengar gemercik air sungai.

Akhirnya saya tiba di Enrekang. Perjalanan bermobil sejauh 267 kilometer dari Makassar untuk sementara berakhir sudah. Dan kepenatan yang mendera semalaman pun perlahan-lahan menguap begitu menyaksikan panorama alam yang disajikan kabupaten di Sulawesi Selatan itu.

Pemandangan alam yang tergelar sungguh menggetarkan. Di bawah sinar matahari pagi, nun di sisi kiri-kanan jalan raya Enrekang-Tana Toraja, menjulang dua gunung yang begitu anggun: Gunung Nona dan Bambapuang. Lereng dan lembahnya nan rimbun tak kalah anggunnya menerima siraman cahaya keemasan matahari yang tengah merambat naik.

Saat mata terus lekat memandang Gunung Bambapuang, tiba-tiba cerita seorang kawan kembali terngiang. Menurut cerita yang berkembang, gunung batu berketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut itu dipercaya masyarakat setempat sebagai tangga penghubung dari bumi menuju ke langit.

Salah satu kawasan di lereng Bambapuang, Lura Bambapuang, juga dipercaya sebagai tempat peradaban manusia Sulawesi Selatan bermula. Masyarakat Bugis sangat menghormati tempat itu. Mereka menyebutnya tana ri galla tana riabbusungi atau negeri suci yang dihormati.

Beberapa waktu lalu, saya bersama empat orang teman bertandang ke Enrekang, bukan lantaran tergoda kawasan negeri sucinya itu, melainkan karena wisata pedesaannya. Khususnya agrowisata yang ditawarkan Desa Kendenan di Kecamatan Baraka, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari ibu kota Kapubaten Enrekang.

Untuk menggapai desa yang bertengger di perbukitan itu memang butuh sedikit perjuangan, terutama sekitar 30 kilometer menjelang Kendenan. Jalanannya berkelok-kelok, menanjak, dan agak rusak. Malah separuh perjalanan harus ditempuh dengan melewati jalan tanah tanpa aspal.

Hanya keindahan alam nan memukau yang membuat saya dan teman-teman terus melaju. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan rimbunnya aneka pepohonan. Yang juga memukau adalah dinding batu yang tegak menjulang, mirip papan tulis raksasa. Di antara dinding itu ada yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mayat. Sejumlah peti mayat alias duni berbahan kayu tampak masih tersimpan di celah-celah batu.

Dan perjalanan terasa kian menyenangkan karena keramahan penduduknya. Misalnya, saat kami singgah sejenak melihat dinding batu yang digunakan sebagai tempat penyimpangan mayat, warga di sekitar lokasi itu tak sekedar menyapa. Mereka malah meminta kami singgah ke rumahnya.

Keramahan juga ditemui ketika kami mampir di sebuah rumah di kota Kecamatan Baraka, kira-kira 30 kilometer sebelum Kendenan. Kami dijamu aneka penganan kecil dan buah salak yang segar-segar. Enrekang memang dikenal sebagai penghasil salak terbaik se-Sulawesi Selatan.

Mobil Kijang yang mengantarkan kami sejak dari Makassar terpaksa harus diparkir. Sebab, rute berikutnya berupa jalan setapak yang sempit, berkelok-kelok, tak beraspal, dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Jadilah saya ajrut-ajrutan di atas sepeda motor ojek selama sekitar dua jam.

Matahari tergelincir ke barat ketika kami tiba di Kendenan. Hawa sejuk pegunungan langsung menyergap. Dan, lagi-lagi, pemandangan alam nan memukau memaku langkah saya. Petak-petak sawah terasering terhampar bagai undak-undakan yang ditutupi permadani hijau. Sebuah sungai yang mengalir di antara bukit dan lembah membuat pemandangan di desa itu kian mempesona.

Terdiri atas tiga dusun, Kendenan menyimpan potensi pertanian sejak ratusan tahun. Masyarakat desa nan damai itu sangat kental dengan tradisi pertaniaannya, terutama bercocok tanam padi. Dan tradisi pertanian itu dipegang kuat secara turun-temurun hingga sekarang.

Menurut Agus Riadi, Ketua Yayasan Torabulan sekaligus pemandu kami, masyarakat setempat percaya bahwa padi dan manusia memiliki derajat sama. Makanya mereka menempatkan rumah dan lumbung padi sejajar. “Orang setempat menamakan lumbung padi itu landa,” kata pegiat lembaga swadaya masyarakat budaya dan pariwisata Enrekang itu.

Landa sudah menjadi pemandangan di desa-desa di Enrekang sejak ratusan tahun lalu. Kepala Desa Kendenan Bakri Punttung menyatakan pada zaman dahulu, landa dibikin untuk menyimpan cadangan makanan. Ketika masa penjajahan, lumbung padi didirikan untuk mengantisipasi gagal panen.

Kini, kata Bakri, fungsi landa masih relatif sama. Ia menjadi tempat cadangan makanan, menjaga kemungkinan terjadi kekeringan dan bencana. Plus, landa digunakan pula sebagai tabungan untuk menggelar suatu prosesi adat, seperti pernikahan dan kematian.

Landa yang menghiasi desa-desa di Enrekang berupa rumah panggung. Tiang dan dinding bangunan yang biasanya beratap rumbia atau seng itu terbuat dari batang pohon banga, yang memang banyak tumbuh di sana. Ukuran landa bervariasi, mulai 2 x 3 meter, 3 x 4 meter, hingga 4 x 5 meter. Menurut Jampi, 60 tahun, pande landa (tukang pembuat landa), semakin besar ukurannya, semakin berada pemiliknya.

Lalu derajat pemiliknya, kata Jampi, juga bisa dilihat dari hiasannya. Jika landa memakai ukiran kerbau, berarti pemiliknya adalah orang biasa-biasa saja. Sedangkan bila hiasannya berupa tanduk kerbau, itu menandakan pemiliknya orang berada atau berkedudukan.

Saat ini di Kendenan memang hanya Jampi yang dipercaya sebagai pande landa. Sebab, pembuat landa tak sembarangan orang. Dia harus mengikuti serangkaian ritual sebelum mulai membuatnya. Kalau salah satu prosesi tak diikuti, menurut kepercayaan setempat, bisa-bisa padi yang ditaruh tak awet dan landa bakal kemasukan tikus.

Menurut Jampi, prosesi pembuatan landa dimulai dengan upacara mappatindak landa. Ritual itu harus digelar pada hari baik, yakni Selasa. Sedangkan Jumat merupakan hari pantangannya, karena dipercaya sebagai hari keras. Lalu tanggal dan tahun pembuatan landa juga harus sama. “Kalau dilanggar, maka bisa dipastikan tikus akan mudah naik dan masuk ke landa.”

Proses pembuatan landa umumnya memakan waktu sekitar 20 hari. Upah pembuatnya adalah padi sebanyak sibasse, sebutan untuk 12 ikat padi, ditambah enam lembar uang benggol, sebutan uang masa lalu. Kini uang yang diberikan setara dengan Rp 60 ribu.

Begitulah. Di Kendenan, daerah berpenduduk 800 jiwa atau 150 keluarga, tiap keluarga memiliki satu sampai empat landa. “Saya punya dua landa,” ujar Bakri. Lokasi landa tiap keluarga berbeda-beda: di halaman rumah atau sekitar sawah. Ada pula yang menempatkannya di lereng atau lembah. Uniknya, ratusan landa di Kendenan banyak yang telah berusia ratusan tahun.

Selain usianya ratusan tahun, isi landa ada yang berusia sampai 100 tahun. Padi setua itu dipercaya manjur menyembuhkan penyakit gula atawa diabetes. Makanya banyak pemilik landa tetap menyimpan padinya meski telah berusia lama. Mereka lebih memilih membangun landa baru jika isinya telah penuh.

Yang menarik, nasi dari padi berusia ratusan tahun sungguh berbeda dengan padi yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Untuk memasak nasi seukuran tiga liter padi biasa, kita hanya cukup mengambil segenggam padi tua itu. Yang lebih menarik adalah rasanya. Saat memakannya, saya merasa seperti menyantap nasi selembut kapas. Alhasil, saya pun terpacu untuk tambah, tambah, dan tambah lagi. IRMAWATI

Iklan