ENREKANG– Penyakit rabies yang disebarkan melalui gigitan anjing gila yang akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat Kabupaten Enrekang. Demikian pula Dinas Kesehatan sempat kalang kabut, apalagi sudah jatuh korban.Bagaimana tidak, di tengah banyaknya warga yang menjadi korban gigitan anjing
gila, namun Pemkab tidak memiliki stok vaksin yang memadai.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Enrekang menyebutkan, sejak Januari lalu tercatat sudah 30 orang yang menjadi korban penyakit mematikan itu.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, dr Iriani mengatakan, kendala yang dihadapi dalam membasmi penyakit itu terletak pada kurangnya vaksin yang dimiliki Dinas Kesehatan.

Selain itu katanya, harga vaksin juga cukup mahal yakni Rp500.000/kuur (satu kuur digunakan satu orang). Dari data yang diperoleh di bagian Pemberantasan Penyakit (P2) Diskes Enrtekang, stok vaksin yang dimiliki saat ini hanya empat kuur atau setara dengan empat orang.

Itu pun stoknya hanya sisa dari pengadaan 2007 lalu. Sementara pengadaan 2008 hanya dianggarkan 18 kuur. “Kita memang tidak memperiorotaskan mengingat Enrekang tidak sama dengan daerah lain, seperti Toraja,” kata Iriani, Kamis 28 Februari kemarin.

Salah satu langkah yang harus dilakukan kata dia, di antaranya dengan melakukan vaksinasi terhadap anjing liar dan anjing peliharaan warga. “Itu tugas Dinas pertanian, bukan Dinas Kesehatan,” ungkapnya.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengaku telah melakukan vaksinasi serta pembasmian terhadap anjing warga. “Selain itu, sosialisasi juga sudah kami lakukan,” kuncinya. (k4)