Juli 2007


Riuh-rendah tepuk tangan penonton mengiringi suara Master of Ceremony (MC) yang berkerudung tersebut. Maklum, petang setelah pameran Gelar Budaya Komunitas Adat pada 24 Juli lalu diresmikan, malam itu juga empat tarian dari berbagai provinsi langsung ditampilkan.Laporan : Dian Muhtadiah

Antusiasme sekitar 500 penonton langsung terlihat ketika tari-tarian itu digelar pada pukul 20.25 Wita. Satu per satu penari itu keluar dari balik panggung. Berusaha mencuri perhatian penonton, mereka menonjolkan keunikan dari daerah masing-masing.

Yang pertama tampil, tari Melayu dari Kesultanan Serdang. Tari Minang dan Sarampan 12, demikian dua pertunjukan tari yang dimainkan sepasang bujang dan dara. Musik melayu mengiringi ketika para penari itu berlenggak-lenggok. Simbolisasi gerak tangan, hentakan kaki, dan sapu tangan yang digenggam bersama, seolah memaknai arti dari tarian ini. Memang, tari ini berkisah dua anak muda, yang saling berkenalan, berteman, jatuh cinta, dan berikrar untuk menikah. Sebuah karya apik dari almarhum Guru Syauti, seniman dari tanah Melayu.

Disusul pentas kedua, tari Pajaga-jaga dari Enrekang. Kurang lebih dua puluh pelakon lelaki menari di atas panggung dengan kostum hitam. Keris di tangan diacung-acungkan, kemudian mereka membentuk barisan yang berjejer rapi. Saling berhadapan, sesekali saling membelakang lalu membentuk satu bujur haluan. (lebih…)

Iklan

Makassar, Tribun — Imam Masjid Agung 45 Makassar Abdul Hamid diperiksa oleh penyidik Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Makassar, Senin (23/7). Ia diperiksa terkait kasus tuduhan dugaan tindak pidana penggelapan dana kotak amal dan sejumlah perabot Masjid Agung “45”. Pemeriksaan tersebut menyusul laporan Andi Sose selaku pendiri sekaligus Ketua Umum Yayasan Andi Sose ke polisi. Hamid diperiksa sekitar tiga jam di kamar 83 lantai tiga Mapolwiltabes Makassar. Selama pemeriksaan ia ditemani istrinya.

Selain melaporkan ke polisi, sebelumnya Sose juga telah mencopot posisi Hamid sebagai imam, 14 Juli 2007. Pencopotan tersebut merupakan keputusan rapat pimpinan Yayasan Andi Sose dan Rektor Universitas “45” pada 13 Juni 2007.
Ini dilakukan karena Hamid dituduh telah melanggar penggunaan Masjid Agung “45” yang seharusnya untuk ibadah salat, namun digunakan pertemuan bernuansa politis. Selain itu, imam yang telah mengabdi di Masjid Agung 45 selama lebih 20 tahun tersebut juga dituduh tidak pernah memberikan laporan kepada yayasan tentang keluar masuk keuangan masjid.

Kepada Tribun, usai diperiksa, Hamid membantah tuduhan tersebut yang dialamatkan kepada dirinya. Ia mengaku tuduhan tersebut adalah fitnah. Dana kotak amal, katanya, diumumkan setiap hari Jumat dan laporannya ia sudah serahkan.
Hamid menilai kasus ini sebenarnya berawal dari acara doa dan zikir bersama yang dilaksanakan Majelis Taklim Fastabikul Khaer binaan Ustad Dr Rahman Qayyum MA pada Minggu, 10 Juni 2007.

Korban Pilkada
Acara ini memang tidak ia diberitahukan kepada Andi Sose karena setahunya dari panitia zikir dan doa bersama itu tidak dihadiri pejabat.
“Tapi ternyata dihadiri Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Wakil Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Kehadiran wagub inilah yang membuat beliau (Pak Andi Sose) marah. Sampai-sampai mengatakan, kenapa Syahrul bisa datang ke sana. Kenapa kamu tidak larang. Masya Allah. Saya ini boleh dibilang korban pilkada (pemilihan kepala daerah),” tutur Hamid. Diceritakan pria yang telah diberangkatkan haji oleh Andi Sose itu, selama ini ia seorang diri mengelola masjid. Ia pernah mengusulkan agar pengelolaan masjid itu juga melibatkan masyarakat setempat, namun ditolak Andi Sose. Praktis, selain sebagai imam, ia juga muadzin, bendahara, tukang bersih, dan serta seorang diri memperbaiki perabot masjid. (jum)

Sumber: Suriani (Sinar Harapan)

MENYEBUT Tana Toraja, tentu tidak asing lagi bagi siapa saja, bahkan bagi turis mancanegara. Pasalnya, Kabupaten Tana Toraja sudah menjadi ikon pariwisata di Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Pulau Sulawesi.

Namun, Kabupaten Enrekang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, potensinya masih belum banyak diketahui. Daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Maserenreng Pulu’ ini padahal kaya objek wisata. Oleh karena itu, berbicara tentang Enrekang memang enggak ada matinya bagi para pemanjat tebing dan pencinta alam. Rante Mario, misalnya, merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Selain itu, tebing-tebing tinggi nan eksotis seperti Uluway dan Tontonan menjadi tempat berlaga bagi yang haus akan tantangan.

Kabupaten Enrekang yang berlokasi sekitar 276 kilometer dari Kota Makassar ini, secara geografis memang berada di wilayah pegunungan dan hampir sebagian daerah ini terdiri dari pegunungan karst (batu kapur). Tak heran, jika di daerah ini bakal ditemukan berbagai jenis batuan dan anak-anak sungai yang memotong pegunungan yang satu dengan lainnya.
Sebagai daerah yang banyak memiliki kawasan karst, otomatis juga memiliki banyak gua. Salah satu gua yang kerap didatangi pencinta alam, karena terbilang eksotis, penuh tantangan dan memiliki kekhasan yang membedakan dengan gua lainnya adalah Loko Mubau (Gua Mubau). Pemberian nama Gua Mubau oleh masyarakat setempat, karena dari dalam gua ini mengeluarkan aroma/bau khas (seperti bau apek) yang tercium mulai jarak 2 meter dari mulut gua. Entah itu karena batuan yang mulai lapuk atau karena kotoran kelelawar. Yang jelas, bau ini sudah tercium sejak ditemukannya gua ini, hingga sekarang.

(lebih…)

ENREKANG — Kejaksaan Negeri (Kejari) Enrekang, Kamis, 19 Juli, memeriksa Kepala Infokom Enrekang Drs Arfah dan Kabag Humas Pemkab Enrekang, H Andi Sujasman. Pemeriksaan ini terkait dugaan penyelewengan dana Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2006 sebesar Rp1,8 miliar. Arfah dimintai keterangan oleh tim penyidik Kejari
Enrekang, Margaretha SH, karena dalam penyelenggaraan MTQ yang digelar di Massenrempulu itu, Arfah tercatat sebagai anggota panitia seksi publikasi dan dokumentasi.

Arfah memenuhi panggilan penyidik sekitar pukul 12.00 Wita siang kemarin. Pemeriksaan Arfah berakhir pukul 13.30 Wita.

(lebih…)

Dari Total Rp25,6 M Deal Lelang Komodi Agro ke-17

MAKASSAR — Dua varietas beras IR64 dan Ciliwung, berhasil mencatat transaksi terbesar pada lelang komoditi agro ke-17 yang digelar di P3ED Sulsel kemarin. Kedua varietas tersebut diorder pengusaha asal Jawa sekitar Rp16,433 miliar lebih.Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel H Amal Natsir, pada Fajar usai lelang digelar mengatakan perolehan transaksi ini menunjukkan tren peningkatan dari kegiatan sebelumnya. Peserta dan komoditinya pun kian variatif.

“Ini menunjukkan bahwa penjualan langsung untuk mendapatkan harga berdasarkan kesepakatan sangat efektif. Karena itu kita akan terus mengembangkan, agar bisa menjadi media pemasaran komoditi-komoditi unggulan Sulsel,” urai Amal Natsir.

Sementara Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri Hadi Basalama, menyebutkan pada lelang spot yang terjadi kemarin, total transaksi mencapai Rp25,642 miliar lebih. Dari total transaksi itu, dua varietas beras (IR64 dan Ciliwung) berada di puncak dengan nilai transaksi sekitar RpRp16,434 miliar.

Selain beras, kacang tanah juga berhasil mencatat transaksi yang signifikan yakni sekitar Rp1,6 miliar, kelapa (kopra) Rp5,04 miliar, marica (lada) Rp1,66 miliar serta rumput laut jenias glacilaria Rp428 juta.

Komoditi lain mencetak transaksi adalah cabe merah besar asal Enrekang denga nilai sekitar Rp285 juta, komoditi jahe Rp140 juta, jeruk pamelo Rp56 juta. “Kegiatan ini terus meningkat dari waktu ke waktu, baik nilai transaksi, jenis komoditi maupun pesertanya,” kata Hadi Basalama.

Lelang Spot Enrekang (lebih…)

MAKASSAR — Seorang karyawan rumah bernyanyi Happy Puppy, Suhartini alias Tini, 19, ditemukan tewas di kamar kosnya Pondok Armiyati, Jl Rappocini Lr 9 No 9B, sekitar pukul 14,00 Wita, Minggu, 8 Juli. Dugaan sementara, Suhartini tewas karena overdosis.Korban yang berasal dari Enrekang ini, awalnya ditemukan Afdal, seorang mahasiswa yang tinggal di Pondok Al Amin Jl Mannuruki II, ketika datang bertamu di kamar milik korban Minggu siang kemarin.

Afdal yang masih satu kampung dengan korban kaget ketika melihat kondisi korban sudah kaku. Dari mulut dan hidung keluar busa serta darah segar. Dia pun berteriak histeris dan menyampaikan kepada rekan-rekannya yang berada di sebelah kamar Tini. “Saya kaget waktu mau bertamu. Pas buka pintu, saya lihat dia sudah mati. Saya panggil Hastuti yang berada di kamar sebelah korban, dan bersama-sama masuk melihatnya. Tapi kita tidak sentuh korban,” kata Afdal kepada polisi.

(lebih…)

ENREKANG–Ribuan komunitas tuna netra yang ada di Enrekang menyatakan dukungannya kepada pasangan Amin Syam-Mansyur Ramly dalam pemilihan gubernur Sulsel, November mendatang. Pernyataan dukungan itu disampaikan Ardi, perwakilan tuna netra Enrekang saat bertemu Amin Syam di gedung Islamic Centre, Alla Enrekang, Rabu, 4 Juli kemarin.Sebagai wujud kecintaannya kepada Amin, tiga tuna netra di Enrekang mempersembahkan dua buah lagu yang khusus diciptakan buat Amin. Selain tuna netra, calon gubernur dari Partai Golkar itu juga menerima dukungan dari asosiasi pengusaha minyak tanah.

Bupati Enrekang, H La Tinro La Tunrung, serta beberapa pejabat Pemkab, camat dan kades turut mendampingi Amin di Enrekang. Selain silaturahmi Kesempatan itu, dirangkaikan pula dengan penutupan turnamen sepak bola Amin Syam Cup II.

Di aula Rujab Bupati Enrekang, Amin mengikuti sunatan massal. Kesempatan itu dimanfaatkan Amin lagi melakukan pertemuan dengan tokoh agama dan muspida. Pertemuan mereka ditutup dengan pengukuhan tim relawan Amin Syam-Mansyur Ramly di tiga kecamatan.

Dalam pertemuan tersebut, Amin meminta agar tokoh masyarakat di Bumi Massenrempulu memberikan doa dan
dukungannya dalam pemilhan gubernur mendatang.

“Jangan biarkan saya sendirian berjuang, karena saya juga adalah orang Massenrempulu, saya berharap teman-teman
sekalian bisa memberikan dukungannya kepada saya dan pak mansyur,” ujar Amin.