Februari 2008


ENREKANG– Penyakit rabies yang disebarkan melalui gigitan anjing gila yang akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat Kabupaten Enrekang. Demikian pula Dinas Kesehatan sempat kalang kabut, apalagi sudah jatuh korban.Bagaimana tidak, di tengah banyaknya warga yang menjadi korban gigitan anjing
gila, namun Pemkab tidak memiliki stok vaksin yang memadai.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Enrekang menyebutkan, sejak Januari lalu tercatat sudah 30 orang yang menjadi korban penyakit mematikan itu.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, dr Iriani mengatakan, kendala yang dihadapi dalam membasmi penyakit itu terletak pada kurangnya vaksin yang dimiliki Dinas Kesehatan.

Selain itu katanya, harga vaksin juga cukup mahal yakni Rp500.000/kuur (satu kuur digunakan satu orang). Dari data yang diperoleh di bagian Pemberantasan Penyakit (P2) Diskes Enrtekang, stok vaksin yang dimiliki saat ini hanya empat kuur atau setara dengan empat orang.

Itu pun stoknya hanya sisa dari pengadaan 2007 lalu. Sementara pengadaan 2008 hanya dianggarkan 18 kuur. “Kita memang tidak memperiorotaskan mengingat Enrekang tidak sama dengan daerah lain, seperti Toraja,” kata Iriani, Kamis 28 Februari kemarin.

Salah satu langkah yang harus dilakukan kata dia, di antaranya dengan melakukan vaksinasi terhadap anjing liar dan anjing peliharaan warga. “Itu tugas Dinas pertanian, bukan Dinas Kesehatan,” ungkapnya.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengaku telah melakukan vaksinasi serta pembasmian terhadap anjing warga. “Selain itu, sosialisasi juga sudah kami lakukan,” kuncinya. (k4)

ENREKANG– Pinka, 4,7 tahun, korban gigitan anjing menghembuskan napas terakhirnya di RSU Massenrempulu, Selasa 26 Februari sekitar pukul 09.00 Wita. Sebelumnya balita malang itu sempat mendapat perawatan sekitar empat jam.Sesuai informasi dari keluarga korban, Pinka masuk ke rumah sakit sekitar pukul pukul 03.00 dinihari dan meninggal pukul 09.00 Wita.

Menurut tim medis yang menangani Pinka, ketika dirujuk ke rumah sakit, kondisi warga Desa Cendana Kecamatan Cendana itu sudah dalam keadaan kejang-kejang, suhu badannya tinggi, dan kesadarannya turun drastis serta ada bekas luka bekas gigitan anjing di bahu kanan.

Dokter Yati, spesialis anak RSU Massenrempulu, Rabu 27 Februari kemarin membenarkan, jika pasien, Pinka menderita rabies. “Kami memang sudah memeriksa Pinka dan benar sudah masuk kategori rabies,” katanya.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang melalui Dinas Kesehatan sejak
Januari lalu sudah menetapkan penyakit anjing gila masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB). Itu setelah ditemukan puluhan korban gigitan anjing gila di Kecamatan Baraka.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Enrekang, dr Iriani yang berusaha dikonfirmasi tidak berhasil. Menurut staf, Kadis sedang tugas di luar kantor. Demikian pula dengan Kepala Bidang Pertenakan, Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar juga berada di Makassar. (k4)

ENREKANG– Dana Bantuan untuk usaha kecil dan menengah di Kabupaten Enrekang 2008 ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan.Jika 2007 lalu, hanya Rp2 miliar, maka tahun ini meningkat menjadi Rp3 miliar. Demikian diungkapkan Bupati Enrekang, H La Tinro La Tunrung di Hotel Rasita, baru-baru ini.

Menurut La Tinro, dana itu disalurkan dalam waktu dekat ini ke para pelaku usaha di Enrekang. Namun lanjutnya, jika tahun sebelumnya penyalurannya dilakukan Dinas Perindustrian dan Perekonomian Daerah (PPD) Enrekang, maka tahun ini dipihakketigakan.

“Kita akan bekerja sama pihak bank untuk pengelolaan bantuan tersebut,” ujar La Tinro tanpa menyebutkan bank yang akan mengelola dana dimaksud. “Yang jelas, bantuan itu merupakan pinjaman lunak dengan bunga yang cukup rendah yakni tiga persen per tahun,” tambahnya. (k4)

ENREKANG– Akibat “menghilangnya” bahan bakar bensin di Kabupaten Enrekang memaksa sebagian tukang ojek tidak beroperasi alias gantung helem.Selain SPBU, kini bensin eceran juga sulit ditemukan sejak Sabtu petang hingga Minggu 24 Februari.

Beberapa tukang ojek mengaku telah kehilangan pendapatan dalam dua hari terakhir. Cambu, 30 tahun), seorang tukang ojek yang sehari-harinya beroperasi di Kota Enrekang, mengaku tidak beroperasi sejak Sabtu sore dengan alasan kehabisan bensin.

“Mau diapakan lagi. Daripada mendorong motor, lebih baik gantung helem,” kata Cambu.

Cambu yang juga pengurus Persatuan Ojek Rajawali Enrekang itu menambahkan, beberapa rekannya yang masih memiliki stok bensin tetap beroperasi. Itu pun hanya setengah hari.

“Ada beberapa teman yang masih cari penumpang hari ini (maksudnya Minggu 24 Februari kemarin), namun tidak seberapa. Itu pun hanya setengah hari,” ungkapnya. Dia juga mengaku bingung dengan kondisi tersebut. Di satu sisi asap dapur tetap harus mengepul, sementara mengojek merupakan profesi satu-satunya. (k4)

ENREKANG– Bahan bakar minyak (BBM), terutama premium (bensin) di Kabupaten Enrekang sejak Sabtu 23 Pebruari hingga Minggu 24 Februari kemarin sulit diperoleh. Akibatnya pemilik kendaraan, sopir, dan pengendara motor harus antre selama 24 jam di Stasiun Pengisian Bahanbakar Umum (SPBU) dalam Kota Enrekang.

Bahkan beberapa warga dari daerah lain yang kebetulan melintas di Kabupaten Enrekang dan kehabisan bahan bakar harus menginap di sekitar SPBU Kota Enrekang.

“Kita terpaksa menginap di sini. Mau jalan, bensin habis, sementara stok SPBU juga habis,” ujar Herman, 27 tahun, pengendara dari Parepare menuju Tana Toraja. Sial bagi Herman, premium motornya habis di Enrekang. Tak pelak lagi, dia harus menginap di Enrekang.

Sesuai pemantauan sejak Sabtu dan Minggu siang kemarin, selain SPBU, stok di tingkat pengecer (penjual botolan) juga sangat susah ditemukan. Tak seorang pun penjual botolan yang memiliki stok.

Sementara hingga pukul 13.00 Wita, Minggu 24 Februari kemarin, mobil pengangkut premium dari Parepare yang biasanya memasok bensin ke SPBU Enrekang, tak kunjung datang. Padahal puluhan kendaraan, baik motor maupun mobil sudah menunggu sejak pagi.

Di tempat terpisah, pengelola SPBU Enrekang, Drs Saleh Nuhung mengakui kalau jatahnya setiap hari hanya 8.000 liter. Namun dalam dua hari terakhir, stok cepat habis. Itu menurut dia, dipengaruhi meningkatnya pengisian kendaraan.

Selain warga Enrekang, juga ada ratusan pengendara asal Tana Toraja berbondong-bondong datang membeli bensin. “Sebenarnya kita tidak ada masalah.

Hanya karena di Toraja kehabisan stok sehingga warga dari sana ramai-ramai ke Enrekang melakukan pengisian dan rata-rata membawa jeriken,” ujarnya.

Saleh juga mengakui jatah untuk Sabtu dan Minggu telah habis sejak Sabtu petang. “Padahal Sabtu pagi, stok kita masih 14 ton, tapi itu langsung habis dalam beberapa jam saja,” paparnya.

Dari hasil konfirmasinya ke Pertamina Parepare, Saleh mengaku memperoleh alasan bahwa terhambatnya pasokan ke SPBU, disebabkan faktor cuaca (ombak air laut) yang menyulitkan kapal tanker mengantar bahan bakar ke Parepare. (k4)

ENREKANG– Koordinator Penyuluh Pertanian Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Enrekang Hasanuddin mengatakan bahwa sampai saat ini, Kabupaten Enrekang masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL).Padahal sesuai data yang ada, 95 persen penduduk Kabupaten Enrekang hidup di sektor pertanian. Ironisnya hal itu tidak dibarengi dengan ketersediaan tenaga PPL.

Hasanuddin menjelaskan, tenaga PPL yang ada saat ini, hanya 128 orang dengan 129 desa dan kelurahan yang tersebar di 12 Kecamatan. Jumlah tersebut lanjut dia, sudah termasuk tenaga kontrak dan sukarelawan.

“Jumlah tersebut sudah termasuk koordinator kecamatan dan kabupaten. Seharusnya setiap desa memiliki minimal satu PPL. Namun sekarang, ada PPL yang menangani tiga desa sehingga cukup kewalahan,” ujarnya di ruang kerjanya, Jumat 22 Februari kemarin.

Dengan melihat jumlah desanya menurut dia, idealnya Enrekang memiliki 160 tenaga PPL. “Memang ada tambahan tenaga kontrak tahun ini, sebanyak 25 orang, tapi itu masih sangat kurang,” tandasnya seraya berharap pada penerimaan CPNS mendatang, tenaga PPL bisa diprioritaskan. (k4)

ENREKANG– Dalam empat hari terakhir, masyarakat mengeluhkan pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Enrekang. Pengurusan terhambat dengan alasan printer (mesin pencetak KTP) rusak.Bahkan hingga Kamis 21 Februari, ratusan berkas belum terlayani. Hal itu pun diakui Kepala Seksi Informasi dan Kependudukan, Sukirman di kantornya, Kamis 21 Februari kemarin.

Menurut Sukirman, alat pengganti kerusakan mesin pencetak KTP tidak tersedia sehingga mesti mencari alatnya ke Makassar. “Kita sudah bawa ke tempat servis, tapi rupanya alatnya tidak ada,” katanya.

Menurut dia, rata-rata pemohon KTP setiap hari antara 50 sampai 60 orang. Artinya dalam empat hari, ada sekitar 200-an warga yang pengurusan KTP-nya terhambat.

Sukirman mengatakan, data pemohon KTP sudah terinput dalam data base sehingga jika mesin itu sudah datang, maka KTP langsung bisa dicetak. (k4)

Laman Berikutnya »