ENREKANG (Fajar)– Warga Kecamatan Enrekang semakin kesulitan mendapatkan minyak tanah. Selain langka dan harga yang melambung, warga juga wajib memperlihatkan Kartu Keluarga (KK) untuk mendapatkan jatah tiga liter minyak tanah.Seperti yang terlihat di Pangkalan Mansuruddin Kota Enrekang, Jumat 11 Januari, kemarin. Untuk mendapatkan minyak tanah, selain harus mengantri berjam-jam, warga juga harus memperlihatkan KK sebelum jeriken mereka diisi oleh pengelola pangkalan.

Selain memberlakukan KK, pihak pangkalan juga membatasi jatah bagi setiap warga, yakni antara tiga hingga lima liter per orang. Hal ini mengakibatkan setiap dua kali dalam sepekan (Selasa-Jumat), pangkalan Mansuruddin yang terletak di pasar sentral Enrekang, diserbu oleh warga. Maklum di Kota Enrekang hanya ada tiga pangkalan minyak tanah.

“Kalau tidak ada KK-nya, kita tidak berikan, ini dilakukan karena banyak warga yang datang membeli dua kali, akibatnya warga lainnya ada yang tidak dapat jatah,” ujar Mansur, salah satu pemilik pangkalan di Enrekang, kemarin.<

Mansur juga mengatakan bahwa pihaknya sengaja memberlakukan KK bagi warga yang ingin membeli minyak tanah, agar masyarakat yang berasal dari luar wilayah pangkalan tersebut dapat terdeteksi.

Sementara itu, masyarakat di Kecamatan Anggeraja juga kesulitan untuk memperoleh minyak tanah. Meski tidak harus memperlihatkan KK, namun warga Anggeraja harus membeli minyak tanah dengan harga rata-rata Rp5000 per liter.

Terpaksa kita beli, karena kalau tidak, maka kompor tidak akan menyala,” ujar Tadjuddin, salah satu warga Cakke Kecamatan Anggeraja.

Tidur Lebih Cepat

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Kecamatan Curio, khususnya di Desa Paromben. Warga di desa yang berada di bagian Utara Kota Enrekang ini, tidak hanya menjadikan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak, tapi juga dijadikan
sebagai bahan bakar alat penerang atau pelita.

“Kita terpaksa tidur lebih cepat, karena kalau terlambat tidur, minyak tanah akan cepat habis,” ujar Karim warga Desa Parombean yang mengaku menggunakan minyak tanah sebagai alat penerangan. Desa tersebut memang belum terjangkau aliran listrik. (k4)