BOGOR–MIOL: Ratusan pengunjung memadati lapangan Astrid Kebun Raya Bogor (KRB), Jumat (18/5), untuk memperingati ulang tahun KRB ke-190. Pusat koleksi tumbuhan tropika tertua di Indonesia ini sekaligus mengenalkan 4 kebun raya baru binaannya.
kebun rayaKebun raya yang baru dibuka yaitu di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Kuningan di Jawa Barat, Sungai Weuh di Kalimantan Selatan, dan Liwa di Lampung.

Menurut Kepala KRB Irawati, keempat kebun raya binaan tersebut akan mulai mengaktifkan konservasi modern yang didukung basis data tumbuhan yang terhubung secara online.

“KRB sebagai pembina untuk database dan pertukaran material,” kata dia.

Turut hadir Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Kepala LIPI Umar Anggara Jenie, Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia Megawati Soekarnoputri, serta duta besar negara sahabat.

Ikut diluncurkan lima buku terbitan KRB berjudul Tumbuhan Obat Langka di Pulau Jawa: Populasi & Sebaran, Panduan Penanaman dan Pemeliharaan Tumbuhan Koleksi Kebun Raya, Index Seminum 2007-2009, Kamus Istilah Konservasi, dan Koleksi Sayang Koleksi Tumbang.

Perubahan iklim

Soal perubahan iklim, Irawati menyebutkan, beberapa tanaman mulai terganggu akibat makin panjangnya musim kering dan turunnya kelembaban. Ancaman terbesar lainnya yaitu angin puting beliung yang frekuensinya meningkat dan ditengarai akibat memanasnya suhu global.

“Walaupun kita sudah diberitahu akan ada puting beliung, tetap saja koleksi tidak akan selamat kalau itu terjadi lagi,” tukas Irawati.

Akibat puting beliung 1 Juni 2006, tercatat 273 tumbuhan tumbang dan patah. Berkurangnya jumlah pohon tinggi di wilayah Bogor, sekitar kebun raya, yang telah mengganggu kestabilan ekologis menurut Irawati salah satu penyebab puting beliung langsung mengarah ke kebun raya.

Sementara itu, Kepala Subbidang Reintroduksi Tumbuhan Langka KRB Sutrisno menyebutkan akibat memanasnya suhu. Ia mengamati semakin sulit membibitkan dua spesies langka.

Dari 5.000 bibit Pinanga javana atau pinang Jawa yang ditanam 2006, hanya 1.900 bibit tanaman asli gunung Halimun ini yang tumbuh. Hal yang sama terjadi pada rotan manau (Calamus manau) yang dari 600 bibit, kurang dari 50% yang hidup.

“Padahal tahun sebelumnya semua bibit bisa tumbuh,” ungkapnya.

Data terakhir Subbidang Registrasi Koleksi, hingga Desember 2006 koleksi KRB mencapai 223 suku, 1.261 marga, 3.413 jenis, dan 13.731 individu. KOleksi yang belum teridentifikasi sebanyak 2.332 individu. (CCR/DD/OL-02).

Iklan