Riuh-rendah tepuk tangan penonton mengiringi suara Master of Ceremony (MC) yang berkerudung tersebut. Maklum, petang setelah pameran Gelar Budaya Komunitas Adat pada 24 Juli lalu diresmikan, malam itu juga empat tarian dari berbagai provinsi langsung ditampilkan.Laporan : Dian Muhtadiah

Antusiasme sekitar 500 penonton langsung terlihat ketika tari-tarian itu digelar pada pukul 20.25 Wita. Satu per satu penari itu keluar dari balik panggung. Berusaha mencuri perhatian penonton, mereka menonjolkan keunikan dari daerah masing-masing.

Yang pertama tampil, tari Melayu dari Kesultanan Serdang. Tari Minang dan Sarampan 12, demikian dua pertunjukan tari yang dimainkan sepasang bujang dan dara. Musik melayu mengiringi ketika para penari itu berlenggak-lenggok. Simbolisasi gerak tangan, hentakan kaki, dan sapu tangan yang digenggam bersama, seolah memaknai arti dari tarian ini. Memang, tari ini berkisah dua anak muda, yang saling berkenalan, berteman, jatuh cinta, dan berikrar untuk menikah. Sebuah karya apik dari almarhum Guru Syauti, seniman dari tanah Melayu.

Disusul pentas kedua, tari Pajaga-jaga dari Enrekang. Kurang lebih dua puluh pelakon lelaki menari di atas panggung dengan kostum hitam. Keris di tangan diacung-acungkan, kemudian mereka membentuk barisan yang berjejer rapi. Saling berhadapan, sesekali saling membelakang lalu membentuk satu bujur haluan.

Tarian ini memaknai arti dari sebuah keamanan yang hanya dapat tercipta dari kebersamaan. Di tengah pertunjukan, tiba-tiba seorang anak perempuan berteriak di antara penonton, “Sahuuur…sahuur…! ” yang kontan langsung disambut gelak tawa penonton. Ternyata, perhatian anak ini tertuju pada adegan hentakan kaki dari penari-penari itu. Maklum, bunyinya bersamaan dengan bunyi gendang bertalu-talu dalam tarian tersebut.

Dilanjutkan pertunjukan ketiga, sebuah persembahan dari YAMA (Yayasan Anging Mammiri) dan Makassar Art. Tari Salamaki Rilota, sebuah tari yang berkisah tentang arti keselamatan, kesejahteraan, dan keadilan. Diawali dengan narasi berbahasa Makassar, narator tersebut bercerita tentang bumi yang mulai tak bersahabat dengan manusia. Kondisi tersebut ditandai dengan bencana yang terjadi di mana-mana. Visualisasi gerak yang didukung sekitar dua puluh pemain lelaki dan wanita ini juga ditunjang dengan video recorder yang terpampang dalam screen panggung. Dalam layar panggung tersebut, disajikan suatu rentetan peristiwa bencana yang pernah terjadi, mulai gempa tsunami, angin puting beliung, hingga banjir Sinjai .

Ternyata, malam tari itu juga makin dimeriahkan dengan penampilan tari Balian Bao dari Sendawar, sebuah kampung yang berada di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tari ritual ini berkisah tentang alternatif penyembuhan cara tradisional. Maklum, fasilitas kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit di Sendawar masih terbilang jauh dari perkotaan. Tari yang tercipta di kampung yang jaraknya 300 km dari kota Samarinda ini diawali dengan empat orang lelaki yang menari sambil memegang ikatan daun. Tiba-tiba, muncul dua wanita yang memboyong seorang lelaki tua. Lelaki ini segera direbahkan. Keempat penari tadi mengitarinya dengan iringan doa-doa disertai kibasan daun tersebut. Penampilan ini makin semarak dengan dukungan alunan gendang yang bertalu-talu. Konon, gendang tersebut terbuat dari kulit binatang, yakni kulit komodo. “Saya senang, besok malam mau nonton lagi,” kata Adi, salah seorang pengunjung.

Malam itu, penonton tidak saja terpuaskan dengan kehadiran para penari tersebut yang datang jauh-jauh dari berbagai pelosok negeri ini. Ternyata, tarian khas daerah tidak saja memiliki daya pikat sendiri, namun sarat makna. Bagi pengunjung yang ingin mengetahui langsung kekayaan adat-istiadat bumi Indonesia, dapat juga mengunjungi 18 stan dan satu ruangan (meeting room). Di sana, berbagai hasil kerajinan seni anak bangsa yang mewakili 604 suku di Indonesia, tersaji memikat. (bersambung) Sumber Fajar