Minyak Tanah Langka, Warga Beralih ke Kayu Bakar

(Fajar)Siang kemarin, seorang ibu rumah tangga berjalan di bawah terik matahari, sambil menenteng jeriken ukuran lima liter. Ibu tersebut mendatangi beberapa pengecer minyak tanah. Namun tak satupun pengecer yang memiliki stok minyak tanah.Ibu yang diketahui bernama Nurmi itu, mengaku sudah keliling Kota Enrekang untuk mencari minyak tanah, namun hasilnya nihil. Semua pengecer mengaku kehabisan stok.

Menurut pengakuan ibu dua anak tersebut, bukan hanya minyak tanah yang langka, tapi juga gas elpiji. Sementara dapur harus tetap berasap.

Nurmi mengakui, setiap hari Senin dan Jumat dia mengantre di pangkalan, karena saat itu pangkalan mendapat pasokan minyak tanah dari Pertamina, namun dia tidak pernah kebagian lantaran ratusan jeriken warga sudah menumpuk sejak pagi hari.

“Ada juga yang beli banyak untuk ditampung, sehingga kita tidak kebagian,” ujar Nurmi. “Kalau begini kita terpaksa gunakan kayu bakar, karena anak-anak mau makan. Mau pakai gas tabung juga langka,” ujarnya sedih.

Sementara itu, Mama Rani kepada wartawan mengaku telah menampung minyak tanah sebanyak 35 liter. Dia beralasan takut jika minyak tanah akan habis. Kekhawatiran itu kata dia sangat beralasan karena pangkalan saat ini mulai menjatah setiap orang. Kalau dulunya warga dijatah lima liter, kini dikurangi menjadi dua liter.

Hal yang sama dilakukan Indo Samara, 70, dia mengaku harus menampung minyak tanahnya karena tidak kuat lagi mengantre. Nasira Lapa, salah satu pemilik pangkalan minyak tanah yang ditemui wartawan Jumat kemarin, mengaku hanya mendapat jatah dari Pertamina 20 ribu liter per bulan.(*)