Dua Mininggal dan 23 Warga Desa Parombean Masuk Rumah Sakit

ENREKANG– Wabah penyakit diare meningkat di Desa Parombean Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang. Dalam beberapa hari terakhir, tercatat sudah 23 warga yang terserang penyakit berbasis lingkungan tersebut.Bahkan sudah dua balita dilaporkan meninggal akibat penyakit tersebut. Juga ada lima orang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Massenrempulu guna mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif.

Sekretaris Desa (Sekdes) Parombean, Muslimin melalui ponsel, Jumat 28 Februari lalu mengatakan, penyakit diare tersebut menyerang empat dusun di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Toraja tersebut. “Keempat dusun itu masing-masing Buntu Limbong, Serang, Tokcollok, serta Dusun Le’tokbarak,” ujar Muslimin,

Menurut dia, penyakit itui menyerang warga sejak 13 Februari lalu. Kini telah menyebabkan lima anak yang meninggal, di antaranya Hamsah, 2.4 tahun dan Samsidar, tujuh bulan).

Sementara lima warga Desa Parombean yang dirujuk ke RSU Massenrempulu lanjutnya, masing-masing Laina, ibu dari Hamsah yang merupakan korban meninggal, Lai, 45 tahun, Hajra, 1.5 tahun, Sitti, serta Jaidul, 2.5 tahun.

“Bahkan satu penderita lagi menyusul dirujuk ke RSU Massenrempulu atas nama Umar,” kata Muslimin.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Enrekang, dr Iriani mengakui meningkatnya kasus diare di Desa Parombean tersebut.

Namun kata dia, kasus itu belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). “Tapi kita sudah membentuk posko penanggulangan penyakit tersebut dengan harapan tidak makin meluas,” ujar Iriani.

Bagian Surveilans Dinas Kesehatan Enrekang, Basri mengatakan, meningkatnya penyakit diare terkait dengan kondisi air yang dikonsumsi warga di Desa Parombean yang memang tercemar bakteri. Namun warga yang meninggal tersebut tidak semata-mata karena diare.

“Itu disebabkan ada penyakit lain yang menyertaianya, seperti penyakit paru opstruksi menahun (PPOM),” ujarnya seraya mengakui kalau penyakit diare di Desa Parombeas mewabah sejak 13 Februari lalu.(k4)

Iklan