Menengok Pembangunan Stadion Mini Enrekang

(Fajar) PEMBANGUNAN Stadion Mini Enrekang dimulai sejak tahun 2004 lalu. Namun sampai saat ini bangunan yang telah menghabiskan dana miliaran rupiah itu, tak kunjung rampung. Stadion mini merupakan salah satu sarana olahraga yang sudah lama diidam-idamkan masyarakat Enrekang. Namun impian tersebut belum juga terwujud, lantaran stadion berkapasitas puluhan ribu penonton ini masih terbengkelai.

Bagaimana kondisinya saat ini? Akhir pekan lalu penulis mendatangi bangunan yang terletak di Kelurahan Lewaja Kecamatan Enrekang ini. Ketika masih berada di jalan poros Lewaja, stadion tersebut sudah mulai terlihat, saat itu pula saya beranggapan bangunan itu sudah rampung dan telah dimanfaatkan. Itu karena disekeliling lokasi stadion telah berdiri pagar tembok yang tingginya sekira empat meter. Di bagian barat juga telah berdiri bangunan yang merupakan tribun tertutup yang dipersiapkan bagi penonton. Tribun tertutup ini telah diatapi dan dicat putih.

Namun ketika berada di gerbang masuk stadion ini, anggapan kemegahan yang terlihat dari kejauhan, perlahan-lahan mulai sirna lantaran lumpur layaknya kubangan kerbau menjemput saya di pintu masuk.

Saya mencoba masuk ke dalam lapangan sepak bola stadion, meski harus berjalan dengan kaki telanjang yang penuh lumpur. Di bagian utara terlihat tiga mata air besar yang mengalir membelah lapangan stadion. Akibatnya, kita tidak sulit membedakan lapangan sepakbola atau kubangan kerbau atau lahan persawahan.

Kondisi ini makin diperparah dengan tempat duduk yang dipersiapkan bagi penonton tribun terbuka, juka telah dipenuhi semak blukar. Akibatnya tembok tempat duduk tidak kelihatan lagi.

Pimpinan proyek, yang juga Kepala Bagian Permukiman Dinas Pekerjaan Umum Enrekang, Werang Umar mengatakan bahwa yang menjadi kendala sehingga stadion ini terbengkalai adalah minimnya anggaran yang disiapkan.

“Seandainya anggarannya disiapkan sekaligus, maka stadion itu sudah lama rampung. Tapi yang terjadi sekarang kan hanya dianggarkan sedikit-sedikit setiap tahunnya,” kilahnya.

Dia merinci, anggaran yang telah diserap stadion tersebut masingi-masing, 2004 Rp1 miliar, 2005 Rp1,8 M, 2006 Rp2,1 M, 2007 900 juta dan 2008 ini dialokasikan Rp4 miliar. “Tapi kita yakin 2008 ini sudah rampung kok,” kuncinya.(*)