Maret 2008


ENREKANG– Kesulitan persediaan darah yang sering menimpa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Massenrempulu tampaknya bakal segera beratasi. Hal itu terlihat setelah rumah sakit yang berlntai tiga itu sudah dilengkapi bank darah. Direktur RSUD Massenrempulu, Muh Yamin mengatakan, sebelum bank darah atau unit transfusi darah ada, pasien yang membutuhkan darah harus ke Parepare.

Padahal untuk mengurus ke kota niaga tersebut, dibutuhkan waktu minimal delapan jam. Namun saat ini kata dia, pasien cukup menunggu maksimal 20 menit.

“Hadirnya bank darah tersebut, diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk berobat di sini (maksudnya RSUD Massenrempulu. Masyarakat tidak lagi takut akan kehabisan darah saat ada operasi,” kata Yamin.

Di tempat terpisah, penanggung jawab pelayanan unit transfusi darah pembina Diskes Sulsel, Dr Kusrini mengatakan, bank darah di RSUD Massenrempulu bisa menampung 100 kantung darah.

Saat ini, Diskes Sulsel juga sedang melatih tenaga medis yang disiapkan menangani unit transfusi darah RSUD Massenrempulu.

“Dalam menjalankan unit transfusi darah, perlu ada tenaga medis yang paham tugasnya yang saat ini sedang dalam pelatihan,” ujar Kusrini seraya menyebutkan, setiap rumah sakit di Indonesia harus menyiapkan unit transfusi darah sesuai peraturan Menkes No.423/2007.

Bupati Enrekang, H La Tinro La Tunrung yang meresmikan pengoperasian bak darah tersebut, mengimbau masyarakat untuk bisa ikut berdonor darah guna menjaga kelangsungan stok bank darah RSUD Massenrempula. “Semoga keberadaan bank darah ini bisa memberi kelancaran operasi di RSUD Massenrempulu,” harapnya. (k4)

ENREKANG– Sindikat pencurian ternak (curnak) yang selama ini dianggap cukup meresahkan masyarakat Kabupaten Enrekang mulai terbongkar. Itu terjadi setelah aparat Polres berhasil mengamankan dua warga yang teridentifikasi terlibat kejahatan. Bahkan dalam membongkar aktivitas sindikat tewrsebut, Polres Enrekang bekerja sama dengan Polresta Makassar Timur.

Kapolres Enrekang, AKBP Endi Sutendi mengatakan, sebelumnya telah mensinyalir adanya sindikat pencurian sapi di daerahnya berdasarkan hasil pengembangan terhadap dua pelaku pencurian sapi yang ditangkap beberapa waktu yang lalu.

Kini kedua tersangka telah menghuni sel tahanan Polres Enrekang, Suardi alias Daeng Nai, 55 tahun dan Mustakim bin Saraba, 32 tahun. “Suardi ditangkap di Desa Batu Kede, 24 Maret lalu, sementara Mustakim di Makassar sehari sebelumnya.

Keduanya ditangkap bersama barang bukti seekor sapi dan satu mobil AVP yang dipakai dalam beroperasi,” katanya.

Sesuai pengakuan Suardi menurut Kapolres, terungkap kalau dalam beraksi, pelaku berjumlah delapan orang dengan menggunakan dua mobil yang dipersiapkan untuk mengangkut sapi hasil curian.

Polres Enrekang kemudian berkoordinasi dengan Polres Makassar Timur melakukan sweeping dan menemukan mobil AVP mengangkut sapi dan gelagat para penumpang mobil sangat mencurigakan.

“Saat dilakukan pemeriksaan sopir, Mustakim tidak dapat menunjukkan dokumen resmi sehingga kami langsung menahannya, sementara penumpang lainnya melarikan diri,” katanya. Meski demikian barang bukti seekor sapi dan mobil yang dipakai disita untuk pengembangan kasus tersebut,” imbuhnya. (k4)

ENREKANG– Minat masyarakat Kabupaten Enrekang untuk berhaji terus meningkat. Terbukti, kuota haji hingga tahun 2011 mendatang sudah penuh.Bahkan untuk pemberangkatan 2012, pendaftar di Kantor Departemen Agama Enrekang sudah mencapai 89 orang. Demikian diungkapkan Bidang Haji Depag, H Mukhtaram di ruang kerjanya, Rabu 26 Maret kemarin.

Menurut Mukhtaram, untuk 2007 lalu, kuota Kabupaten Enrekang hanya 177 orang. Kemudian pemberangkatan 2008 ini jatah bertambah menjadi 180 orang. “Jadi kalau ada yang mendaftar sekarang, maka itu berangkatnya pada 2012 mendatang,” ujar Mukhtaram.

Dia menamabhakn, penetapan kuota itu mengacu pada jumlah penduduk beragama Islam. Hitungannya kata dia, satu kuota per 1.000 penduduk beragama Islam. “Jadi kalau mau mendapatkan satu kloter, maka penduduk Islam Enrekang harus mencapai 325.000 jiwa mengingat satu kloter 325 jemaah,” katanya. (k4)

ENREKANG– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang saat ini tengah merancang jaringan internet yang bisa menjangkau seluruh kecamatan di Bumi Massenrempulu. Jaringan itu juga nantinya akan menghubungkan seluruh unit kerja lingkup Pemkab.Dalam upaya merealisasikan program itu, Pemkab saat ini telah menghadirkan dua perusahaan swasta yang akan menangani hal itu.

Bahkan perusahaan yang berasal dari Jakarta itu telah memaparkan rancangan jaringan dimaksud di hadapan para kepala SKPD di ruang rapat Kantor Bupati Enrekang, Rabu 26 Maret kemarin.

Dalam pemaparannya, Hendra Budi Rahman dari PT Jetset Antero Persada dan Tongam L Tobing dari PT Mitra.Com Total Solution menjelaskan, jika kerja sama itu berjalan, maka ada dua sistem jaringan yang akan digunakan. Yang pertama katanya, sistem satelit dan fiber optic atau jaringan kabel.

“Kita tinggal melihat kondisinya. Kalau memang jaringannya sulit dijangkau dengan sistem fiber optic, maka kita gunakan satelit. Yang jelas nantinya, semua unit kerja dan kecamatan sudah bisa mengakses internet. Kita juga akan bangun di beberapa titik yang bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Infokom Enrekang, Muh Arfah mengatakan, pada dasarnya Pemkab sangat merespons sistem yang ditawarkan kedua perusahaan tersebut.

Sekarang Pemkab telah mengkaji penawaran itu sebelum melakukan kerja sama. “Kita kaji dulu berapa anggaran yang harus disediakan, termasuk seperti apa mekanisme dalam kerja sama itu nantinya,” ungkap Arfah. (k4)

ENREKANG– Angka kematian di Kabupaten Enrekang awal tahun ini cukup melonjak. Rata-rata dalam satu hari, dua penduduk Bumi Massenrempulu dilaporkan meninggal.Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Enrekang, dr Iriani mengungkapkan, khusus Februari, jumlah warga Enrekang yang meninggal mencapai 91 orang.

“Ini sesuai data yang dikeluarkan Badan Kependudukan. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, angka kematian ini cukup melonjak. Pada 2007 lalu, hanya 200 lebih angka kematian, namun 2008 ini, sampai Februari sudah 91 orang,” ujar Iriani seusai melaporkan data tersebut ke bupati, Senin 24 Maret kemarin.

Menurut dia, meningkatnya angka kematian itu, bukan disebabkan adanya penyakit yang mewabah, melainkan angka kematian tersebut sudah terdata baik berdasarkan  adanya kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang untuk memberi santunan bagi warga yang meninggal.

Sejak Februari 2008, Pemkab memang memberikan santunan sebesar Rp1.5 juta bagi kepala keluarga yang meninggal. Kemudian untuk anggota keluarga, termasuk anak-anak diberikan santunan Rp1 juta.

“Sebelum ada uang santunan kematian, banyak warga yang meninggal tidak terdata. Namun saat ini, semua sudah didata sehingga data yang ada saat ini cukup akurat,” paparnya.

Dari data angka kematian pada Februari terungkap kalau penyebab kematian masih didominasi faktor kecelakaan dan penyakit strok. Kematian karena kecelakaan lima orang, sementara karena penyakit strok juga lima orang. (k4)

ENREKANG– Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengatakan, produksi susu murni yang dihasilkan daerahnya setiap hari mencapai 6.000 liter. Susu tersebut menurut dia, dihasilkan puluhan kelompok tani yang ada. Di pihak lain, populiasi sapi perah di Kabupaten Enrekang saat ini, mencapai 1.400 ekor.

Sapi tersebut tersebar pada 12 kelompok tani ternak dengan jumlah anggota mencapai 256 orang. “Diperkirakan 2009 mendatang jumlah sapi perah akan meningkat menjadi sekitar 3.000 ekor.

Kemudian pada 2010, jumlahnya akan lebih meningkat dengan perkiraan mencapai 5.000 ekor,” kata Junwar di ruang kerjanya, Senin 24 Maret kemarin.

Meski demikian lanjutnya, kendalanya susu yang dihasilkan petani tersebut masih dikelola secara tradisional sehingga pemasarannya pun masih terbatas.

Dalam mengatasi hal tersebut, Dinas Pertanian pada 2008 ini berencana membangun instalasi pengolahan susu segar di Bumi Massenrempulu. Anggaran yang disediakan Rp720 juta bersumber dari pemerintah pusat (APBN 2008).

“Kapasitas olahan instalasi ini mencapai 500 liter susu setiap hari. Sementara produksi susu kita sudah 6000 liter per hari. Jadi instalasi pengolahan yang rencananya akan dibanguna dalam waktu dekat ini, hanya mampu menlayani 12 persen dari produksi susu yang ada sekarang ini,” ungkapnya. (k4)

ENREKANG– Rapat pembahasan proyek 2008 di Kabupaten Enrekang memunculkan banyak pertanyaan, Senin 17 Maret. Penyebabnya, rapat yang dipimpin anggota Komisi II Syarifuddin Sinring dengan dihadiri Kepala Dinas (Kadis) PU, Ir Sugihardjo dan Kepala Bidang Praswil PU, Benny Mansyur itu berlangsung tertutup.Beberapa wartawan yang hendak meliput kegiatan wakil rakyat itu pun harus gigit jari. Mereka tidak diperkenankan berada di sekitar ruangan rapat. Bahkan seorang warga Kecamatan Maiwa yang juga mantan Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Enrekang, Muh Saleh Bulla mengaku sangat kecewa.

Kedatangannya di DPRD hanya untuk menyaksikan rapat tertutup alias “cokko-cokko.” Saking rahasianya hingga di depan pintu masuk ruangan rapat berdiri dua anggota satpol Pamong Praja berbadan kekar. “Saya jauh-jauh datang dari Maiwa untuk melihat rapat dewan. Padahal bagaimanapun mereka merupakan wakil rakyat, tapi kalau begini carannya, ada apa dengan DPRD Enrekang ini,” ujar Saleh.

Seusai memimpin rapat sekitar dua jam, Syarifuddin Sinring mengatakan, rapat itu hanya membahas persiapan PU dalam proses tender proyek 2008. “Kita memang sengaja melakukan secara tertutup karena jangan sampai wartawan menulis hal-hal yang prinsip. Kalau ada yang pertanyakan, itu hanya statemen pribadi yang perlu dipertanyakan kapasitasnya,” ujar anggota Partai Demokrat tersebut.

Demikian pula Kadis PU Sugihardjo juga mengatakan, rapat tersebut hanya membahas masalah persiapan PU dan unit kerja lain dalam menghadapi proses tender 2008 ini. “Tidak ada hal penting yang dibahas,” kilahnya. (k4)

Laman Berikutnya »