ENREKANG– Jajaran PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Enrekang diminta turun ke masyarakat melakukan sosialisasi tentang bahaya penyalahgunaan listrik.Maklum dalam satu tahun terakhir, penyalahgunaan listrik sekelompok masyarakat sudah menelan dua korban jiwa.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Enrekang, Ambo Masse SH yang menjadi ketua majelis hakim dalam sidang kasus tewasnya Rahmatia, akibat terjerat perangkap hama babi bertenaga listrik yang dipasang terdakwa Drs Mukhlis (bendahara RSU Massenrempulu).

Sekadar diketahui, Rahmatia tewas beberapa bulan lalu setelah kesetrum aliran listrtik saat melintas di kebun milik Mukhlis di Bamba Enrekang. Aliran listrik tersebut dipasang Muklis di sekeliling kebunnya menggunakan kabel yang disambung dari jaringan PLN.

Di hadapan Djoko Lelono, manajer suvervisor PLN Cabang Enrekang yang dihadirkan sebagai saksi, Ambo Masse mengatakan, selama ini PLN tidak pernah melakukan sosialisasi atau memberikan surat edaran ke masyarakat untuk tidak menggunakan listrik PLN sebagai alat perangkap babi.

“Tolong sampaikan sama pimpinan Anda (pimpinan PLN, red) untuk melakukan sosialisasi, karena masyarakat yang berpendidikan saja, seperti terdakwa belum tahu tentang bahaya yang bisa ditimbulkan, apalagi kalau masyarakat yang memang tidak tahu apa-apa,” kata Ambo Masse dalam sidang lanjutan yang terbuka untuk umum, beluam lama ini.

Dalam sidang tersebut, Djoko Lelono mengakui jika selama ini PLN memang belum pernah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat. Dia juga mengakui jika perangkap babi yang menggunakan listrik sangat membahayakan manusia. (k4)