Saling Lempar di Lapangan Singki

ENREKANG — Ratusan petani tomat di Desa Singki Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang “mengamuk”. Mereka menggelar aksi protes sebagai buntut dari anjloknya harga komoditi tomat di pasaran. Amarah petani tersebut dilampiaskan di lapangan sepak bola Singki, Kamis 18 Oktober, kemarin.Para petani kompak mengumpulkan tomat mereka di lapangan untuk kemudian di hancurkan dengan cara diinjak-injak. Belum puas dengan aksi tersebut, para petani kemudian melanjutkan aksinya dengan cara saling lempar tomat. Dalam aksi itu, ratusan karung tomat petani dihancurkan.

Aksi yang mengundang perhatian penduduk dari berbagai desa di Kabupaten Enrekang itu, tak hanya diikuti oleh para petani. Ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) yang masih berpakaian seragam pun juga ikut menghancurkan hasil panen orang tua mereka.

Dalam aksinya, para petani ini juga membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan meminta perhatian pemerintah. Para petani berharap agar pemerintah memberikan harga standar untuk menghindarkan masyarakatnya dari kerugian.

“Kami sudah melarat, sementara anak-anak juga butuh biaya sekolah yang setiap tahun makin naik. Tapi kenapa harga komoditi petani justru makin anjlok. Mana perhatianmu pemerintah,” ujar salah seorang petani, di tengah aksinya.

Kepada wartawan, Kepala Desa Singki, Darungan mengatakan bahwa, aksi masyarakat ini dilakukan sebagai wujud protes mereka akibat anjloknya harga di pasaran. Menurutnya, jika pada bulan lalu, tomat masih dihargai Rp Rp4000 per kilogram, kini anjlok menjadi Rp150 per kilogram.

Darungan menambahkan, jika komoditi mereka dijual ke pasaran, maka itu akan menambah kerugian mereka. Untuk itu, mereka lebih memilih membiarkan tomatnya membusuk di ladang.

“Kalau kita bawa ke pasar, maka harga yang kita peroleh tidak mampu menutupi biaya transportasi, artinya akan semakin menambah kerugian kita. Makanya lebih baik kita biarkan saja membusuk,” ungkap Darungan.

Kepala Bidang Holtikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang, Rohani Toto mengakui jika harga di pasaran saat ini mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan lanjutnya, harga tomat kali ini merupakan harga yang terendah sejak tiga tahun terakhir.

“Pada Januari 2007, harganya masih mencapai Rp 5000 per kilogram, Juli masih mencapai Rp3.500 per kilogram, bahkan Agustus hingga September, masih menembus angka Rp4000 per kg, baru bulan ini mengalami penurunan hingga Rp150, per kg,” ungkapnya.

Hal ini lanjut dia, disebabkan karena pedagang antarpulau yang selama ini membeli tomat di Enrekang, tak kunjung datang. Akibatnya hasil panen petani menumpuk.

“Pedagang yang selama ini membeli tomat kita kan hanya dari Kendari dan Kalimantan, dan sejak menjelang lebaran hingga saat ini, mereka tak kunjung datang,” kilahnya.

Untuk menghindari hal ini agar tidak terjadi lagi, maka Dinas Pertanian kata dia, mengimbau kepada para petani agar tidak serentak dalam menanam tomat.

Misalnya lanjut Rohani, jika pada bulan Oktober petani di wilayah Kecamatan Baraka menanam, maka petani di Wilayah Kecamatan Alla dan Anggeraja, harus menanam beberapa bulan kemudian. Cara itu katanya untuk menghindari membeludaknya hasil panen. (k4)

Iklan