ENREKANG– Mendapat kritikan anggota DPRD terkait kunjungannya ke desa-desa, Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung langsung beraksi. Menurut dia, kunjungan seorang kepala daerah ke desa-desa merupakan hal wajar.Dia juga menampik jika kunjungannya tersebut lebih banyak menghambur anggaran APBD ketimbang manfaat positifnya. “Dari segi mana dikatakan pemborosan. Saya ke desa melantik kepala desa berdasarkan permintan masyarakat. Bukan kemauan saya.

Kalau tidak percaya silakan ditanyakan ke masyarakat. Bahkan lebih salah lagi kalau seorang pemimpin tidak pernah mengunjungi masyarakatnya,” jelas La Tinro melalui ponsel menanggapi kritikan anggota DPRD Enrekang, Rabu 16 April kemarin.

Menurut La Tinro, pelantikan kepala desa tidak dilakukan secara kolektif atau bersamaan karena permintaan masyarakat. “Saya maunya pelantikan dilakukan sekaligus, biar kita tidak bersusah-susah ke desa. Tapi masyarakat maunya dilakukan di desa masing-masing,” tandasnya.

Dalam waktu dekat kata dia, ada tiga kepala desa di Kecamatan Curio yang
akan dilantik secara bersamaan di kantor camat. Itu dilakukan berdasarkan keinginan masyarakat. Bukan atas permintaan bupati.

La Tinro mengaku sudah aktif melakukan kunjungan ke desa-desa sejak awal pemerintahannya. Bahkan kata dia, bupati yang pertama melakukan kunjungan ke Desa Latimojong adalah dia.

Kala itu menurutnya, rombongan masih berjalan kaki mengingat kondisi alam belum bisa dijangkau kendaraan. “Jadi intinya mari kita saling mengintropeksi diri. Apa yang sudah kita berikan ke Enrekang. Jangan tanyakan apa yang Enrekang sudah berikan ke kita,” imbuhnya. (k4)

Iklan

ENREKANG– Bupati Enrekang, H La Tinro La Tunrung menyatakan, pengembangan objek wisata dan potensi daerah sepatutnya disebarluaskan. Pemkab Enrekang pun menyatakan siap mengambil bagian dalam pameran pariwisata dan potensi daerah yang diselenggarakan Fajar Promo, 23-26 April 2008 di Mall Ratu Indah.”Pokoknya Pemkab Enrekang ambil bagian dalam pameran yang diselenggaram Fajar Promo,” kata Asisten II, Drs Hasan Sarullah di depan tim Fajar Promo di ruang kerjanya, Rabu 16 April.

Tim Fajar Promo dipimpin Andi Darul bersanggotakan Aris dan Markin Syam sejak Selasa 15 April berada di daerah-daerah melakukan pengecekan terakhir kepastian keikutertaan daerah dalam pameran pengenambagan wisata dan potensi daerah yang diselenggarakan di Mall Ratu Indah Makassar.

“Ahamdulillah, Pemkab Enrekang dan Parepare sudah menyatakan siap mengambil bagian dalam kegiatan tersebut, ” ujar Andi Darul seraya menambahkan Pemkab Pinrang sendiri belum ada kepastian alias belum jelas meski potensi wisata di Bumi Lasinrang cukup menjanjikan. (nas)

ENREKANG– Kunjungan Bupati Enrekang, H La Tinro La Tunrung ke desa-desa yang belakangan ini gencar dilakukan dikritik anggota DPRD. Anggota Komisi II DPRD, Syarifuddin Sinring menilai kunjungan bupati tersebut lebih besar dampak negatifnya ketimbang manfaat positifnya.Bahkan anggota Partai demokrat itu beranggapan kegiatan tersebut hanya menghambur-hamburkan dana.

La Tinro dalam beberapa bulan terakhir, memang aktif melakukan kunjungan ke desa-desa. Dalam beberapa bulan terakhir, bupati hampir tidak pernah melewatkan setiap ada pelantikan desa.

“Bagaimana tidak pemborosan kalau setiap pelantikan desa, bupati selalu hadir. Sementara kita tahu bahwa dalam tahun ini, ada 17 desa yang akan melakukan pemilihan kades, kenapa tidak disatukan saja pelantikannya supaya ada penghematan penggunaan anggaran,” kata Sarifuddin Sinring di DPRD, Selasa 15 April kemarin.

Dia menambahkan, setiap menghadiri pelantikan kepala desa, beberapa kepala dinas juga selalu ikut dalam rombongan. Ini katanya, bisa menghambat pekerjaan dinas tersebut.

“Setiap hari hanya pelantikan desa yang diurus. Ironisnya selalu diikuti banyak kepala dinas. Ini kan menghambat pekerjaan, khususnya pemborosan anggaran,” paparnya. (k4)

ENREKANG– Kebijakan pemerintah pusat yang mengganti kartu asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin) menjadi jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) mengakibatkan puluhan ribu warga miskin di Bumi Massenrempulu kehilangan hak mendapatkan pelayanan kesehatan geratis.Kuota kartu jamkesmas Kabupaten Enrekang hanya 52.231 orang. Padahal di pihak lain, jumlah pengguna kartu Askeskin di Enrekang selama ini, mencapai 69.744 jiwa. Artinya total warga miskin yang akan kehilangan hak memeroleh pelayanan kesehatan secara geratis mencapai 17.513 jiwa.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Enrekang, dr Iriani mengatakan, kuota untuk Enrekang tersebut ditentukan pemerintah pusat. Dengan demikian katanya, Dinas Kesehatan hanya menyalurkan sesuai dengan jatah yang diberikan.

“Kartunya akan kita bagikan paling lambat Juli mendatang. Sekarang kita masih menunggu data warga miskin yang akan diajukan puskesmas,” ujarnya.

Selain itu lanjutnya, Dinas Kesehatan juga masih melakukan revisi terhadap jumlah warga miskin. Sekarang diketahuinya masih banyaknya ditemukan di lapangan, ada masyarakat pemegang kartu Askeskin, namun dari segi ekonomi mereka mampu.

“Makanya kita revisi ulang data warga miskin karena ada yang punya mobil, tapi mau mendapatkan pelayanan kesehatan geratis. Mereka mengaku jadi miskin. Ini kan tidak rasional,” paparnya.

Dana Jamkesmas tersebut menurut dia, akan disalurkan pemerintah pusat langsung ke puskesmas melalui kantor pos. Sementara untuk rumah sakit melalui rekening masing-masing. (k4)

ENREKANG– Keberhasilan menyelesaikan sengketa tapal batas antara dengan Kabupaten Sidrap, kini Pemkab Enrekang berupaya menyelesaikan permasalahan perbatasan degan Kabupaten Pinrang. Pemkab Enrekang berharap masalah tersebut tidak berlarut-larut.Asisten I Enrekang, M Amiruddin yang menangani masalah tersebut kepada wartawan, Minggu 13 April kemarin mengatakan, masalah tapal batas dengan Kabupaten Pinrang yang selama ini berlarut-larut diharapkan bisa segera terselesaikan.

Pemkab Enrekang lanjut Amiruddin, untuk penyelesaian tapal batas tersebut, telah menganggarkan dalam APBD 2008. “Pinrang juga telah menganggarkan dalam APBD.

Dengan demikian diharapkan tahun ini, masalah tersebut sudah bisa tuntas,” imbuhnya seraya menambahkan, sebagai penengah, kedua belah pihak sepakat menyerahkan penentuan tapal batas tersebut ke tim topografi Kodam VII Wirabuana (Topdam).

Sebelumnya, dalam rapat antara Pemkab Pinrang dan Enrekang beberapa waktu lalu, terungkap kalau Pemkab Enrekang menyiapkan anggaran sekitar Rp300 juta.

Bahkan tak hanya perbatasan dengan Pinrang yang bermasalah menurut Amiruddin, ternyata perbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja juga bermasalah. Hanya saja kata dia, penyelesaiannya belum dibahas.

“Pemkab Tana Toraja juga belum menganggarkannya. Jadi mungkin setelah Pinrang rampung, baru kita membahas bersama dengan Tana Toraja,” tandasnya. (k4)

Tahap Pertama, 20.000 Liter

ENREKANG– Jika tidak ada aral melintang, pekan depan, Dinas erindustrian dan Perdagangan Daerah (PPD) Enrekang menyalurkan minyak goreng bersubsidi ke masyarakat.Kepala PPD Enrekang, Drs Irfan Barung di kantornya, akhir pekan lalu mengatakan, penyaluran minyak goreng bersubsidi itu berlangsung di kecamatan.

Sistem penyalurannya kata Irfan, dilakukan melalui pasar murah yang diselenggarkan di tingkat kecamatan secara erentak. Menurut dia, dalam penyaluran tahap pertama yang dijadwalkan 15 April mendatang, PPD menyalurkan 20.000 liter dari sekitar 120.000 liter jatah Kabupaten Enrekang selama enam bulan.

“Kita sudah persiapkan segala sesuatunya terkait penyaluran minyak goreng bersubsidi tersebut. Penyalurannya rencananya dilakukan 15 April mendatang,” kata Irfan.

Dia menjelaskan, minyak goreng itu disubsidi sebesar Rp2.500/liter. Sementara jatah setiap rumah tangga miskin hanya dua liter setiap bulan. “Dari data yang ada, total rumah tangga miskin yang akan menerima minyak goreng subsidi sekitar 10.000 rumah tangga,” tandasnya. (k4)

ENREKANG– Dua bocah penderita gizi buruk saat ini terbaring lemas di Rumah Sakit Umum (RSU) Massenrempulu. Kedua bocah malang tersebut masing-masing Rezki, 10 bulan dan Mubazzirah, 10 tahun.Keduanya dirawat di ruang kelas III kamar 2002 dan 2003 RSU Massenrempulu. Rezki yang diketahui berasal dari kecamatan baraka Kabupaten Enrekang dirujuk ke RSU Massenrempulu dari Puskesmas Baraka sejak 7 April lalu. Sementara Mubazzirah masuk rumah sakit sejak 1 April lalu.

Di antara kedua korban gizi buruk tersebut, Mubazzirah tergolong cukup parah. Sesuai pengakuan orangtuanya, meski sudah berusia 10 tahun, namun berat badannya hanya sekitar 9,1 kilogram.

Sanaria, ibu Rezki mengaku kondisi kesehatan anaknya mulai menurun sejak lahir. Itu katanya, Rezki jarang menyusu ke ibunya. “Kalau menete hanya satu kali satu hari. Itu pun tidak tiap hari,” kata Sanaria di rumah sakit, baru-baru ini.

Yang membuat Rezki makin jarang menikmati air susu ibu dengan alasan Sanaria tengah hamil enam bulan.

Rezki merupakan putra bungsu dari empat bersaudara. Petugas rumah sakit yang menangani Rezki dan Mubazzira, Nir mengatakan, Rezki sudah tidak tergolong gizi buruk, melainkan hanya kekurangan gizi. “Kalau Mibazzirah memang termasuk gizi buruk,” ujarnya.

Nir juga mengatakan, sejak April ini tercatat sudah empat pasien gizi buruk yang dirawat di RSU Massenrempulu, sebelumnya bocah Nugra, 3 bulan dan Fira, 2 tahun juga dirawat di RSU Massenrempulu dengan kasus yang sama, gizi buruk. “Tapi keduanya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatannya terus membaik,” tambahnya. (k4)