Ketika bertandang ke Enrekang, boleh jadi kita akan menemukan sesuatu yang berbeda dari liburan biasanya. Sebab, sejak tahun lalu, kabupaten yang acap kali menjadi tempat persinggahan para wisatawan yang hendak ke Tana Toraja itu menawarkan agrowisata nan unik.

Ada tiga kecamatan–Alla, Baraka, dan Maiwa–yang dijadikan obyek agrowisata di kabupaten sebelah utara Makassar itu. Dan setiap kecamatan menawarkan jenis agrowisata yang berbeda, sesuai dengan potensinya masing-masing.

Tapi ketiga kecamatan itu memiliki kesamaan dalam sistem pengelolaan wisatanya. Para pengelola wisata di sana tak menyediakan penginapan, seperti hotel, vila, dan sejenisnya. Yang ada, para turis akan diajak berbaur dan menyatu dengan masyarakat. Mereka disiapkan penginapan di rumah-rumah warga. Makanan yang disajikan juga makanan khas setempat.

Kita juga diajak mengikuti segala tetek-bengek kegiatan pertanian dan perkebunan yang menjadi keseharian masyarakat di sana, di antaranya terjun langsung menanam padi, memotong padi, mengikat padi, dan kemudian menyimpannya di landa.

Yang pasti, saya menemukan sebuah kenikmatan tersendiri ketika berada di wilayah pertanian berhawa sejuk itu. Keramahan yang tulus dari pemandu wisata dan penduduk setempat membuat saya betah berlama-lama di sana.

Boleh dibilang, saya tak merasa dilayani hanya karena mengeluarkan duit. Di Enrekang, saya tak seperti sedang berlibur pada umumnya, ketika para pemandu dan pramusaji bersikap ramah lantaran bayaran kita.

Di sana, saya merasa begitu dekat dengan masyarakat, dapat berbaur secara wajar, dan diperlakukan sebagai keluarga sendiri. Keramahan yang saya terima tak palsu. Sungguh, itu memberikan kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai dengan uang. IRMAWATI