Laporan : Kasman, Berburu Babi ala Petani Enrekang (2-selesai)

Guyuran hujan dan medan hutan yang cukup sulit, tidak menyurutkan niat para petani untuk mengepung kawasan hutan di Kecamatan Enrekang. Ini dilakukan demi mengamankan tanaman di ladang.Berburu babi secara massal yang oleh masyarakat Enrekang disebut Marrangngan. Aktivitas ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun para petani di Bumi Massenrempulu. Konon kegiatan seperti ini sudah ada sejak tahun 1959, dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Kegiatan yang melibatkan ratusan bahkan ribuan orang ini, ternyata cukup ampuh untuk mengamankan tanaman para petani dari serangan hama babi. Para petani mengaku sudah dapat tidur nyenyak pada malam hari, setelah mengepung kawasan hutan secara bersama-sama di sekitar lahan perkebunan mereka.

“Kalau kita sudah melakukan perburuan begini, maka kebun jagung atau padi tidak perlu lagi dijaga sampai masa panen tiba, karena hama babi itu sudah menjauh,” ujar Mannahuri, salah satu tokoh masyarakat Lewaja.

Para petani mengaku harus begadang di kebun setiap malam untuk mengamankan tanaman mereka dari serangan hama babi itu. Setelah kegiatan marrangngan, mereka pun sudah dapat tidur dengan nyenyak.

Hanya saja akhir-akhir ini, kegiatan yang diyakini mampu memperkuat tali persaudaraan di antara sesama petani ini, rawan ditunggangi oleh elite-elite politik. Itu karena massa yang tergabung dalam komunitas ini jumlahnya tidak sedikit.

Para elite politik memanfaatkan momen marrangngan ini untuk melakukan pendekatan-pendekatan politik, demi mendapatkan simpati dari masyarakat.

Apalagi untuk menghadapi suksesi pemilihan bupati Enrekang Agustus mendatang, para kandidat berlomba-lomba untuk meraih simpati masyarakat dengan menawarkan berbagai bantuan.

“Memang sering ada calon bupati yang menawarkan bantuannya kepada kami, tapi bukan berarti kegiatan Marrangngan ini adalah kegiatan politik,” kata salah satu peserta Marrangngan. (*)

Iklan