Makassar, Tribun — Imam Masjid Agung 45 Makassar Abdul Hamid diperiksa oleh penyidik Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Makassar, Senin (23/7). Ia diperiksa terkait kasus tuduhan dugaan tindak pidana penggelapan dana kotak amal dan sejumlah perabot Masjid Agung “45”. Pemeriksaan tersebut menyusul laporan Andi Sose selaku pendiri sekaligus Ketua Umum Yayasan Andi Sose ke polisi. Hamid diperiksa sekitar tiga jam di kamar 83 lantai tiga Mapolwiltabes Makassar. Selama pemeriksaan ia ditemani istrinya.

Selain melaporkan ke polisi, sebelumnya Sose juga telah mencopot posisi Hamid sebagai imam, 14 Juli 2007. Pencopotan tersebut merupakan keputusan rapat pimpinan Yayasan Andi Sose dan Rektor Universitas “45” pada 13 Juni 2007.
Ini dilakukan karena Hamid dituduh telah melanggar penggunaan Masjid Agung “45” yang seharusnya untuk ibadah salat, namun digunakan pertemuan bernuansa politis. Selain itu, imam yang telah mengabdi di Masjid Agung 45 selama lebih 20 tahun tersebut juga dituduh tidak pernah memberikan laporan kepada yayasan tentang keluar masuk keuangan masjid.

Kepada Tribun, usai diperiksa, Hamid membantah tuduhan tersebut yang dialamatkan kepada dirinya. Ia mengaku tuduhan tersebut adalah fitnah. Dana kotak amal, katanya, diumumkan setiap hari Jumat dan laporannya ia sudah serahkan.
Hamid menilai kasus ini sebenarnya berawal dari acara doa dan zikir bersama yang dilaksanakan Majelis Taklim Fastabikul Khaer binaan Ustad Dr Rahman Qayyum MA pada Minggu, 10 Juni 2007.

Korban Pilkada
Acara ini memang tidak ia diberitahukan kepada Andi Sose karena setahunya dari panitia zikir dan doa bersama itu tidak dihadiri pejabat.
“Tapi ternyata dihadiri Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Wakil Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Kehadiran wagub inilah yang membuat beliau (Pak Andi Sose) marah. Sampai-sampai mengatakan, kenapa Syahrul bisa datang ke sana. Kenapa kamu tidak larang. Masya Allah. Saya ini boleh dibilang korban pilkada (pemilihan kepala daerah),” tutur Hamid. Diceritakan pria yang telah diberangkatkan haji oleh Andi Sose itu, selama ini ia seorang diri mengelola masjid. Ia pernah mengusulkan agar pengelolaan masjid itu juga melibatkan masyarakat setempat, namun ditolak Andi Sose. Praktis, selain sebagai imam, ia juga muadzin, bendahara, tukang bersih, dan serta seorang diri memperbaiki perabot masjid. (jum)

Iklan