ENREKANG — Untuk kesekian kalinya, para petani tomat di Kabupaten Enrekang, menjerit lantaran harga komoditi mereka anjlok. Akibatnya, para petani membiarkan tomatnya membusuk di ladang.Hal ini sangat ironis karena disaat hasil panen petani melimpah, justru harga di pasaran anjlok. Ini dialami petani sejak dua bulan terakhir. Para petani sangat mengharapkan campur tangan dari pemerintah untuk meminimalkan kerugian mereka.

Seperti yang dialami ratusan petani di Desa Singki Kecamatan Anggereja, ratusan petani tomat di daerah tersebut, lebih memilih membiarkan tomat mereka membusuk di ladang ketimbang membawanya ke pasar.

“Kalau kita petik atau bawa ke pasar, lebih banyak biayanya, dan itu akan semakin membuat kita rugi, makanya kita biarkan saja membusuk di kebun,” ujar Kepala Desa Singki, Darung, yang ditemui Fajar di kebunnya siang kemarin.

Menurut Darung, tomat yang ditanam para petani saat ini, yakni jenis spirit, sinta dan cosmono. Namun harga semua jenis tomat anjlok. Darung melanjutkan, tomat petani saat ini hanya dihargai oleh pedagang Rp10-15 ribu per basket (keranjang besar). Setiap basket rata-rata berisi antara 50 hingga 60 kilogram.

“Kalau begini kan sangat merugikan kita. Sebelumnya harga tomat di pasaran masih mencapai Rp 120 hingga 160 ribu per kilogram, tapi sekarang sudah jauh dari harapan,” paparnya.

“Bahkan kalau hari pasar, kadang tomat kita buang begitu saja, karena selain harganya yang sudah murah, pembeli pun tidak ada, jadi kita serba sulit pak,” lanjutnya.

Pernyataan Darung dibuktikan dengan tumpukan tomat yang dijejer petani disepanjang jalan di Desa Singki. Para petani yang sudah terlanjur memetik tomatnya, memilih menumpuk tomat mereka di pinggir jalan hingga membusuk.

Tak hanya tomat, harga sayur kubis (kol) pun juga anjlok, dari harga normal Rp 700 per kilogram, kini turun menjadi Rp 200 per kilogram. “Tidak ada jalan lain pak, kecuali pasrah, dan berharap belas kasihan dari pemerintah, karena ini akan semakin membuat kami menderita,” ujar Hajar, 27, salah satu petani kol di Desa Singki.(k4).

Iklan