“Perdus” Anti-Rokok Disepakati Melalui Pertemuan Terbatas

IDE besar tak selamanya lahir dari pertemuan besar dan mewah. Tengoklah ide awal pemberlakukan “peraturan dusun (perdus)” larangan merokok di Dusun Bonebone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Hanya digagas tak lebih sepuluh orang, tapi “perdus” yang tak tertulis ini, mampu menyelamatkan ratusan jiwa penduduk agar tak tergoda dengan nikmatnya nikotin rokok.Laporan: Kasman ENREKANG

SEJAK lima tahun lalu, warga di Dusun Bonebone telah mengklaim diri sebagai kampung yang bebas nikotin. Klaim ini tentu tidaklah muluk-muluk. Buktinya, sejak kesepakatan lisan ini diterapkan, tak satupun warga di kampung yang terletak di sekitar lereng Gunung Latimojong itu yang berani mengisap rokok.

Padahal, sekadar diketahui, kesepakatan warga Bonebone ini hanya digagas dalam sebuah forum yang terbatas sesama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat. Juga tak ada biaya lazimnya sebuah penyusunan peraturan daerah maupun undang-undang. Apalagi, studi banding. Maklum, warga di kampung ini mayoritas hanya berprofesi sebagai petani.

Meski hanya digagas dalam konsep yang sederhana, toh aturan bersama ini bisa ditaati seluruh warga kampung. Saking taatnya atas aturan larangan merokok ini, Dusun Bonebone seolah menjadi ikon baru bagi Kabupaten Enrekang dalam hal kampanye anti-rokok.

Ironisnya, meski sudah diberlakukan lebih lima tahun dan telah menyelamatkan ratusan generasi, namun perhatian pemerintah daerah, terasa belum maksimal, khususnya dalam hal pembenahan infrastruktur. Malah, Bonebone tetap menjadi dusun terbelakang di Enrekang.

Satu-satunya harapan cerah, sebab nama kampung ini sudah dikenal luas kalangan wisatawan mancanegara (wisman). Kebetulan, Enrekang memang menjadi daerah lintas para wisman yang hendak ke Tana Toraja. Jika para pelancong itu menyempatkan diri untuk mampir di Enrekang, mereka selalu bertanya tentang dusun anti-rokok ini.

Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Enrekang, Djuir Palisuri malah menceritakan, pernah suatu ketika ada rombongan turis datang ke dusun Bonebone dan melihat langsung aktivitas warga di sana. Hasilnya, bule-bule itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sebagai isyarat rasa kagum tradisi masyarakat Bonebone yang mengerti benar bahaya nikotin.

Kegaguman para wisman ini, lebih disebabkan oleh tradisi warga yang dinilainya sangat unik, dan mungkin tak ada bandingannya di dunia ini. Sebab, aturan larangan merokok, semisal di DKI Jakarta saja yang sudah dituangkan dalam bentuk peraturan daerah, hanya diberlakukan di tempat-tempat umum. Itupun masih tetap dilanggar.

“Saya melihat, ini hal yang luar biasa. Satu kampung taat dengan aturan yang disepakati bersama secara lisan dan tidak ada yang tertulis. Itupun ditaati warga secara terus menerus,” kata Djuir Palisuri.

Padahal, jika melihat tempatnya, Bonebone merupakan salah satu dusun yang memiliki cuaca dingin di Enrekang. Itu karena kampung ini ditutupi kabut. “Harusnya mereka tidak tahan kalau tidak merokok. Tapi nyatanya, justru menjadikan rokok itu sebagai lawan,” kata Djuir.

Lantas, bagaimana mulanya aturan larangan merokok ini digagas? Menurut warga di sana, pertemuan antartokoh masyarakat dilakukan di masjid Bonebone dan hanya dihadiri tujuh orang. Mereka merumuskan konsep ini selama tiga jam, tanpa perdebatan yang alot lazimnya sidang-sidang di lembaga legislatif.

“Kebetulan, saat itu tak berselang lama dengan datangnya bulan Ramadan. Sehingga sosialisasinya agak gampang,” kata Kepala Dusun Bonebone, Idris. Mulai saat itu, Idris bersama tokoh masyarakat yang lain gencar menyosialisasikan bahaya merokok. Dalam bahasa ala Enrekang mereka menyadarkan warga dengan jargon: seha’ki yake e’da ta mappelo’ mane yang artinya kurang lebih begini: Tidak merokok itu sehat saudara. (***)

Iklan